
"Semakin hari kamu semakin lincah," bisik Nathan saat Dewi yang mengambil alih permainan. Wanita itu kini yang berada di atasnya. Menggerakan pinggul seolah mengikuti irama. Nathan menepuk pinggul itu berkali-kali.
Puas, sangat puas. "Dari mana kamu belajar, sayang?" tanya Nathan, pertanyaan itu membuat Dewi malu tak terkira. "Aku suka dengan permainanmu," bisiknya, mere*as kedua gunung itu yang menggantung di depan wajah. Sesekali ia memberi sesepan, hingga Dewi mempercepat pergerakannya karena gairah semakin berada di puncak.
"Aku sudah tidak kuat," ucap Dewi merasa pegal di bagian paha dan lutut. Dengan cepat, Nathan membalikkan posisi. Ia hampir mencampai puncaknya, dan ....
Tubuh itu mengerang dengan hebat. Memberikan kedutan di bawah sana, membanjiri ruang rahim itu semoga akan segera tumbuh benihnya yang sangat dinantikan oleh keluarga besar.
* * *
Nathan dan Dewi selesai dengan tugas 5 waktunya, ia selalu berdoa agar cepat dikaruniai keturunan. Dewi mencium punggung tangan suaminya, pria yang kini menjadi imamnya. Pria yang akan menjaga dan membahagiakannya.
"Tetaplah menjadi panutan, aku mencintaimu," ucap Dewi.
"Aku juga sangat mencintaimu, cepatlah tumbuh." Ujar Nathan sambil menyentuh perut istrinya.
__ADS_1
Malam itu, mereka menikmati acara makan malam di luar. Malam itu sangat indah, pemandangan kota membuat Dewi merasa betah. Ditambah lagi hidup bersama orang yang dicintainya. Makan malam yang sangat romantis.
Dengan lantunan musik yang ingin segera berdansa. Nathan beranjak dan mengulurkan tangan sambil berlutut. "Berdansa lah denganku," pinta Nathan.
"Aku tidak bisa dansa," ucap Dewi pelan karena takut ada yang mendengarnya.
"Ayolah ... Cukup lihat beberapa pasangan di sana." Tunjuk Nathan di sebrang meja.
Dewi menerima uluran tangan itu, ia menerima ajakan suaminya. "Beritahu aku jika aku salah," bisik Dewi, "ini pertama kalinya aku berdansa," sambungnya.
"Tenanglah, kita hanya dansa bebas." Nathan menenangkan istrinya. Mereka mulai menggerakan tubuh mengikuti alunan musik. Merapatkan tubuh, Nathan melingkarkan tangan di pinggang istrinya. Tangan yang satunya menautkan jemari mereka dan kening saling bersentuhan tatapan beradu dengan penuh cinta.
"Dari mana belajar romantis seperti ini, hmm?" Dewi mendongakkan wajah, menunggu jawaban suaminya.
"Dari dulu aku sudah romantis, kamunya saja yang tidak tau," jawab Nathan.
__ADS_1
"Kamu terlalu menyebalkan, aku benci kamu waktu itu," gerutu Dewi.
"Maafkan aku." Nathan mencium pucuk kepalanya. Dan mereka pun malah berpelukkan tak lagi berdansa. "Aku sangat mencintaimu, Wi. Maaf perlakuanku waktu dulu," sesalnya.
"Kalau aku tidak mau memaafkanmu bagaimana?" Pertanyaan Dewi membuat Nathan melepaskan pelukkannya.
"Aku akan melakukan apa pun supaya kamu memaafkanku, aku tau sikapku dulu keterlaluan padamu. Tapi aku sadar, semakin aku menjauh aku semakin mencintaimu dan tidak bisa jauh darimu. Aku takut kamu kecantol pria lain."
Dewi mengerutkan kening. "Kenapa bisa berpikir aku akan dengan laki-laki lain? Apa kamu selalu mencurigaiku?" Dewi menatapnya sebal.
"Jangan marah, aku terlalu takut kehilanganmu. Karena cuma bukan aku yang menginginkanmu, sainganku terlalu berat," jelas Nathan.
"Aku laper, dari tadi kamu ngoceh terus."
"Aku serius, Wi."
__ADS_1
"Iya, aku tau kamu mencintaiku. Sekarang kita makan biar ada tenaga untuk nanti," bisik Dewi.
Nathan tersenyum bahagia karena Dewi akan mengajaknya bertempur kembali. Tidak menyangka bahwa sang istri ternyata cukup agresif di atas ranjang. Semakin tergila-gila saja Nathan kepada istrinya.