
Aileen pergi hari itu juga, bahkan ia tak menemui wiliam sekali pun. Pikirannya sangat kalut, entah apa yang terjadi padanya.
Kini hanya Andra seorang diri, ia sempat akan menyuruh orang untuk mengantar istrinya. Tapi wanita itu menolak, dan ini sangat membingungkannya.
Roy yang hendak menemui bosnya itu berpapasan dengan Aileen. Wanita itu sangat terburu-buru, berjalan sambil menyeret koper. Wanita itu tak menoleh sedikit pun sampai Roy terheran-heran dibuatnya.
"Ada apa dengan wanita itu? Apa dia bertengkar dengan tuan Andra?" Penasaran akan kebenarannya, Roy langsung menemui bosnya tersebut. Ia sedikit berlari menuju kamar yang di tempati oleh Andra.
Belum Roy sampai, Andra sudah terlihat dari kejauhan. Pria itu berjalan berlawan arah dengannya.
"Tuan, saya barusan melihat Nona Aileen. Dia kenapa?" tanya Roy.
"Entahlah, Roy. Sepulang dari rumah sakit dia jadi aneh. Dia mau pulang, katanya mau istirahat."
"Sakit apa memangnya? Dokter mengatakan apa?"
"Tadi di rumah sakit aku bertemu dengan Nindya, jadi aku tidak tahu penjelasan Dokter tadi padanya. Apa dia marah gara-gara itu, Roy?"
Bisa jadi masalah besar kalau Aileen mengadu pada Wiliam. Andra semakin khawatir akan Nindya, bisa-bisa pria paruh baya itu membenci Nindya kalau Aileen mengatakan semuanya.
"Tenanglah, saya rasa bukan itu, Tuan."
"Lantas apa, Roy?"
Tapi, kepulangan wanita itu ada bagusnya bagi Andra. Ia bisa leluasa bersama istrinya di sana.
"Roy, aku akan menemui istriku. Jika Daddy menanyakan keberadaanku, bilang saja aku ada urusan."
"Untuk apa dikejar, Tuan. Biarkan saja Nona Aileen pergi."
Andra menghela napas dengan kasar, bukan Aileen yang ia maksud. "Aku bukan ingin menyusulnya, kurang kerjaan kalau aku menemuinya."
"Lantas?"
"Cepatlah punya kekasih agar otakmu bisa encer jika masalah wanita. Aku akan menemui Nindya."
Inilah kekurangan dari seorang, Roy. Otaknya akan berubah buntu jika membahas soal wanita. Dan kini ia mengerti apa yang akan dilakukan bosnya.
"Baiklah, saya akan menjaga rahasia ini. Cepat temui saja istri, Anda."
* * *
Nindya sedang istirahat di kamar, ia baru saja meminum obat dari dokter. Ibu Rahayu merasa kasihan melihat putrinya itu.
Belum lagi soal Bayu, pria itu selalu berada di rumahnya. Sewaktu ia dan Nindya pulang pun, Bayu mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Nak Bayu pulang saja, Nindya tidak bisa diganggu. Dia harus banyak istirahat," ucap Rahayu pada Bayu yang masih kekeh ingin menjaga Nindya.
"Gak apa-apa, Bu. Saya di sini saja, takut kalian membutuhkanku sewaktu-waktu."
"Ini anak ngeyel sekali," batin Rahayu.
Tak lama dari situ, Andra datang ke rumahnya. Ia tak bisa membiarkan Nindya sendirian tanpa dirinya.
"Bu, di mana Nindya?" tanya Andra sesampainya di sana. Lalu, ia melihat keberadaan Bayu.
"Di kamar, Tuan." Ibu Rahayu merasa tidak enak akan keberadaan Bayu di rumahnya.
Andra yang mendengar itu langsung saja menemui istrinya di kamar. Sementara Bayu, pria itu tak terima. Padahal ibu Rahayu mengatakan bahwa Nindya harus istirahat, tapi kenapa ketika majikannya datang langsung diperbolehkan menemui gadis itu.
"Bu, apa sebenarnya hubungan Nindya dengan majikannya?" Bayu begitu penasaran.
"Hanya atasan dan bawahan, tidak lebih," elak ibu Rahayu.
"Ibu tidak bohong 'kan?"
"Untuk apa Ibu bohong, Nindya begini karena kecelakaan di rumah tuan Andra. Mungkin hanya sekedar rasa tanggung jawab pada karyawannya, kamu jangan mengada-ngada dengan pikiranmu terhadap putri Ibu. Sebaiknya kamu pulang saja, jangan terlalu ikut campur keluarga Ibu!" Ibu Rahayu mendadak kesal pada Bayu, pria itu semakin cerewat.
Bayu seperti itu karena memiliki perasaan pada Nindya, niatnya baik. Ia hanya ingin melindungi gadis itu, tapi kenapa malah majikannya yang selalu ada didekatnya. Karena mendapat pengusiran dari si pemilik rumah, Bayu pun akhirnya pulang. Tapi ia bertemu si kembar di luar.
"Iya, Kak," jawab Nisa dan Panji bersamaan.
"Sini, Kakak mau tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Apa hubungan Kakak dengan tuan Andra?" Jiwa keingintahuan Bayu meronta-ronta, sampai ia mengintrogasi kedua adik Nindya.
Karena memang tidak tahu apa-apa, kedua bocah itu menggelengkan kepala sebagai jawaban. Bayu rasa informasi itu cukup baginya, mungkin memang tidak ada hubungan apa-apa selain batas karyawan.
* * *
Andra mengelus pipi istrinya yang sedang tertidur, mungkin pengaruh obat sampai Nindya tertidur begitu pulas. Lalu, Andra melihat kaki istrinya. Merah dan bengkak, ia jadi kasihan melihatnya. Andra mengusap kakinya dengan lembut.
"Ini semua gara-gara, Lee. Akan kuberi perhitungan nanti." Andra mengepalkan tangan karena marah. Setelah itu, ia pun menarik kursi yang ada di sudut kamar. Duduk di samping istrinya yang masih tidur, sampai tak terasa ia malah ikut tertidur sambil menggenggam tangan Nindya.
Beberapa saat, Nindya pun terjaga dari tidurnya. Ia tak tahu akan keberadaan suaminya, ketika ia akan terbangun dari posisinya, ia merasa tangannya susah untuk digerakan. Pada akhirnya ia melihat seorang pria yang tengah menjaganya sampai tertidur.
Gadis itu mengukir sebuah senyuman di bibirnya, lambat laun senyum itu pun hilang kala ia teringat akan kejadian tadi di rumah sakit. Egois memang jika ia tak ingin suaminya berkata hanya sebagai karyawan, tapi itu terasa sakit baginya.
Nindya menarik tangannya yang tergenggam oleh suaminya, dan Andra langsung terbangun saat itu juga.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah bangun?" tannyanya.
"Hmm, kenapa Tuan ada di sini?"
"Berhentilah menyebutku, Tuan. Kita hanya berdua di sini, kamu itu istriku dan aku suamimu." Andra merasa risih dengan sebutan nama tuan, tak bisakah sedikit mesra? Nindya itu polos atau apa? Susah sekali mengucapkan kata sayang atau panggilan spesial untuknya.
"Ada Nona Aileen di sini, kenapa Tu--," ucapan Nindya terputus karena Andra membungkamnya dengan bibirnya.
Nindya membelalakkan matanya karena terkejut mendapat serangan tiba-tiba. Tak lama, Andra melepaskan ciumannya.
"Berhenti menyebutku Tuan, kata itu tidak berlaku jika kita sedang berdua."
Nindya merasa canggung harus menyebut nama lain, apa lagi panggilan sayang untuk pria ini. Dua tahun ia memanggil kata itu, tentu tak mudah baginya merubah nama panggilan.
"Aku belum terbiasa, beri aku waktu," kata Nindya.
"Baiklah, tapi mulai sekarang cobalah menyebutku dengan nama lain. Kamu bisa panggil aku, sayang, honey, hubby. Atau apalah asal jangan Tuan."
Nindya mengangguk, ia mengerti apa yang diinginkan suaminya. Ia akan mencoba memanggilnya dengan sebutan lain.
"Apa itu masih sakit?" tanya Andra mengenai kaki-nya Nindya.
"Tidak terlalu, 'kan sudah minum obat."
"Oh iya, aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan Bayu. Setelah urusanku selesai dan menunggu kaki-mu sembuh, kita kembali ke kota. Aku ingin segera menyelesaikan urusanku dengan Aileen."
"Apa semudah yang dibayangkan? Pernikahanmu itu sah secara hukum dan agama, Nona Aileen pasti menolak untuk bercerai. Tidak seperti pernikahan kita yang hanya di atas kertas," lirih Nindya.
"Siapa bilang pernikahan kita di atas kertas? Penikahan kita sah secara hukum dan agama."
Nindya terdiam mendengar penuturan suaminya, apa benar pernikahannya itu resmi?
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak mungkin mengabaikan pernikahan ini, Nindya!"
"Harus aku percaya?" selidik Nindya.
"Ya harus, dong." Andra pun memeluk istrinya itu.
Ibu Rahayu pun melihat kemesraan mereka, ia mengukir senyum di ambang pintu.
...----------------...
Mampir di sini yuk sebelum nunggu aku up.
__ADS_1