
Nana dan Adam masih ternyenyak dari tidurnya, tak lama, Akhsa lebih dulu terbangun karena merasa ini sudah pagi. Saat terbangun dan membuka matanya, ia terlihat sangat bahagia. Dapat tidur bersama orang-orang yang menyayanginya. Ia tidur berada di tengah-tengah.
Akhsa meraih tangan sang papa juga sang mama. Lalu menyatukan kedua tangan itu. Ia berharap orang tuanya dapat bersama-sama selamanya. Meski dalam hati bertanya, kenapa mama kandungnya tak berada di sini bersamanya? Wanita itu malah merelakan kepergiannya bersama sang papa untuk ikut menjemput ibu sambungnya.
Merasa tangannya ada yang menyentuh, Adam dan Nana pun membuka mata, lalu melihat ke arah Akhsa. Keduanya tersenyum karena melihat Akhsa pun tersenyum kepada mereka.
"Ginikan aku jadi seneng," ucap Akhsa.
"Bukan cuma kamu, Papa juga seneng ada Mama di sini bersama kita," tutur Adam, "kamu seneng juga 'kan kita bisa berkumpul kembali?" tanya Adam pada Nana.
Nana tersenyum tipis, ia belum bisa untuk menjawab karena belum bertemu dengan Aileen. Sesama wanita, tentu ia dapat merasakan hal yang sama. Meski wanita itu tidak mengingat semua tentangnya bersama sang suami, tapi ia yakin kalau wanita itu pasti sakit akan hatinya. Terlebih, saat Akhsa tak bisa merasa nyaman bersamanya.
Keduanya memeluk Akhsa, hingga Akhsa meminta terlepas karena ingin buang air kecil.
"Aku mau pipis," kata Akhsa.
"Ayok, Papa antar."
"Tidak usah, aku bisa sendiri." Akhsa pun turun dari tempat tidur. Tinggal menyisakan Nana dan Adam di sana. Merasa ada kesempatan, Adam langsung mendekat. Ia merapatkan tubuhnya dengan sang istri, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Nana. Hingga wajah Nana bersemu merah karena Adam tak melepaskan pandangannya.
Nana tidak percaya diri saat ditatap dalam keadaan bangun tidur, takut menyisakan sesuatu di sudut bibir.
"Aka bahagia saat kamu kembali dalam pelukkanku." Ucap Adam sambil menelusupkan wajah di leher jenjang istrinya. Bibir Nana pun melengkung mengulas senyum, tak dapat dipungkiri ia pun bahagia bisa mencium aroma tubuh suaminya. Ini yang selalu dirindukan ibu hamil itu.
"Kamu diam saja, gak seneng kita bisa bersama-sama lagi?" tanya Adam tanpa melepaskan pelukkannya.
Saat Nana akan menjawab, Akhsa sudah kembali menemui mereka dan ia melihat orang tuanya sudah baikkan. Akhsa ikut senang melihatnya. Karena tak ingin mengganggu kebersamaan orang tuanya, Akhsa memilih untuk menyalakan TV lalu menonton film kesayangannya.
__ADS_1
💞
Adam melancarkan aksinya, ia mengendus-endus leher istrinya yang menurutnya ada aroma yang membuatnya semakin menggilainya.
"Hentikan, geli," kata Nana, "nanti Akhsa melihat," sambungnya lagi.
Adam menghentikannya, ia baru menyadari sejak tadi anaknya masih belum kembali. "Aku coba liat dulu." Adam beranjak dari posisinya dan segera mencari anaknya, yang ia perkirakan kalau Akhsa pasti sudah selelai dari kamar mandinya. Belum Adam masuk ke kamar mandi, ia mendengar suara tv.
"Akhsa?" panggil Adam. Tapi Akhsa tak menyaut, karena tak kunjung menjawab, ia pun mendekatinya. "Tidur lagi," ucapnya. Tapi ini kesempatan baginya untuk melancarkan aksinya yang sempat tertunda. Karena penjaga yang membuatnya takut akan ketahuan ternyata sedang tidur, siapa lagi kalau bukan Akhsa.
Adam kembali masuk ke kamar, kesempatan ini tidak boleh disia-siakan. Ini cara ampuh membuat Nana kembali menyayanginya. Setibanya di sana, ia melihat Nana sudah duduk sambil memainkan ponselnya. Adam mengambil ponsel itu lalu mematikannya dan meletakkannya begitu saja di kasur.
"Mas," kesal Nana saat ponselnya diambil, "Akhsa mana?"
"Tidur, ada di sofa. Niatnya mungkin menonton tv," jawabnya sambil merebahkan kepala di paha istrinya. Reflek, Nana mengusap rambut suaminya. Dan Adam langsung menangkap tangan itu lalu menciumnya beberapa kali.
Adam beranjak, duduk sambil menghadap istrinya. Tatapan mereka kembali bertemu, lama mereka saling menatap satu sama lain. Tanpa mereka sadari akhirnya kedua bibir sudah saling bersentuhan. Rasa sakit di kaki kian tak terasa.
"Aduh, kaki-ku," pekik Nana karena tersenggol oleh kaki suaminya. Adam berada di atas tubuh Nana.
"Maaf, Mas lupa. Tapi tidak apa-apa 'kan?" Tanyanya seraya melihat ke arah kaki Nana.
"Sakit sedikit saja," jawab Nana.
"Maafkan aku, jangan marah." Adam takut jika wanitanya semakin marah padanya.
"Tidak, makanya jangan dekat-dekat."
__ADS_1
"Tapi ada yang kangen, sudah lama loh kita tidak-." Ucapan Adam menggantung karena Nana membungkamnya dengan sebuah kecupan. Adam langsung tersenyum saat mendapatan serangan tiba-tiba.
Tanpa permisi, Adam kembali menciumnya, dan kali ini begitu dalam, dan semakin dalam. "Mumpung Akhsa masih tidur, aku mau menjenguk calon dede bayi."
Nana memukul dada bidang suaminya, Adam bisa saja membuat Nana tersenyum. Suaminya malah semakin mesum, bahkan tangannya sudah berkeliaran kemana-mana. Tangan itu merayap ke area punggung untuk membuka pengait bra yang digunakan Nana. Tidak membutuhkan waktu lama baginya, seketika ia bisa menguasai bukit kembar itu. Merabanya dan memainkan put*ng yang sudah mulai mengeras.
Ada kep*asan sendiri saat ia melakukannya. Nana pun terbuai nikmat. Adam bagaikan anak kucing yang tengah menyusu. Ia semakin senang saat gunung kembar itu sudah mulai membesar dan terasa sangat kencang. Mungkin karena hamil perubahan itu terjadi.
Entah sejak kapan mereka sudah berada di dalam gulungan selimut. Adam begitu memanjakan Nana, bumil itu terus dibuat nikmat akan buaian cinta suaminya. Lemas tak berdaya seketika dirasakan oleh Nana.
"Mas," lenguh Nana saat ia mencapai puncaknya beberapa kali. Napas Nana tersengal, ia sangat bahagia hari ini.
Kini gilaran Adam, setelah napas istrinya mulai teratur, ia langsung naik ke atas tubuh Nana. Ia mulai membenamkan senjatanya dengan secara perlahan namun pasti. Hingga akhirnya sudah terbenam sempurna.
"Sayang, semakin sempit saja. Mas suka." Ucapnya sambil mendorong maju mundur pinggulnya. Kenikmatan yang hakiki seakan tidak ingin berlalu begitu saja. Namun ia tak dapat menahan karena Nana memang begitu nikmat, bahkan tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
"Mendesahlah, sebentar lagi keluar." Adam mempercepat tempo ritem-nya. Hingga akhirnya, ia mengerang dan berdenyut di bawah sana.
Ini memang sangat nikmat, seakan ia ingin mengulangnya kembali. Tapi sayang, ia tak tega melakukannya lagi karena teringat kaki Nana yang masih terluka.
"Terima kasih sudah memberikan kesempatan padaku untuk menjagamu juga calon anak kita. Lega rasanya jika sudah menjenguk calon bayi kita." Adam mencium kening istrinya sebelum menarik diri dari tubuh Nana.
"Mas, antarkan aku ke kamar mandi. Aku takut Akhsa keburi bangun."
"Iya, aku akan memandikanmu. Kamu tidak akan bisa mandi sendiri, 'kan kaki-nya masih sakit."
"Janji ya, cuma mandi," ancam Nana.
__ADS_1
"Iya, sayang. Janji kita cuma mandi, aku juga takut Akhsa melihat kita."
Adam membawa Nana ke kamar mandi dengan cara menggendongnya.