Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 152 Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya


__ADS_3

Hari ini, di mana keluarga Andra kembali ke ibu kota. Sesuai janji, Nindya mengajak Dewi tinggal bersamanya setelah lulus sekolah. Dewi akan meneruskan pendidikkannya di kota metropolitan itu bersama Dewa.


"Bu, aku pasti merindukanmu. Aku akan sering-sering ke sini jika libur kuliah." Dewi memeluk Rahayu, ibu yang ia anggap sebagai pengganti Hanum. Wanita yang sudah membesarkannya tanpa mengenal kata lelah. Meski hidupnya jadi gunjingan banyak orang, Rahayu tetap menyayanginya bahkan sering mengajaknya pergi walau hanya sekedar pergi ke pasar atau ke mal.


Rahayu selalu melindunginya, maka dari itu, Dewi begitu merasa berat saat akan meninggalkannya. Dewi menangis sesegukkan, menangis dalam pelukan Rahayu. Dan wanita itu mengusap lembut punggung Dewi.


"Sudah, jangan menangis lagi. Kalau Ibu rindu, Ibu juga pasti menemui nanti. Baik-baik sama Mommy Dewa ya?" ucap Rahayu sambil melepaskan pelukkannya.


Dewi mengangguk, lalu mengusap pipi Rahayu yang basah karena ia pun ikut menangis.


"Ayok, berangkat sekarang?" ajak Andra.


Dewi menoleh ke arah Andra sambil tersenyum tipis dan mengangguk. Lalu, Dewa membantu Dewi membawakan tas besar miliknya untuk dimasukkan ke dalam mobil.


"Wi, kamu satu mobil sama Kak, Nathan ya? Biar aku sama Mommy," pinta Nala.


"Tidak, 'kan kamu yang bawa mobil ke sini. Kamu saja yang nyetir, sekalian satu mobil sama dia," sahut Nathan yang baru saja tiba menghampiri.


"Ish ...," desis Nala, "aku malas nyetir. Nih kamu saja yang bawa mobilnya." Ucapnya sembari melemparkan kunci mobil miliknya pada Nathan.


Mau tak mau, Nathan menerima kuncinya ia menyangganya dengan kedua tangannyanya. Tapi ia tetap menolak satu mobil bersama Dewi. "Dewa, kamu saja bareng Kakak, biar dia sama Mommy." Kata Nathan pada Dewa sambil menunjuk Dewi menggunakan wajahnya.


"Tidak!" tolak Dewa, "satu mobil sama Kakak bikin BT, kek gak ada kehidupan," celetuk Dewa apa adanya. Dewa tidak betah karena Nathan dingin, dia terlalu serius sehingga tidak ada kehangatan. Setelah mengatakan itu, ia langsung menyusul kedua orang tuanya yang lebih dulu sudah berada di dalam mobil.


Nathan menghela napas, akhirnya ia satu mobil bersama Dewi.

__ADS_1


"Ayok," ajak Nathan pada Dewi, namun tetap dengan nada dingin.


Dewi mengerucutkan bibirnya, ia merasa seperti bola lempar sana sini. Dewi sudah duduk di samping kemudi bersama Nathan, mobil itu mulai melaju karena mobil yang ditumpangi Nala dan Dewa sudah lebih dulu pergi. Benar apa kata Dewa, di dalam mobil begitu sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya deruman mobil yang terdengar, dan itu pun sedikit senyap karena mobil itu sangatlah bagus.


Bosan, Dewi sedikit bersenandung menghilangkan kejenuhan. Baru saja beberapa detik ia bersuara, Nathan sudah langsung menoleh kearahnya. Dewi langsung membungkam mulutnya rapat-rapat karena tatapan mata Nathan begitu mengintimidasi.


Tidak ada yang bisa dilakukan olehnya, Dewi pun akhirnya membuang muka ke arah jendela. Ia menatap jalan sekitar, perjalanan mulai jauh dari pekalangan. Dan ini sudah mulai masuk jalan keramaian, masuk perkotaan dan sebentar lagi sampai jalan tol. Perasaan Dewi semakin bosan, dan kantuk mulai menyerang. Ia terus menguap dan Nathan sesekali melirik ke arahnya tanpa di sadari olehnya sendiri.


Akhirnya, Dewi tertidur. Dan Nathan fokus pada kendaraannya. Akhirnya, mobil keluar dari jalur tol. Tangki bensin sudah kedap-kedip, Nathan mampir di POM untuk mengisi bahan bakar. Sampai itu selesai, Dewi baru menyadari bahwa ia ketiduran di dalam mobil.


"Kita sudah sampai, Kak?" tanya Dewi.


"Sebentar lagi," jawab Nathan.


"Maaf, aku ketiduran," ucap Dewi.


Dewi turun dari mobil, di sana terlihat Dewa dan Nala sudah menunggu kedatangannya.


"Ayok masuk," ajak Dewa, "aku tunjukkan kamarmu." pria itu menarik tangan Dewi. Nathan hanya memperhatikan keduanya, lalu ia pun menyusul ke dalam rumah.


"Sepertinya Dewa suka sama Dewi ya?" tanya Nala pada Nathan.


Mendengar pertanyaan Nala membuat Nathan menghentikan langkahnya, dan membalikan tubuhnya untuk menghadap ke arah adiknya itu. Tatapan itu terlihat seperti biasa, dingin dan tanpa ekspresi.


"Bisa-bisa kamu keduluan sama Dewa dalam pasangan," kata Nala lagi.

__ADS_1


"Dewa bukan suka, Dewinya saja yang gampangan nemplok sana nemplok sini," cetusnya tidak suka. Semalam, ia ingat betul kalau Panji seperti menyukai Dewi, dan sekarang Dewa. Adiknya begitu antusias saat Dewi sampai di rumahnya.


"Apa maksudmu bicara seperti itu? Kamu cemburu saat Dewi banyak yang mendekati? Apa jangan-jangan kamu juga suka sama dia ya? Kalau suka, berarti saingan pertamamu om Panji." Nala tahu kalau om-nya menyukai Dewi, karena takut Dewi jauh darinya karena perasaannya Panji lebih memilih memendam perasaannya.


"Dewi banyak yang suka, bukan cuma cantik dia juga pintar," jelas Nala.


"Aku tidak suka wanita sepertinya, dia hanya mencari simpatik dari banyak pria. Sepertinya buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya," ucap Nathan mengenai Dewi yang perkataannya bisa membandingkan wanita itu dengan ibunya.


Rasa simpatik Nathan hilang saat Dewi banyak yang mendekati, Nathan lupa akan satu hal tentang gadis yang masih polos itu. Apa semua salah Dewi jika banyak pria yang menyukainya? Dewi terlahir menjadi gadis yang sangat cantik, tapi sayangnya gosip ibunya yang menjadi wanita hina berimbas kepadanya.


Percakapan antara Nathan dan Nala ternyata di dengar oleh Dewi sendiri. Dewi juga mendengar sangat jelas bahwa Nathan secara tidak langsung menyakan dirinya seperti ibunya. Pindah ke rumah ini, ia pikir tidak akan ada lagi yang mengatai kejelasannya yang tak memiliki seorang ayah.


Saat itu juga, Dewi menitikkan air matanya. Ucapan Nathan ternyata melukai hatinya.


Nala menyadari keberadaan Dewi di sana, ia harap gadis itu tak mendengar apa yang di bicarakan oleh saudara kembarnya itu. Ia juga heran, kenapa sikap Nathan jadi seperti ini pada Dewi? Pas Nathan akan melanjutkan langkahnya, ia melihat Dewi sekilas lalu berlalu begitu saja.


Dada Dewi terasa sesak, ia tak menyangka kalau Nathan akan berkesimpulan bahwa ia sama seperti mendiang ibunya. Lama ia berdiri di sana, hingga tak lama Nala pun menghampirinya.


"Wi, kamu gak apa-apa?" tanya Nala.


"Tidak, Kak. Aku baik-baik saja, aku sudah terbiasa dengan ini," jawab Dewi tentang perasaannya, "buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya, aku akan selamanya terlihat hina," lirih Dewi.


"Maafkan Nathan, sepertinya dia cem-," ucap Nala menggantung.


"Aku tidak apa-apa, Kak. Kakak jangan hiraukan aku, aku baik-baik saja," pungkas Dewi.

__ADS_1


"Rupanya kamu di sini, Mommy mencarimu," kata Nindya pada Nala, "Dewi, kamu kenapa? Kok matanya merah?" tanyanya pada Dewi saat melihat mata Dewi.


"Tidak apa-apa, Kak Nala tadi cerita film yang sedih jadi aku ikut baper, iyakan Kak?" Dewi mengedipkan mata ke arah Nala agar menutupi apa yang terjadi barusan, ia tak ingin kehadirannya malah membuat kekacauan antara Nathan dengan ibunya


__ADS_2