
Setelah beberapa jam kemudian, dan akhirnya sang bayi lahir dengan selamat. Lahir prematur dengan cara melalui sesar. Bayi langsung dipindahkan ke ruang bayi, sedangkan Aileen masih dalam tahap perawatan khusus. Ia belum sadar akibat persalinan itu.
Adam panik karena Aileen jatuh pingsan setelah selesai operasi. Wanita itu kini dipindahkan ke ruang ICU. Adam terus saja mondar-mandir di depan pintu ruangan itu, hingga beberapa jam kemudian. Pria botak bertubuh besar serta jaket kulit yang melengkapi penampilanya datang menghampirinya. Bahkan lebih dari satu, pria menyeramkan itu dengan cepat menghampirinya.
Keberadaan Adam terendus oleh anak buah Morano, bahkan pria arogan itu tengah dalam perjalanan menuju Indonesia setelah tahu putrinya dilarikan ke rumah sakit.
Bugh, bugh, bugh ...
Beberapa bogeman mentah mendarat tepat di perut dan wajah Adam, pria itu langsung tersungkur karena mendapatkan serangan secara tiba-tiba. Ia tak bisa melawan karena orang yang memuk*linya tak sebanding dengannya. Rumah sakit langsung ricuh akibat kedatangan beberapa pria itu, bahkan security tidak berani menghampiri lebih dekat. Karena anak buah Morano membawa senaj*ta.
"Jangan ikut campur, kalau tidak benda ini akan menghab*simu sekarang juga." Pria botak itu mengacungkan benda yang bisa saja melenyapkan nyawanya dalam beberapa detik saja.
Security hanya membantu Adam berdiri, dan ketika Adam mau melawan pria botak itu langsung dicegah oleh pengaman di sana.
"Tuan, sebaiknya kita pergi. Jangan memancing keributan di sini, mereka bukan tandingan kita." Ujar security sambil menarik tubuh Adam.
"Di dalam sana itu ada istriku, dan aku harus tetap berada di sini untuk menjaganya." Adam memberontak, tapi pengaman yang satunya lagi datang, membantu temannya menyeret Adam.
Adam berhasil menjauh dari pria botak itu. Tak berselang lama, Morano datang, dan Adam melihatnya. Ia langsung saja bersembunyi di balik dinding. Yang ada dalam benaknya sekarang adalah bayinya yang berada di ruangan berbeda. Ia takut Morano lebih dulu mendatangi ruangan bayi tersebut.
Adam berlari sekuat mungkin, Morano pasti mencoba memisahkannya dengan istrinya. Tidak ingin terlambat, Adam masuk ke ruangan bayi itu untuk mengamankan anaknya.
"Tuan, Tuan mau apa ke sini? Ruangan ini tidak bisa sembarangan orang masuk," tutur suster, "Tuan mau apa?" tanyanya lagi.
Adam tak menggubris, ia tetap mencari buah hatinya di sana, beruntung, selagi tadi dipindahkan ia sempat melihat selimut bayi yang membungkus anaknya. Bayi berjenis kelamin laki-laki yang bernama Raksha itu langsung digendong olehnya tanpa melihat tag nama terlebih dahulu. Ia sudah yakin kalau yang ambil itu adalah darah dagingnya.
"Tolong, tolong ... Ada penc*likan bayi," perawat berteriak histeris. Perawat itu tidak tahu kalau yang mengambil bayi adalah ayah kandungnya karena suster sudah bergantian menjaga.
Terdengar suara ricuh, para pengawal yang ditugaskan Morano datang. Mereka mengintrogasi perawat itu.
"Kemana penculik itu larinya?" tanya pria botak pada suster.
__ADS_1
"Ke sana." Tunjuk suster ke arah belakang.
Para pengawal langsung berpencar.
"Kamu ke sana." Tunjuknya, "dan aku akan ke sana." Mereka mengambil jalan masing-masing.
.
.
"Roy ... Ayo cepat angkat teleponnya?" Adam terus menghubungi Roy, ia meminta bantuan pada temannya itu. Adam bersembunyi di balik pohon besar yang berada di belakang rumah sakit.
Tubuhnya bergetar, dan kaki terasa lemas. Pikiran dan tubuhnya tidak sinkron, Aileen yang menajdi kekhawatirannya. Meski Morano tidak akan mencelakai putrinya tapi ia takut kalau istrinya di bawa.
Adam melihat ke arah anaknya, meski keadaa gelap, tapi ia masih bisa melihat wajah mungil itu. Ia mendekapnya seolah memberi kehangatan. Tidak ingin anaknya kedinginan, ia membuka jas yang dikenakannya.
"Bertahanlah, sayang. Papa terpaksa membawamu, Papa tidak mau berpisah denganmu." Adam menciumi wajah kecil yang masih merah itu, Raksha harus dalam penangan khusus karena ia lahir prematur.
"Ya, Tuhan. Tolong selamatkan kami," ucap Adam
* * *
Ponselnya terus berdering, karena berisik mau tak mau Roy mengangkatnya.
"Lama sekali angkat telepon dariku!" Adam kesal pada Roy.
"Ada apa? Ganggu saja!" cetus Roy.
Dor ... Dor ... Dor ...
Anak buah Morano melayangkan beberapa kali tembakan, ia memancing Adam agar keluar dari persembunyiannya. Tubuh Adam semakin bergetar, mungkin kakinya sudah terasa lemas. Ia sedang dalam bahaya, ini kali pertama dalam hidupnya, mendengar suara tembakan secara langsung.
__ADS_1
Suara t*mbakan itu terdengar dari ponselnya, Roy terkejut saat mendengarnya.
"Ada apa ini? Kamu di mana?" Roy langsung khawatir karena keberadaan Adam memang dalam keadaan bahaya setelah ia berhasil membawa kabur Aileen.
"Tolong aku, Roy. Aku di rumah sakit, jemput aku sekarang, cepat!" pinta Adam dengan nada ngos-ngoan.
"Ok, aku datang sekarang." Tidak mau terjadi sesuatu pada Adam, ia langsung saja keluar dari kamar. Ia tak banyak bertanya kenapa pria itu berada di rumah sakit di tengah malam seperti ini. Lebih tepatnya di jam 02.35 WIB.
[Kirim titik lokasimu.] Roy memberi pesan pada Adam. Tak lama, pesan itu dibalas oleh Adam.
Setelah tahu keberadaannya, Roy lebih mempercepat kendaraannya. Ia mengambil jalan tikus sehingga ia muncul dari arah belakang rumah sakit.
"Sial, sepertinya rumah sakit sudah dikepung." Roy melihat beberapa pria bertubuh besar itu bergentayangan di tengah jalan belakang rumah sakit. Roy kembali memberi pesan, ia sengaja tak menelepon karena takut keberadaan Adam diketahui oleh mereka.
[Aku sudah ada di belakang rumah sakit, kamu ke sini. Tapi hati-hati, mereka ada di sini] pesan Roy.
Pesan centang satu, menandakan bahwa ponsel Adam dalam keadaan tidak aktif. Ia tak dapat berkomikasi dengan Adam kalau begini caranya. Raut wajah Roy begitu khawatir.
* * *
"Kenapa harus mati sih!" rutuk Adam saat ponselnya mati seketika, "ponsel tidak berguna." Adam membanting ponselnya karena kesal.
Tak ada pilihan lain, ia celingak-celinguk mencari sosok tubuh besar itu. "Aku harus bisa keluar dari sini." Ia tak bisa lama-lama dengan keberadaannya, ia takut sang buah hati malah tersiksa dalam keadaan seperti ini. Ia nekat, tak peduli bertemu dengan pria botak itu.
"1, 2, 3." Adam langsung berlari ke arah jalan belakang rumah sakit. Pandangannya tertuju pada sebuah mobil berwarna putih, yang ia yakini bahwa itu mobil milik Roy.
Roy pun melihat ke arah pria yang tengah berlari ke arahnya.
"Adam bawa apa itu?" Dari kejauhan, pria itu terlihat membawa sesuatu. Lalu, ia juga melihat pria bertubuh besar itu. Bahkan mengacungkan sebuah benda ke arah Adam.
Dooorrrr ....
__ADS_1
...----------------...
Part yang menegangkan, ayo siapa itu yang tert*mbak.😱😱😱