
"Begini caramu melamarku? Asal nyosor tanpa permisi," cetus Dewi, "lepaskan aku." Dewi berontak.
Bukannya terlepas, Nathan malah semakin memeluknya erat. Ia tak akan membiarkan siapa pun mendahuluinya. Jika Akhsa mengambil star duluan, ia pun bisa melakukannya. Persaingan itu harus semakin diperjuangkan, ia tak boleh memberi celah sedikit pun kepada lawannya.
"Kak ... Nanti ada yang melihat kita di sini, aku tidak mau mereka menduga-duga tentang kita." Dewi kembali melepaskan lingkaran tangan yang mencengkramnya dengan sangat erat di pinggang.
"Aku akan melepaskanmu, tapi jawab dulu. Kamu mau 'kan jadi istriku?"
"Bagaimana dengan kuliahku? Aku tidak mau berhenti kuliah, aku mau menggapai cita-citaku." Jawab Dewi yang masih belum terlepas dari pelukan pria itu.
Nathan melepaskan pelukannya, tapi tangannya masih berada di pinggang gadis itu. Ia melihat wajah yang tertunduk, lalu tangannya menangkup kedua pipi gadis itu. "Lihat aku, setelah menikah, kamu masih tetap bisa kuliah."
"Tapi kita masih muda, waktu kita masih banyak. Kenapa harus terburu-buru?" tanya Dewi.
"Karena aku tidak mau keduluan orang lain."
"Cinta itu bukan seperti lomba, siapa cepat dia dapat. Aku juga bukan barang, jadi Kakak jangan takut aku dibeli orang lebih dulu. Menikah itu satu kali dalam seumur hidupku, cinta sampai maut misahkan kita. Hubungan yang terjalin karena cinta pasti akan kuat."
__ADS_1
Mendengar penuturan Dewi, Nathan melepaskan tubuh itu secara perlahan. "Tapi aku masih ragu denganmu, apa kamu menerimaku atau tidak? Aku mencintaimu, Wi. Dari sejak kamu masih SMP." Akhirnya, Nathan mengakui sejak kapan ia menyukai gadis itu.
Dewi tidak percaya dengan ucapan lelaki yang ada di hadapannya. Semua penghinaan yang terlontar sejak ia masih duduk di bangku menengah. Lalu, apa itu yang dikatakan cinta? Berawal dari menyakiti 'kah? Pikirnya.
"Bahkan kamu belum menjawab pertanyaanku dari kemarin," lirih Nathan malingkan muka.
"Apa belum cukup bukti dengan kejadian tadi malam? Ini yang pertama kali di sentuh oleh laki-laki, dan lelaki itu hanya Kakak." Terang Dewi sambil menyentuh bibirnya yang masih merah.
Nathan memicingkan mata pada benda kenyal itu, ia baru menyadari akan kemerahan pada bibir itu. Ia berjalan ke arah Dewi, menyentuh bibir itu dengan ibu jari tanpa permisi. Bibir mungil sedikit bergelombang, bibir yang menjadikannya candu.
"Aku harus apa, agar Kakak percaya bahwa aku juga menyukaimu?"
"Aku juga menyukaimu," jelas Dewi.
"Aku akan melamarmu hari ini juga, aku akan katakan kepada orang tuaku, bahwa aku sangat serius. Tidak ada salahnya menikah muda, banyak yang menikah muda, dan mereka bahagia dengan rumah tangganya."
Dewi seperti salah langkah, ucapannya menyatakan cinta ternyata malah membuat lelaki itu tak berpikir lagi soal mengajaknya menikah. Nathan memantapkan hati, ia meraih tangan Dewi, membuka kunci pintu lalu keluar. Mengunjungi ruang makan yang memang semua sudah berkumpul di sana.
__ADS_1
Jantung Dewi serasa mau copot, ia akan dilamar hari ini juga. Bagaimana ini? Tidak ada yang bisa menghentikan langkahnya karena pria itu terus mengajaknya berjalan.
"Kak ...?" panggil Dewi.
Akhirnya, pas baru sampai di ambang pintu menuju ruang makan mereka berhenti. Nathan mengerutkan kedua alis hampir menyatu, melihat mimik wajah Dewi yang seperti tidak biasanya. Gadis itu gugup tak terkira. Seakan meminta belas kasihan, padahal, Nathan hanya akan melamarnya. Bukan akan menyiksanya.
"Ada apa?" tanya Nathan, "semua sudah kumpul di meja makan, ayo kita segera ke sana? Aku sudah tidak sabar menyampaikan kabar baik ini," tuturnya.
"Kabar baik apa?" Suara itu mengalihkan Nathan dan Dewi.
...----------------...
Mampir lagi yuk di karya temanku, tapi sebelumnya jangan lupa tinggalkan jejak di karya ku. Sebelumnya terima kasih sudah mampir di sini dan meluangkan waktunya🙏🙏
Judul : Zafrina Mendadak Nikah
By : Emmarisma
__ADS_1