
Setelah beberapa hari di rumah orang tuanya, kini Nindya juga suaminya kembali ke kota. Mereka kembali karena dihubungi oleh Adam, istrinya yang akan melahirkan. Kantor tidak ada yang memantau, maka dari itu ia menyuruh Roy segera kembali.
Sesampainya di kota, Andra mengantarkan anak-anak terlebih dulu karena ia dan istrinya harus ke rumah sakit untuk menjenguk Nana yang sudah melahirkan. Nana melahirkan seorang putri yang sangat cantik yang diberi nama, Nadine.
Kini Nindya dan suaminya sudah sampai di rumah sakit, ia langsung menuju ruang bersalin. Nana melahirkan dengan normal, dan hari ini pun ia sudah diperolehkan pulang.
"Selamat ya, Na. Putrimu cantik," puji Nindya. Lengkap sudah kebahagiaan mereka, mereka semua sudah memiliki momongan. "Akhsa seneng gak? Sekarang sudah punya adik?" tanya Nindya pada bocah itu.
"Seneng, Aunty. Sekarang bukan cuma Nathan yang punya adik, aku juga sekarang punya," jawab Akhsa.
"Jaga adik bayi-nya ya? Akhsa harus jadi Kakak yang bertanggung jawab," timpal Andra.
"Iya, Uncle. Aku pasti menjaganya," jawab Akhsa mantap.
Karena memang sudah diperbolehkan pulang, Nana pun meminta pulang sekarang. Ia tak betah lama-lama berada di rumah sakit, apa lagi dengan aroma obat-obatan yang mengganggu indra penciumannya.
"Na, maaf ya, aku tidak bisa ikut mengantarmu pulang ke rumah. Aku tidak bisa meninggalkan Dewa lama-lama," kata Nindya.
"Iya, tidak apa-apa. Kamu datang saja aku sudah senang," ucap Nana.
"Masih ada aku yang akan mengantarmu," sahut Elena.
"Kamu tidak sibuk memangnya?" tanya Roy sang suami.
"Tidak, jadwalku tadi pagi. Dan sekarang jam kerjaku sudah selesai, jadi aku bisa ikut mengantarkan mereka pulang," jelas Elena.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya berpisah di depan rumah sakit menuju tujuan masing-masing. Andra menyetir sendiri karena Roy pergi ke rumah Adam bersama Elena.
* * *
18 tahun kemudian.
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa hari-hari yang dilalui keluarga Halim tentu tidaklah mudah. Kehadiran Dewi membuat warga yang tak menyukai Hanum kini berdampak pada putri kecilnya. Anak yang tak berdosa dan tak tahu apa-apa kini menjadi bahan perbincangan warga di sekitar.
Menyandang status anak haram membuat keluarga Halim sangat terpukul, meski begitu mereka tak peduli. Dewi bukan anak haram, dia hanya terlahir tanpa adanya seorang ayah di sisinya saat itu.
Tanpa terasa, seiring berjalannya waktu kini Dewi beranjak menjadi anak yang sangat cantik. Kini usianya sudah menginjak remaja, dimana kini di rumah Rahayu sekarang tengah mengadakan acara yang sangat dinantikan oleh Nisa.
Nisa dan Panji sudah dewasa, Panji didahului menikah oleh sang adik. Nisa sendiri menikah dengan kakak kelasnya, menjalin hubungan selama 5 tahun akhirnya mereka putuskan untuk menikah. Di tengah keramain, Dewi yang paling mencolok. Gadis itu selalu ceria meski dibalik keceriaan itu tersimpan rasa sakit yang amat dalam.
"Wi, sedang apa?" tanya Rahayu, ibu yang menjadi tempat berlindungnya kini sudah semakin menua.
"Lagi buat minum, Bu," jawab Dewi.
"Kan di depan banyak minuman yang sudah terhidang, kenapa mesti bikin lagi? Untuk siapa memangnya?" tanya Rahayu penasaran.
"Untuk kak Nathan, aku tahu dia tidak suka minuman dingin jadi aku buat teh hangat untuknya," jawab Dewi.
Rahayu tersenyum, Dewi anak yang sangat peka. Ia selalu memperhatikan orang disekitarnya, Dewi memiliki sikap tulus, padahal Nathan selalu bersikap dingin kepadanya. Entah kenapa, Nathan tidak terlalu dekat dengan wanita. Sikap dinginnya mewarisi Wiliam sang kakek. Tapi dibalik itu, Nathan cukup ramah kepada keluarganya tidak terkecuali pada Dewi karena mereka jarang bertemu dan itu yang membuat mereka ada jarak.
3 tahun menetap di luar negri, dan melanjutkan pendidikannya di sana. Dan kini, Nathan tumbuh menjadi pria segudang prestasi. Hidupnya bisa dibilang sangat sempurna.
__ADS_1
Rahayu begitu bahagia memiliki memiliki cucu yang pintar terlebih pada gadis seperti Dewi, sikap ramah nan tutur katanya yang lembut membuatnya semakin menyaynginya. Meski banyak yang bilang padanya, 'memelihara anak haram akan ikut terbawa sial' tapi itu tidak berlaku baginya karena Dewi bukan anak haram.
Saat Nathan berkunjung ke kampung halaman neneknya, ia selalu mendengar gosip akan Dewi. Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, itu pepatah yang selalu menjuluki Dewi. Mungkin itu yang menjadi pengaruh besar pada Nathan kenapa mereka tidak bisa dekat.
Diusia muda, Nathan menjabat sebagai direktur muda di perusahaan Wiliam. Banyak para wanita yang selalu berkunjung ke perusahaan, dan itu anak dari teman sang daddy. Ada beberapa teman Andra yang melamarkan anak gadisnya untuk dipersunting oleh Nathan. Tapi Nathan sama sekali tidak tertarik, ia sudah menetapkan hatinya pada seseorang. Tidak ada yang tahu bahwa Nathan sudah memantapkan hatinya pada gadis itu. Dan kini ia tengah gamang karena gosip buruk selalu terdengar di telinganya.
* * *
Dewi sendiri sudah menganggap Nathan seperti kakaknya sendiri, tapi pria itu tak sehangat saudara-saudaranya. Lain halnya dengan Dewa dan Nala, Dewi berteman baik dengan pria yang seumuran dengannya itu. Sikap Nala yang hangat membuat Dewi tak segan bermanja dan mencurahkan isi hatinya kala ada yang menzoliminya dengan sapaan si anak haram.
Dan sekarang, Dewi membawakan minuman untuk Nathan. Pesta pernikahan di gelar di depan rumah. Karena Nisa tidak meminta pesta yang megah, lelaki yang menjadi suami Nisa bukan kalangan atas. Ia juga mendapatkan jodoh yang tak jauh dari rumahnya. Kampung mereka masih bertetanggaan.
Nathan tidak suka keramaian, bahkan sedari tadi ia di dalam rumah. Bukan sombong, ia hanya dingin tapi hatinya baik jika sudah kenal dekat dengannya.
Perlahan, Dewi menghampiri. Langkahnya sedikit gemetar karena takut pria itu tidak suka akan minuman yang ia bawa. Nathan menoleh ke belakang saat mendengar suara melangkah. Tatapannya terarah pada Dewi, bahkan ia sampai tak berdekip. 3 tahun tak bertemu membuatnya merasa pangling saat melihat gadis itu, tak ada sapaan untuk Dewi padahal gadis itu sudah membawakan minuman untuknya.
Dewi meletakkan secangkir teh hangat di atas meja, lalu mempersilahkan Nathan untuk meminum tehnya. "Kak, tehnya silakan diminum," kata Dewi.
"Terima kasih." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Nathan.
"Wi, Dewi ...," panggil seseorang yang tak lain adalah Dewa.
Dewi menoeh kearah sumber suara. "Iya," jawab Dewi, "Kak, aku pamit dulu," ucapnya pada Nathan. Nathan hanya mengangguk, lalu melihat kepergian Dewi. Ia menatap secangkir teh itu, tak lama ia meraihnya dan langsung menyeruputnya. Tanpa diminta Dewi selalu mengerti apa yang dibutuhkan olehnya tak ada yang berubah dari sikap gadis itu kepadanya. Tanpa disadari, bibirnya melengkung mengukir sebuah senyuman.
"Enak juga," ucap Nathan. Tapi ia enggan memuji secara langsung pada Dewi.
__ADS_1