Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 189 Menerima Takdir


__ADS_3

Nathan pontang-panting tidak jelas saat tahu bahwa kekasihnya tidak masuk kuliah. Ia datang ke kampus untuk memastikan kejadian. Ia menemui satpam yang berjaga, melihat cctv yang terekam di area depan kampus.


Melihat seorang gadis yang tengah menerima telepon yang tak lain adalah Dewi. Dan ponsel itu ditemukan oleh security lalu memberikannya kepada Nathan. Tak lama dari situ, Nindya menghubunginya dan mengatakan berita tentang Doni yang menjadi kabar berita di televisi.


Tanpa menunggu lama lagi, Nathan langsung pergi ke rumah sakit. Derap langkah yang tergesa memasuki rumah sakit, dan ia langsung menemui Dewi di ruangannya setelah menanyakan pada staff resepsionis. Nathan membuka pintu dan melihat Dewi tengah terduduk di lantai.


"Kak ... Papa ..." Tubuh itu bergetar dalam pelukkannya. Nathan mengusap lembut punggung itu untuk menenangkannya.


"Tenang, semua sudah kehendak takdir. Jangan takut, kamu tidak sendirian, ada aku di sini yang akan selalu bersamamu." Nathan membenamkan sebuah kecupan di pucuk kepala Dewi dengan dalam. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan gadis itu, ini pasti berat. Baru saja bertemu dengan orang tuanya dan kini harus pergi selama-lamanya.


* * *


Dewi menunduk di batu nisan ayahnya. Tidak ada yang tak menangis saat melihat gadis itu meraung. Nindya memeluk gadis itu dengan sangat erat. Rahayu pun datang kepemakan langsung dari kampungnya.

__ADS_1


"Sayang, ada Ibu di sini. Kami keluargamu, jangan menangis lagi." Rahayu ikut memeluknya dari samping sehingga Dewi diapit oleh dua wanita yang ia anggap orang tuanya.


"Apa aku ditakdirkan tidak memiliki orang tua? Kenapa takdirku seberat ini?" Dewi kembali menangis meratapi nasib, "Papa, aku baru saja bahagia karena masih memilikimu," ucapnya lirih.


Awan sudah mendung disertai angin yang mulai kencang. Nathan meraih tubuh Dewi dari belakang. "Mom, aku mau ajak Dewi pulang" ucapnya. Nindya pun menggeserkan tubuhnya memberi ruang pada Nathan.


"Wi, kita pulang ya? Lihat, awan sudah mendung." Dewi beranjak, tapi detik berikutnya, gadis itu kembali terkulai jatuh pingsan. Nathan menggendong Dewi dibantu oleh Akhsa. Segera membawa gadis itu ke mobil dan membawanya pulang.


* * *


"Hmm, sama-sama. Aku pamit pulang ya, aku juga harus menenangkan mamaku Dia ikut terpukul atas meninggalnya om Doni." Diangguki oleh Akhsa, dan pria itu pun akhirnya pulang.


Nathan kembali masuk ke kamar yang di tempati Dewi, gadis itu masih belum sadar. Tak lama, Nindya datang membawa minyak angin untuk membantu gadis itu tersadar.

__ADS_1


"Kamu oleskan ini dekat hidungnya," ucap Nindya, memberikan minyak angin dan Nathan menerimanya, "Mommy mau siapkan makanan untuknya, dia harus minum obat," tuturnya kemudian. Nathan mengangguk, lalu mengoleskan minyak angin itu sesuai perintah.


Perlahan-lahan, Dewi mulai sadar. Gadis itu membuka mata, tapi kembali menangis. Nathan memeluknya mengusap punggung itu, lalu mengapit kedua pipi dengan tangan setelah melepaskan pelukkannya.


"Kamu harus tetap kuat, selama ini kamu bisa hidup tanpa orang tua. Ada aku, mommy, daddy, nenek, kakek. Kamu tidak sendirian." Mata mereka saling memandang. Terpancar kesedihan yang begitu dalam dari mata Dewi. Ia baru merasakan kasih sayang orang tuanya.


"Aku menerima takdirku, tapi kenapa cobaan ini begitu berat," lirih Dewi, menelusupkan kepala di dada bidang pria itu sambil sesegukkan. Nathan membelai rambutnya dengan sayang.


"Takdirmu tercipta untukku, aku yang akan bertanggung jawab penuh atasmu. Pesan papamu tadi pagi seolah memberikan rasa tanggung jawabnya padaku." Nathan memeluknya dengan erat sembari mengusap-usap punggungnya.


...----------------...


Rekomendasi hari ini.

__ADS_1


Judul : Obsesi kakakku kepadaku



__ADS_2