
"Ibu sakit apa? Kenapa tidak bilang padaku kalau Ibu sakit?" Dewi nampak khawatir pada ibu Rahayu, karena wanita itu sudah dianggap ibu kandungnya. Sejak lahir, bahkan selama masih berada di kandungan, beliau-lah yang merawat dan menjaga ibunya. Jasa wanita itu begitu besar sehingga ia menyayanginya lebih dari apa pun.
"Ibu mengkhawatirkanmu, Wi. Sejak Ibu tahu kamu pergi dari rumah, Ibu langsung drof. Syukur kamu ke sini," sahut Panji.
"Maafkan aku, Bu. Aku tidak bermaksud membuat Ibu khawatir," kata Dewi, "Ibu istirhat saja, aku antar ke kamar." Dewi memapah Rahayu. Tapi wanita tua itu tidak ingin, ia masih rindu kepada gadis kecil yang kini sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.
Rahayu juga menoleh ke arah pria yang ada di sebelah Dewi. Ia mengenal siapa lelaki itu, lelaki yang ada dalam diari milik Hanum. Bibirnya tersenyum, bersyukur Dewi bertemu dengan orang tuanya. Ia sangat khawatir karena sang cucu selalu mengeluarkan kata penghinaan pada Dewi.
Berharap, Doni bisa menjaga putrinya. Rahayu menyentuh tangan Dewi. Ia meminta maaf atas segala apa yang sering dilakukan Nathan kepadanya. Ia tahu sejak Dewi pergi, Nindya menceritakan semuanya kepada ibunya.
"Nak, kamu mau 'kan maafkan Nathan? Dia begitu karena terlalu mencintaimu, rasa cintanya menjadi sebuah emosi sampai ia merugikan diri sendiri," kata Rahayu.
"Aku sudah memaafkannya, Bu. Sedikit pun tidak ada dendam, Ibu jangan memikirkan itu, hubungan kami baik-baik saja," jelas Dewi yang tak ingin kondisi Rahayu memburuk, "Ibu istirahat ya, ini sudah malam. Besok pagi aku mau ke makam Mama sama Papa."
"Iya, Bu. Sebaiknya Ibu istirahat, kita bisa mengobrol besok," timpal Doni.
"Baiklah," Rahayu mengiyakan.
Dewi mengantar Rahayu ke kamar. Halim sendiri sudah tidur dan tidak tahu akan kedatangan anak angkatnya.
* * *
Pagi menjelang.
Dewi dan Doni sudah berada di pemakaman, mereka menabur bunga serta membaca doa untuk almarhum. Dewi kembali terisak.
"Mama, aku datang. Sekarang aku sudah bertemu dengan Papa, Ma," ucap Dewi.
Doni merangkul bahu putrinya, ia ikut menangis dengan kesedihan Dewi. Tak dapat dipungkiri, ia pun sangat kehilangan. Hanum wanita yang ia cintai. Saking cintanya, ia rela melepas agar Hanum tak disakiti oleh orang tuanya.
Dewi bersandar di bahu sang papa, gadis itu masih terisak. "Sudah, jangan menangis. Sekarang ada Papa yang akan menjagamu." Dalam hati, Doni begitu penasaran dengan obrolan Dewi dan Rahayu. Siapa yang selalu menghina anaknya? Dan kenapa Dewi pergi dari rumah?
__ADS_1
Tebar bunga sudah selesai. Para warga begitu antusias saat melihat Dewi. Gadis itu terus dirangkul oleh Doni. Warga yang selalu nyinyir tentang Hanum langsung berpikir negatif. Tapi tak berani berucap, karena tubuh Doni yang terlihat tegap dan berwibawa membuat rasa takut itu muncul.
Dewi tak mengedahkan pandangan warga yang melihatnya tidak suka. Dan Doni merasa ada yang tidak beres dengan tatapan-tatapan itu. Tatapqn mengintimidasi membuatnya harus segera kembali dengan cepat.
"Boleh Papa tanya sesuatu?" tanya Doni pada Dewi yang masih dalam perjalanan menuju rumah Rahayu.
"Apa?" jawab Dewi.
"Siapa yang kamu bicarakan semalam? Dan kenapa kamu bisa pergi dari rumah?" tanya Doni lagi.
Dewi bingung harus menjawab apa, ia takut papanya tidak menyukai orang yang selama ini selalu menyakitinya dengan ucapan pedasnya. Ia tak ingin itu berimbas pada hubungannya. Karena selama ini Dewi pun menaruh hati pada Nathan.
Cinta yang ia pendam karena Nathan selalu menghinanya. Rasa itu tumbuh saat ia masih SMP. Di mana ia masih dekat bersama Nathan sebelum lelaki itu akhirnya memutuskan pergi kuliah ke luar negri. Cinta yang ia kira cinta monyet ternyata masih bersemayang hingga sekarang.
Hanya dari perlakuan dan perhatian yang ia ungkapkan. Meski Nathan bersikap dingin dan ucapannya pedas, ia selalu memberikan perhatian dengan makanan apa saja yang ia boleh makan dan yang tidak. Bahkan ia tahu bahwa pria itu memiliki alergi air dingin. Dan itu hanya ia yang memperhatikan.
"Siapa? Papa perlu tahu siapa saja yang selalu menyakitimu. Semalam, bu Rahayu mengucapkan nama Nathan. Bu Rahayu meminta maaf atas nama Nathan, apa dia yang menyebabkanmu pergi?" desak Doni. Ia tak akan membiarkan siapa pun yang menjelekkan dan menghina anaknya.
"Itu hanya salah paham, Pa. Kak Nathan baik kok, tidak ada masalah dengannya," jawab Dewi melindungi Nathan.
Tapi Doni tak percaya begitu saja, sepertinya Dewi memiliki sikap seperti Hanum. Yang bisa melindingungi meski orang itu selalu berbuat jahat. Dan akhirnya mereka sampai di rumah Rahayu. Wanita itu menguatkan diri meski sedang sakit, ini kesempatan baginya dekat dengan Dewi sebelum akhirnya gadis itu benar-benar pergi bersama papanya.
"Wi, sarapan dulu," ajak Rahayu.
"Bu ... Ibu tidak usah repot-repot menyediakan sarapan untukku, aku bisa sendiri. Ibu jangan capek-capek," sergah Dewi, "Ibu duduk saja di sini, biar aku yang melanjutkan." Dewi mengambil alih pekerjaan yang dilakoni Rahayu.
"Biar, biarkan Ibu melakukan ini. Mengurusmu untuk yang terakhir sebelum kamu pergi meninggalkan Ibu." Rahayu tak bisa menahan air matanya, "biarkan Ibu yang melayanimu."
"Bu!" protes Dewi, "Ibu ngomong apa? Mana mungkin aku meninggalkan Ibu begitu saja, aku akan tetap menjadi anak gadismu. Sampai kapan pun itu." Dewi akhirnya memeluk Rahayu dan menenangkan ketakutannya.
"Kamu akan pergi, kita tak akan seperti dulu." Tangis Rahayu pecah.
__ADS_1
"Aku tidak akan pergi meninggalkan Ibu!" bantah Dewi, "aku tetap akan di sini, bila perlu tinggal bersama Ibu lagi di sini."
Mendengar penuturan Dewi, Doni langsung menoleh. Apa yang dikatakan anaknya apa benar? Kalau Dewi akan kembali tinggal dengan keluarga ini? Lalu bagaimana dengannya? Apa ia akan terpisah dengan anak kandungnya?
"Mana boleh begitu, sekarang ada Papa-mu. Dia-lah keluargamu," kata Rahayu.
"Di sini juga keluargaku, Ibu-lah, Ibu-ku."
Doni jadi tidak tega memisahkan mereka, lalu ia harus apa? Apa, tetap merelakan anaknya tinggal di sini? Pikirannya sibuk sendiri.
"Lihat-lah, jangan buat Papa-mu sedih. Dia pasti ingin tinggal bersamamu," bisik Rahayu sembari melihat ke arah Doni. Dewi pun melihat sang papa, lalu menghampirinya. Melingkarkan tangan di lengan papanya sembari mendongakkan wajah.
"Aku tidak bermaksud menolak ajakan Papa, tapi rasanya aku tidak tega pergi meninggalkan Ibu. Kalau boleh, aku akan tetap tinggal di sini," ucap Dewi meminta izin.
Doni melepaskan tangan anaknya, lalu menangkup pipi putrinya itu. "Jika itu memang kebahagiaanmu, tidak jadi masalah bagi Papa. Tapi jika ada yang berani menyakitimu, Papa tidak segan membawamu pulang ke rumah, Papa."
"Terima kasih, Pa. Terima kasih sudah mengizinkan-ku tetap di sini."
Dan akhirnya, Dewi kembali tinggal di rumah Rahayu.
...----------------...
Sambil nunggu, bisa mampir di sini ya.
DENDAM CINTA DAN SANG BODYGUARD : Karya Uma_Bie
Hati siapa yang tidak hancur, saat sebuah hari istimewa yang diharapkan akan berbuah kebahagiaan. Tapi apa yang di dapatkan oleh Amber Wilson sang wanita tangguh ini, sebuah kesedihan dan perasaan kecewa, ketika sang kekasih tak kunjung datang tepat dihari pernikahan mereka. Sang kekasih yang begitu ia cintai mendadak menghilang dan tanpa jejak.
Hari-hari Amber ia habiskan hanya untuk menunggu sang kekasih, ia masih sangat berharap kekasih hatinya itu datang dan kembali padanya, tapi lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan.
__ADS_1