Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 153 Cari Perhatian


__ADS_3

Tak terasa satu minggu sudah Dewi berada di tempat Nindya, selama tujuh hari itu pula ia sibuk di rumah. Dewi merasa tidak enak jika harus berdiam diri, ia sering membantu pekerjaan para asisten di sana meski Nindya sering melarangnya Dewi tetap kekeh membantu pekerjaan rumah.


Mencuci piring, bebenah dan membereskan rumah. Dewi sangat aktif sehingga Nindya dan Andra semakin menyayanginya karena ia gadis yang sangat rajin. Dan hari ini, Dewi mulai masuk kuliah. Ia sudah didaftarkan oleh Andra dan ia kuliah di tempat yang sama dengan putranya. Mereka tak membeda-bedakan antara Dewi dan Dewa, Andra sudah menganggap Dewi anaknya sendiri.


Dan saat ini, Dewi tengah di dapur. Ia sedang menyiapkan bekal untuknya makan pas istirahat kuliah nanti. Saat sibuk di dapur, Dewa menghampiri.


"Ayok, kita sarapan. Mommy juga Daddy sudah menunggu," ucapnya pada Dewi, "sedang apa sih? Itu apa?" tanya Dewa penasaran.


"Oh, ini. Ini bekal untuk istirahat nanti," jawab Dewi, "kamu mau juga? Kalau mau ini masih ada lebih, aku buatkan bekal untukmu," tawarnya.


"Boleh juga, kayaknya itu enak. Aku ke ruang makan duluan kalau gitu," pamit Dewa.


"Hmm." Jawab Dewi tanpa menoleh, ia mengambil kotak makan untuk membuatkan bekal untuk Dewa.


Setelah itu selesai, Dewi menyusul ke ruang makan sambil membawa dua kotak makan dan meletakkannya di atas meja.


"Apa itu?" tanya Andra saat melihat Dewi meletakkan tempat makan di atas meja.


"Ini bekal, Uncle," jawab Dewi.


"Kaya anak TK saja bawa bekal," gumam Nathan.


"Bilang saja kalau iri, Kakak iri 'kan aku dibuatkan bekal sama Dewi," cibir Dewa pada Nathan.


"Oh, itu untukmu juga. Sejak kapan kamu suka bawa bekal?" tanya Nathan.


"Sejak hari ini, karena aku suka masakan Dewi. Makanan buatannya enak tahu, Kakak belum saja mencobanya," sela Dewa.


"Aku tidak tertarik," cetus Nathan.

__ADS_1


"Nathan, kamu jangan begitu. Mommy tidak suka dengan ucapanmu!" Nindya menatap tajam Nathan, kenapa anak sulung bisa seperti itu?


"Sudah-sudah ... Masih pagi sudah ribut," kata Andra melerai mereka, "Than, kamu antar Dewa dan Dewi, Pak Tohir tidak masuk kerja hari ini," titah Andra.


Tidak ada yang bisa membantah Andra, semua tunduk termasuk Nathan yang terbilang cukup dingin itu.


"Iya, Dad," jawab Nathan karena tidak ada pilihan selain menerima perintah ayahnya.


Sedangkan Dewi hanya diam, menoleh pun tak berani. Ia menyelesaikan sarapannya tanpa suara. Karena sarapan sudah selesai mereka pun siap-siap untuk berangkat.


* * *


"Aku tidak bisa menjemput kalian pulang kuliah nanti," kata Nathan pada Dewa dan Dewi.


"Iya, Kak. Kakak cukup bagi duit saja buat ongkos untuk kami," kata Dewa bercanda.


"Dasar kamu ini," sela Nathan. Sesampainya di kampus, Nathan mengeluarkan dompet mengambil uang beberapa lembar kepada Dewa. Lalu memberikannya kepada adik bontotnya itu.


Tapi Dewi menolak, beralasan bahwa ia memang sudah mendapatkan uang jajan dari Nindya. "Aku turun dulu, Kak," pamit Dewi.


Nathan menghela napas lalu menyimpan uangnya kembali di dompet. Karena Dewi dan Dewa sudah masuk ke kampus, ia pun langsung melajukan mobilnya karena harus segera ke kantor.


Awal pertama masuk, Dewi senang karena sudah mendapatkan teman baru bernama Sisil. Gadis lugu nan berkacamata itu menjadi temannya mulai hari ini. Tempat duduk mereka berdampingan, dan untuk Dewa, mereka beda kelas karena beda jurusan.


Tanpa terasa, hari kuliah pertama selesai. Dan kini Dewi pun pulang, ia tak pulang bareng dengan Dewa. Dewa pergi bersama teman-temannya, teman sejak SMA. Dewa sudah pamit lebih dulu pada Dewi.


Karena Dewi baru di kota ini, ia sedikit bingung jalan pulang. Hingga tak lama, teman yang bernama Sisil itu melihat keberadaannya. Sisil dijemput dengan mobil mewah, meski ia sedikit culun, tapi ia anak orang kaya karena yang kukiah di sana memang golongan orang kaya semua.


"Wi, sedang apa? Yang menjemputmu belum datang?" tanya Sisil, "ayok naik, biar sekalian aku antar," ajak Sisil.

__ADS_1


Dewi pun naik karena ia tidak tahu arah jalan pulang jika menggunakan kendaraan umum. Sisil orangnya baik sehingga Dewi bisa berteman dengannya.


Mobil yang ditumpangi Dewi pum sampai di kediaman Andra. "Wah ... Rumahmu bagus juga, Wi," puji Sisil.


"Ini bukan rumahku," jawab Dewi.


"Tapi kamu tinggal di sini 'kan?" tanya Sisil.


"Iya, asliku dari kampung. Ini rumah teman ibuku, mereka sudah menganggapku sebagai keluarganya mereka baik sama aku, Sil. Jadi aku tidak mau mengecewakan mereka," jelas Dewi.


Sisil hanya manggut-manggut, tak lama ia pun undur diri setelah Dewi turun dari mobil miliknya. Saat Dewi sampai, ternyata Nathan sudah pulang lebih dulu. Dan ia melihat Dewi pulang diantar mobil mewah, tanpa tahu Dewi pulang bersama siapa.


"Baru masuk kuliah sudah dapat tebengan," kata Nathan, "dia gebetan pertamamu di sini?" tanyanya dengan ketus.


Belum Dewi menjawab, Nathan sudah lebih dulu pergi. Dewi hanya menghela napas saat mendapatkan tuduhan dari Nathan.


"Kenapa dia selalu berpikiran jelek terhadapku? Apa hanya karena anak yang tidak jelas?" Dewi menjadi sedih, tapi tak mengapa. Anggap ini ujian menuju ia sukses, ia tak boleh lemah meski selalu ada yang menganggapnya hina. Selagi ia benar, ia akan terus melangkah demi cita-cita yang menjadi impiannya selama ini.


Dewi bercita-cita menjadi disainer yang hebat, mencipatakan baju-baju yang menjadi tren setiap tahunnya. Dan selama sekolah, ia selalu menjadi juara. Ia juga ingin membuktikan kepada Rahayu, bahwa ia akan menjadi anak yang sukses, ia ingin membalas kebaikannya dengan cara membuatnya bangga, bahwa inilah hasil didikkannya selama ini.


Membuktikan kepada orang-orang selalu mencibirnya, terlebih kepada orang yang selalu menghina dirinya.


Dewi berjalan dengan gontai, ia langsung pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Setelah itu, ia beraktivitas seperti biasa. Membantu pekerjaan rumah, anggap ia bekerja di sana dan diupah ia gunakan untuk membiayai kuliahnya sendiri. Meski Nindya tak pernah mengizinkan itu, tapi Dewi cukup tahu diri. Apa lagi ada yang tak menyukai dirinya di rumah ini, Dewi menyimpulkan bahwa Nathan tidak menyukai dirinya.


Dari sikap, ia bisa menilai. Mana yang suka dan mana yang tidak. Dewi membantu menyiapkan makan malam, hampir semua masakan ia yang memasaknya. Dan Dewi juga yang menata makanan di atas meja.


"Dewi, Mommy sudah bilang, jangan mengerjakan pekerjaan ini. Kamu bukan pembantu, kamu anak Mommy juga di sini," kata Nindya.


"Tidak apa-apa, Aunty. Aku senang melakukan ini." Jawab Dewi sambil tersenyum.

__ADS_1


Sedangkan Nathan, ia memperhatikan Dewi dari kejauhan. Semakin hari, semakin pintar saja mengambil hati banyak orang di sini. Cari Perhatian!!


__ADS_2