
Adam dan Aileen tengah sarapan, dan mereka juga sedang menunggu Akhsa keluar dari kamarnya. Lama mereka menunggu Akhsa, karena tak kunjung datang Aileen pun menemui putranya itu. Sejak mereka satu atap kembali, Adam mau pun Aileen tak sehangat dulu. Seperti berada di tepi jurang yang kini ada pemisah di antara mereka.
"Akhsa, kita sarapan yuk?" Ajak Aileen sambil mengetuk pintu kamar yang di dalamnya ada anaknya. Akhsa tak menjawab, ia tengah merajuk pada sang papa. Ia marah karena tak ada ibu sambungnya. "Akhsa tidak suka dengan keberadaan Mama di sini? Apa Akhsa tidak merindukan Mama?" tanya Aileen.
Sebenarnya, sejak kepergian Adam kemarin ia dan anaknya tak begitu dekat. Mungkin masih terasa asing bagi Akhsa, karena selama ini yang mengurusnya adalah Nana.
"Apa Akhsa mau Mama pergi lagi dan tidak ada di sini?" Aileen menunggu jawaban dari putranya, tak lama pintu pun terbuka. Nampaklah Akhsa dengan raut wajah cemberut. Aileen berjongkok mensejajarkan tubuh putranya, membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Mama tahu, kamu ingin Mama Nana ada di sini 'kan? Kalau lebih memilih, siapa yang ingin berada di dekatmu?" tanyanya was-was. Kemungkinan jawaban Akhsa akan menyakiti hatinya.
Belum Akhsa menjawab, Adam keburu datang dan memotong pembicaraan mereka. Ia meraih tubuh putranya dan menggendongnya. Adam rasa, pertanyaan Aileen tak sepatutnya dilontarkan. Anak seusianya tidak akan mengerti masalah orang dewasa.
"Aku belum selesai bicara," teriak Aileen karena Adam hendak pergi. Seketika, Adam membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah istrinya itu. Tak ada ucapan sepatah pun, ia tak ingin bertengkar dengan masalah ini. Ia tahu kalau istrinya masih marah soal Nana yang kini sudah menjadi istrinya disaat ia tidak ada.
"Papa, aku mau Mama Nana di sini. Aku kangen," rengek Akhsa.
"Ada Mama Aileen di sini, dia juga Mamamu. Bukankah kamu ingin bertemu dengannya."
"Tapi aku juga mau Mama Nana di sini, berkumpul bersama kita. Aku senang punya dua Mama," jawabnya polos.
Adam menghela napas, ini berada dititik di mana ia tak bisa mengabulkan keinginan putranya. Ada salah satu di antara mereka yang harus mengalah, dan Nana 'lah yang mengalah. Padahal, agama melarang berpisah disaat istrinya tengah hamil.
Sementara Aileen, ia mendengarkan percakapan anaknya dengan suaminya. Ia merasa bersalah, kehadirannya membuat putranya malah seperti ini. Kehilangan sosok figur ibu, padahal ialah ibu kandungnya. Aileen menitikkan air mata, betapa sedihnya ia berada diposisi seperti ini. Menjadi orang asing di keluarganya sendiri.
Dan semua ini disebabkan oleh papanya yang gila harta dan martabat. Ia bersandar di dinding, lalu tubuhnya merosot saking lemasnya. Ia tak bisa dekat dengan putranya sendiri, apa ia harus ikhlas? Melepas semua yang seharusnya menjadi miliknya? Tapi bagaimana dengan Akhsa? Ia juga tak bisa jauh darinya, Akhsa harta paling berharga dari apa pun.
__ADS_1
Adam menoleh karena ia mendengar suara tangisan dengan terisak. Lalu menatap putranya. "Lihat, kasian Mama Aileen. Dia menyayangimu, jangan buat Mama sedih ya? Kamu temui Mama dan hapus air matanya nanti Papa jemput Mama Nana dan membawanya kemari."
Akhsa pun turun dari pangkuan papanya, lalu dengan cepat menghampiri Aileen. "Mama ...," panggil Akhsa.
Aileen langsung menghapus air matanya, ia tak ingin putranya tahu betapa bersedihnya ia sekarang. "Maafkan aku." Akhsa memeluk mamanya dengan erat, "Mama jangan menangis, aku tidak mau Mama sedih." Akhsa menciumi wajah Aileen.
Aileen sendiri langsung menangkup kedua pipi putranya, lalu mencium seluruh wajah putranya bertubi-tubi, sampai Akhsa kewalahan.
"Akhsa makan dulu ya? Ini hampir siang," ajak Aileen. Dan Akhsa mengangguk.
* * *
Aileen menyuapi Akhsa makan, makan bertiga dengan suaminya. Namun antara Adam mau pun Aileen masih berdiam. Bingung harus mengawali percakapan dari mana, rasa canggung tiba-tiba saja muncul.
"Aku sudah selesai," ucap Adam tiba-tiba, " Sa, Papa keluar sebentar," pamitnya pada Akhsa, dan anaknya itu mengangguk.
"Cari angin segar di taman, sekalian merokok." Setelah itu, ia langsung pergi.
Aileen masih dengan aktivitasnya yang menyuapi Akhsa makan, dan setelah itu selesai, Aileen menyuruh Akhsa menonton TV. Karena ia akan menemui Adam untuk mengajaknya bicara dari hati ke hati.
"Akhsa di sini dulu ya? Mama mau temui Papa di depan." Aileen menyalakan televisi dengan menayangkan film kartun yang tentu anak-anak pasti akan suka dan anteng.
* * *
Aileen mendudukkan tubuhnya tepat di samping Adam. Karena istrinya datang, Adam langsung mematikan rokok-nya yang masih menyala, dan terdiam sejenak.
__ADS_1
"Akhsa-." Ucap Adam menggantung.
"Akhsa anteng, dia lagi nonton film kartun," pungkas Aileen, "sudah putuskan siapa yang kamu pilih?" tanyanya tiba-tiba.
Adam langsung menoleh karena terkejut dengan pertanyaan istrinya yang tak pernah ia sangka-sangka. "Kita tidak mungkin menjalani poligami, tidak ada yang mau dipoligami. Walau pun ada, itu semua bohong. Hatinya pasti sakit ketika harus menggilir suaminya," tutur Aileen.
Adam tak menjawab, sujujurnya ia tak tega harus mengatakan bahwa yang ia pilih adalah Nana. Karena wanita itu tengah hamil anaknya, darah dagingnya. Ia tak ingin masalalu terulang, harus terpisah dengan istrinya disaat hamil dan tak berada di sampingnya. Melayani setiap keinginan istrinya yang tengah ngidam, dan ia tak melakukan itu disaat Aileen ngidam.
"Apa kamu tidak bisa memilih karena menurutmu ini terlalu sulit? Aku sudah siap jika memang kita harus berpisah, bukankah aku tidak mengingat semuanya? Itu akan mudah bagiku melupankanmu," ucapnya bohong. Padahal dadanya terasa sesak, hatinya begitu sakit bagai tersambit sembilu yang tajam.
Ia juga tak bisa menyalahkan suaminya dengan hadirnya wanita itu dalam hidup suaminya. Ia terlalu lama pergi sehingga Akhsa membutuhkan sosok figur ibu untuk anaknya.
"Mari kita berpisah!" kata Aileen.
Mungkin itu perkataan yang sangat konyol, istri pertama yang harus mengalah demi kebahagiaan putranya. Tapi tak mengapa, jika itu memang yang terbaik ia rela. Asal semuanya bahagia jika ia sendiri yang menjadi korban. Mungkin Tuhan sudah merencanakan hal yang lebih indah untuknya.
Tuhan tidak akan menguji hambanya di luar kemampuannya. Kesulitan telah ia lalui selama ini, disaat titik kebahagiaan hadir kini ia harus melepasnya dengan ikhlas.
"Aku ikhlas melepasmu, semoga kita semua bahagia," ucap Aileen lagi.
Tidak ada yang bisa diucapkan oleh Adam, lidahnya terasa kelu. Ia tak menyangka kalau Aileen kini lebih dewasa saat menyikapi masalah seperti ini. Tiba-tiba saja Adam memeluk Aileen. Dia wanita yang sangat luar biasa.
"Kelak, kamu akan menemukan orang yang lebih mencintaimu. Rasanya aku tidak pantas dicintai wanita sebaik dirimu."
...----------------...
__ADS_1
Mampir di sini selagi nunggu up.