
Andra merebahkan tubuh itu dengan perlahan, ia tak ingin menganggu tidur nyenyak istrinya. Setelah berhasil mendaratkannya dengan sempurna, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Dan ia ikut bergelung dalam selimut itu, menatap wajah cantik istrinya dan menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
Ia selipkan di daun telinganya, terus dan terus menatap. Hingga ia terbawa suasana, ia mendaratkan sebuah kecupan di bibir gadis itu. Sampai si pemilik raga itu terganggu dari tidurnya. Nindya membuka matanya, ia sangat terkejut mendapati sang tuan tengah menciumnya. Nindya menarik wajahnya, tapi sayang, Andra menahan ceruk leher istrinya.
Ia malah memperdalam ciumananya, pagi ini membuatnya terasa panas. Tubuh Nindya sudah menjadi candu baginya. Ciuman itu tak terlepas, sampai tangan mulai menjelajah manja di setiap lekuk tubuh indahnya.
Nindya melenguh menikmati setiap sentuhan itu, sangat berbeda dari sebelumnya.
"Mendesahlah," bisik Andra setelah melepaskan ciumannya.
Pergelutan semakin memanas, Nindya mulai membalasnya karena ia sudah dibuat terbang ke awan oleh suaminya.
"Nindya ..." Andra tak bisa menahan diri ketika sang istri membuatnya hampir tak karuan. Dengan gerakan cepat, ia membalikkan tubuh istrinya. Ia yang mengambil alih permainan, entah sejak kapan mereka sudah tak mengenakan pakaian.
Dan permainan berakhir nikmat. Tubuh Andra ambruk setelah mencapai puncaknya. Napas keduanya memburu tak beraturan hingga pada akhirnya mereka kembali terlelap.
* * *
Rahayu sedang menata makanan di atas meja, ia baru selesai memasak makanan kesukaan anaknya. Sedangkan pengantin baru masih terlelap dengan nyenyak, pergelutan mereka membuat lelah. Nindya sampai kesiangan di buatnya.
Rahayu melihat jam yang menempel di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Tak biasanya anaknya itu kesiangan, pikir Rahayu.
"Apa aku bangunkan saja ya?" Rahayu nampak menimbang-nimbang, tapi ia tak berani karena ada majikannya.
"Bu, Ibu masak apa? Baunya enak sekali, Bu?" tanya Nisa dengan wajah polos yang baru terbangun dari tidurnya, ia terbangun karena mencium aroma yang sangat lezat.
"Kakak masih tidur?" tanya Nisa kemudian. "Aku bangunkan ya, Bu."
"Jangan," cegah sang ibu. "Biarkan saja, nanti juga bangun sendiri. Kakakmu pasti lelah perjalanan kemarin."
"Oh gitu ya, Bu."
"Sebaiknya kamu mandi, nanti kita sarapan sama-sama," ajak ibu kemudian.
Gadis polos itu pun pergi ke kamar mandi sesuai perintah ibunya.
* * *
Di kamar.
Nindya mengerjapkan matanya, gadis itu kini terbangun. Pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan sang majikan yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Tapi ia kembali menutup mata kala melihat suaminya terbangun. Ia pura-pura tidur karena tidak ingin diketahui oleh suaminya karena ia tengah memandang wajahnya.
"Pagi istriku." Andra sudah tak segan lagi memberikan ciuman di keningnya. Ini momen yang seharusnya ia dapatkan sejak dulu. Dengan nakal, Andra memainkan hidung mancung istrinya dengan gemas sampai-sampai si empunya terganggu.
__ADS_1
Nindya membuka mata, dan mereka saling memandang. Andra menempelkan wajahnya dengan wajah sang istri. Betapa bahagianya ia hari ini.
"Apa kamu bahagia menjadi istriku?"
Malu-malu Nindya pun mengangguk
"Ini sudah pagi, ayok kita bangun," ajak Andra.
Untung kamar Nindya tersedia kamar mandi di sana, jadi membuat mereka tak harus keluar kamar untuk membersihkan diri. Nindya pun lebih dulu memakai kamar mandi tersebut, setelahnya baru suaminya. Seusai mandi dan berpakaian, mereka pun keluar. Tapi Nindya melarang suaminya keluar lebih dulu, ia takut kedua adiknya melihatnya.
Nindya mengintip lebih dulu, dirasa cukup aman baru ia keluar bersama-sama.
"Pagi, Bu?" sapa Nindya pada ibunya.
"Pagi, sayang," jawab Rahayu.
"Mari Nak, Andra. Kita sarapan sama-sama," ajak ibu mertua.
"Iya, Bu." Andra pun mendudukkan tubuhnya di sebelah Nindya.
Tak lama kemudian, si kembar muncul sambil membawa mainan yang tak lepas sejak kemarin.
"Duduk sini dekat Ibu," ajak Rahayu pada kedua anaknya yang kembar.
"Ya udah, sini dekat Kakak." Nindya menarik kursi meja makan yang diduduki Panji kearahnya.
Setelah itu, ia melayani suaminya seperti biasa yang sering ia lakukan sejak dulu.
"Tuan harus coba makanan ini, ini sangat enak." Nindya meletakkan beberapa lauk pauk di piring Andra.
"Sudah cukup, jangan banyak-banyak," kata Andra.
Rahayu tersenyum melihatnya, sepertinya mereka saling mencintai. Bisa dilihat dari binar mata mereka. Tidak ingin mengganggu momen itu, ia buru-buru menyelesaikan makannya.
"Cepat habiskan makananmu," kata Rahayu pada Nisa.
"Iya, Bu." Nisa menuruti perintah ibunya, begitu pun dengan Panji. Anak lelaki itu menghambiskan sarapannya dengan sekejap. Kini tinggal menyisakan Andra dan Nindya.
"Apa mau nambah?" tawar Nindya.
"Sudah kenyang," tolak Andra. Hingga mereka berdua sangat menikmati kebersamaan pagi itu.
* * *
__ADS_1
Aileen tidak bisa begini terus, ponsel suaminya tidak bisa dihubungi sama sekali. Apa ia harus menyusul? "Ya, sepertinya aku harus menyusulnya. Tapi aku tidak tahu alamatnya."
Akhirnya, ia pergi ke rumah utama untuk meminta alamat perusahaan yang dikunjungi oleh suaminya itu.
Aileen langsung menuju rumah utama, sesampainya di sana ia bertemu dengan Wiliam.
"Daddy, kapan Daddy pulang?" tanya Aileen tanpa ragu, bahkan ia terlihat cukup dekat dengan papa mertuanya.
"Tadi malam, mana Andra?" tanya wiliam.
Mendengar pertanyaan itu membuat Aileen menjadi sendu.
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"Daddy ... Andra pergi keluar kota," rengek Aileen seperti anak kecil yang mengadu.
"Dia pergi tanpa mengajakku."
"Keluar kota mana?" Wiliam sendiri tidak tahu kemana anaknya pergi, ada beberapa cabang perusahaannya yang berada di luar kota.
"Itu dia, aku tidak tahu. Dia tidak bilang pergi kemana."
"Keterlaluan sekali, Andra." Wiliam pun akhirnya memanggil istrinya. Perempuan itu pun datang.
"Ada apa?" tanya Anye.
"Kemana Andra? Apa sikapnya begini pada istrinya selama aku tidak ada?" Wiliam mengintrogasi istrinya sendiri karena ia yakin istrinya pasti tahu akan hal ini. "Bahkan dia pergi tanpa Aileen, suami macam apa dia?" Wiliam nampak murka pada ada anaknya itu. Lalu, ia mengambil ponsel yang ada di dalam saku.
"Di mana kamu? Kata Aileen kamu pergi keluar kota?" Nada bicaranya bisa ditebak, pria itu terlihat sangat marah pada putra semata wayangnya. "Daddy akan menyusul." Wiliam menutup ponselnya.
Sedangkan Aileen, wanita itu nampak sumringah. Kini ia tahu bagaimana membuat suaminya bertekut lutut padanya. Andra begitu patuh apa kata sang ayah, dan ini bisa dimanfaatkan oleh Aileen.
"Daddy ... Apa aku boleh ikut?" pinta Aileen.
"Tentu, kamu harus ikut kemana pun suamimu pergi. Jadilah istri yang baik."
Pernikahan itu memang diinginkan oleh Wiliam, ia ikut bertanggung jawab akan sikap Andra yang tidak mengenakan untuk Aileen. Tanpa menunggu lama, mereka putuskan untuk berangkat sekarang juga.
...----------------...
Mampir juga di sini yuk
__ADS_1