
Dengan langkah gontai serta menunduk Nindya mengekor di belakang Andra. Sementara Aileen menatap tajam sambil berkacak pinggang. Ini semua memang ulahnya, tapi bukan ini yang ia inginkan. Susah sekali untuk menaklukkan hati suaminya, namun ia tak patah arang. Semua sudah terlanjur, Andra suaminya yang seharusnya menjadi miliknya. Tapi ia juga mencintai kekasihnya.
Bisa dibilang, Aileen wanita yang sudah kehilangan akalnya. Entah apa yang ia inginkan, karena perasaan tak bisa dipaksakan sehingga ia berbuat nekat memberikan obat perangsang pada suaminya. Tapi sayang, rencana tak sesuai ekspektasi. Justru yang dibutuhkan Andra adalah Nindya. Baginya, sekali kecewa tetap kecewa. Bagaimana pun Aileen berusaha ia tak mungkin melanjutkan pernikahannya.
Demi nama baik keluarga, ia hanya tinggal menghitung hari untuk menceraikan Aileen. Dan ia akan melabuhkan hatinya untuk Nindya seorang, meski harus menyembunyikan statusnya ia tak peduli. Andai Anye tak memiliki penyakit jantung ia akan menceritakan semuanya apa yang terjadi dalam pernikahannya.
"Dari mana kalian?" Suara lantang itu terdengar begitu menyeramkan. "Dan untukmu, Nindya. Apa yang sudah kamu lakukan? Loly bilang Andra marah padamu."
Nindya membungkam mulutnya tak berani berucap, ia hanya takut salah menjawab. Sesungguhnya ia tak ingin memiliki masalah dengan keluarga Wiliam. Ia cukup tahu diri, siapa ia dan siapa Andra. Tak mungkin ia berkata jujur tentang apa yang sudah terjadi pada dirinya juga majikannya.
"Mom ... Jangan salahkan, Nindya. Dia hanya membantuku, dan aku yang memintanya."
"Jangan membelanya, Andra. Kalau dia salah dia harus bertangung jawab," seru Anye
"Dia sudah tanggung jawab, Mom. Aku puas dengan cara kerjanya." Ujar Andra seraya menatap ke arah Aileen dengan tajam. "Mommy tenang saja, Nindya gadis yang tak bertingkah. Dia tidak akan melakukan hal yang nekat," sambungnya menyindir Aileen.
"Kamu sudah dengar 'kan, Aileen. Mommy percaya pada anak Mommy. Dia tidak mungkin berkhianat," kata Anye pada Aileen.
"Masuklah, Nindya," suruh Anye. "Dan untuk kalian, sebaiknya kalian pulang. Ini sudah sore, Mommy menginginkan cucu dari pernikahan kalian." Ujar Anye sembari menepuk bahu putranya.
Dan Anye pun berlalu, karena ia merasa sudah tak ada masalah. Ia percaya pada pembantunya itu, karena selama berada di sini Nindya bekerja dengan baik.
* * *
"Bagaimana ini, masalah semakin rumit. Nona Aileen pasti curiga dengan ini." Nindya menghela napas panjang.
"Curiga apa? Apa kamu ada hubungan dengan Tuan Andra di belakang nona Aileen?" Suara itu terdengar dari arah belakang Nindya.
"Loly ... Apa maksudmu?"
"Jangan bohong, Nindya! Aku tahu kamu memiliki perasaan selama ini pada tuan Andra, iya 'kan?"
__ADS_1
"Jaga mulutmu, Loly! Jangan bicara yang tidak-tidak soal ini!"
Tidak ingin masalah semakin rumit, Nindya pergi meninggalkan si mulut ember yang tak lain adalah Loly.
"Kamu takutkan dengan ini? Makanya, pembantu ya pembantu saja! Jangan terlalu berharap," teriak Loly.
"Berisik sekali kamu, Loly!" sahut Lee yang baru saja tiba di dapur.
"Tuan, Lee. Maaf, saya tak sengaja." Ujarnya seraya undur diri dari dapur sana.
* * *
"Dasar mulut ember, aku harus hati-hati dengan wanita itu," gerutu Nindya.
Disaat ia sedang berjalan, ia tak sengaja berpapasan dengan Andra juga Aileen. Wanita itu bergelayut manja di tangan suaminya. Tapi Nindya hanya menunduk seolah memberi hormat. Lihatlah, Nindya. Mereka pasangan yang sangat serasi bukan? Tuanmu tak pantas untukmu, kamu itu hanya seorang pembantu, dan selamanya hanya akan menjadi pembantu.
Bisikan itu terasa terdengar nyata, seolah menyadarkan akan dirinya. Tapi semua yang terjadi bukan karena dirinya. Majikannya yang memaksa untuk hadir dalam hidupnya.
Sedangkan Andra, ia begitu merasa risih dengan sikap Aileen yang seperti ini. Harus berapa kali ia katakan, ia tak ingin menyentuhnya. Jangankan untuk menyentuhnya, menbayangkannya saja ia
tidak sudi.
"Jangan seperti ini, Aileen. Malu dilihat orang!" kesal Andra. Terlebih ia ingin menjaga perasaan Nindya yang tengah berada bersamanya.
Aileen ya tetap Aileen. Wajah polos itu seakan kedok bagi Andra. Susah untuk percaya padanya, apa lagi dengan kelakuannya. Berpikir akan hal itu, Andra jadi lupa pada Roy. Bukankah ia ada janji hari ini dengan pria itu. Tak ingin dilihat lebih lama karena sikap istrinya, Andra mengajaknya pulang sekarang juga.
"Aku ada janji dengan Roy, kita pulang sekarang."
Pria itu melewati tubuh Nindya begitu saja. "Aku pulang, Nindya. Aku janji, suatu nanti kamu yang akan aku ajak pulang," batin Andra.
* * *
__ADS_1
Hari menjelang malam.
Nindya tak dapat tidur dengan nyenyak malam ini, ingatannya terus terbayang akan kejadian tadi siang bersama Andra. Inikah takdir yang harus ia jalani? Perasaan yang tak seharusnya hadir dalam hatinya, cinta yang tak semestinya tumbuh kini semakin mekar seperti bunga mawar. Hidup menjadi orang miskin memang selalu ada dalam keterbatasan, keluarga Wiliam yang terhormat tidak mungkin menyetujui hubungannya meski Andra sendiri yang menginginkannya.
Cukup tahu diri akan hal itu membuat Nindya membuang jauh harapan bersama Andra, apa yang terjadi padanya hanya akan menjadi kenangan. Entah kenangan indah atau malah akan menjadi kenangan buruk. Tidak ada yang tahu untuk kehidupan mendatang.
Andai tuan Miliam tahu apa yang terjadi tadi pagi dengan mereka, tentu hari ini juga Nindya sudah dipecat karena sudah berani pergi bersama anaknya. Sikap keras dan disegani membuatnya merasa berkuasa, terlebih pada putranya. Tidak ada yang bisa membantah apa yang diinginkannya. Dan untung saja, tuan Wiliam sedang tidak ada di rumah hingga satu minggu ke depan.
Cukup lelah dengan berbagai pemikiran membuat Nindya tertidur dengan sendirinya.
* * *
"Sayang, tidur yuk?" ajak Aileen pada suaminya.
"Berhentilah bersikap manis seperti ini, Aileen! Bahkan kau lupa dengan apa yang kau perbuat tadi pagi."
"Syukurlah kalau kau tahu itu, kalau sudah tahu kenapa malah pergi meninggalkanku. Aku sangat menginginkanmu." Aileen duduk di pangkuan Andra.
Padahal pria itu tengah menunggu kedatangan Roy malam ini, hari tadi ia tak jadi bertemu. Karena Aileen ia tak pergi ke kantor, dan malah berakhir di ranjang bersama Nindya.
"Hentikan, Aileen!" gertak Andra.
"Sampai kapan mau menutup rapat hatimu? Apa aku memang tidak pantas untukmu?" Air mata Aileen luruh, sialnya kelemahan Andra ada diposisi seperti ini.
Andra belum tahu akan pengkhiatan Aileen terhadapnya, akhirnya ia membujuk wanita itu untuk tidak terus menangis.
"Istirahatlah, aku ada urusan dengan Roy. Sebentar lagi dia sampai." Andra menurunkan tubuh Aileen dari pangkuannya. Dan bodohnya, Andra masih percaya saja dengan air mata buaya Aileen.
Berbagai macam cara akan dilakukan oleh wanita itu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, dan kali ini ia harap akan berhasil.
Seusai membujuk Aileen, Andra keluar dari kamar karena ia mendengar suara deruman mobil masuk pekalangan rumah.
__ADS_1