
"Istirahatlah, aku tidak akan macam-macam," tutur Andra meyakinkan istrinya itu.
Akhirnya, Nindya bangkit dari posisinya. Ia berniat melepas baju pengantin yang ia kenakan. Ada perasaan takut yang membayanginya, kejadian di mana ia seperti diperkosa karena Andra terpengaruh obat perangsang waktu itu.
Nindya sedikit kesusahan kala ia melepas res sleting di bagian belakang. Tapi ia enggan untuk meminta pertolongan pada suaminya.
"Bagaimana ini, susah sekali," batinnya.
Andra mendekat, tapi Nindya sedikit mundur kala ia melihat suaminya yang berjalan kearahnya.
"Aku bisa sendiri," tolak Nindya cepat.
"Hmm, baiklah." Andra tak jadi menghampiri, ia tak ingin membuat Nindya merasa takut padanya. Terlihat jelas tubuhnya yang sedikit bergetar, tapi ia memperhatikan dari kejauhan. Andra duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya, sedangkan Nindya berdiri di sudut dinding.
Gadis itu masih bergelut dengan baju pengantin yang baginya terasa asing jika digunakan.
"Tuan ...," lirih Nindya.
"Tuan?" Andra mengerutkan keningnya ketika mendengar Nindya memanggilnya dengan sebutan tuan, bukankah ia sudah jadi suaminya? Tapi kenapa gadis itu masih menyebutnya dengan sebutan tuan?
"Coba ulangi sekali lagi, kamu sebut aku apa barusan?"
"Salah bicara 'kah?" batin Nindya. "Aku harus panggil apa? Dia 'kan memang majikanku."
Karena melamun, Nindya tak sadar akan Andra yang sudah ada di belakangnya. Perlahan, pria itu menarik res sleting itu sedikit ke arah bawah. Nindya sampai terheyak. Sedikit menoleh kearah belakang.
"Ini nyangkut," bisik Andra.
Nindya sampai mendesir kala hembusan napas suaminya menerpa di bagian punggung yang memang sudah terpangpang jelas di mata suaminya. Andra menghirup aroma tubuh istrinya itu sampai Nindya bergidik karena jambang yang ada di wajah suaminya mengenanai kulit bahunya.
"Kak ... Kakak ..."
Baru saja Andra akan memperdalam penciumannya, tiba-tiba suara lantang itu terdengar dari arah luar.
Nindya mengerutkan keningnya setelah mendengar suara adik lelakinya.
"Panji." Nindya pun akhirnya beringsut mundur menjauh dari suaminya.
Klek ...
Pintu pun terbuka karena Nindya lupa tak mengunci pintu.
__ADS_1
"Kak ..." Suara serak khas bangun tidur memanggil Nindya.
"Kenapa bangun? Ini masih malam, tidurlah lagi," bujuk Nindya.
"Aku mimpi buruk, Kak. Ibu dan Nisa tidur, mereka tidak mendengarku saat aku membangunkannya. Aku tidur sama Kakak ya?" Panji tidak tahu kalau kakaknya sudah menikah. Lalu, Panji melihat seorang pria tengah berdiri di belakang sang kakak.
"Kenapa Tuan itu ada di kamar, Kakak?"
Nindya bingung harus menjawab apa, ia rasa belum waktunya adiknya itu tahu akan pernikahannya. Ia takut adiknya akan mengatakan kepada orang lain, karena bocah seumur Panji memang tidak akan bisa berbohong.
"Ini sudah malam, Tuan. Kenapa tidak pulang? Tuan tidak boleh ada di kamar Kakak-ku."
"Lalu aku tidur di mana, Nindya?" tanya Andra.
Sedangkan Nindya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Panji mau tidur bersamaku, Tuan bisa tidur di ruang tamu. Gak apa-apa 'kan?" ucap Nindya.
"Iya, Tuan tidur saja di luar, kenapa harus tidur di sini? Kalian tidak boleh tidur bersama, bisa dosa," terang Panji dengan polosnya.
Dengan wajah lesu, Andra keluar dari kamar istrinya sendiri. Ia juga tak bisa menolak saat diusir oleh adik iparnya itu.
Nindya melihatnya dengan nanar, lambat laun punggung itu tak terlihat. Mau bagaimana lagi, ia tak mungkin membiarkan suaminya tidur bersamanya disaat ada Panji.
"Kenapa Kakak pakai baju seperti itu? Bajunya seperti yang mau nikah." Panji tahu baju yang dikenakan kakaknya itu, karena ia sering melihat tetangga yang hendak menikah. "Apa Kakak mau menikah?"
"Kakak hanya mencobanya saja, sebaiknya kamu tidur sekarang," bujuknya kembali.
Panji pun naik ke atas ranjang untuk tidur di sana. Karena memang mengantuk, bocah itu langsung tertidur dengan pulasnya.
* * *
Plak, plak ...
Andra tak dapat tidur karena banyak nyamuk di ruang tamu. Apa lagi ia tak nyaman tidur di sofa yang begitu sempit. Ia terus menepak-nepak nyamuk yang selalu hinggap di wajahnya. Malam pengantin yang sangat mengkhawatirkan baginya, harusnya ia bisa tidur nyenyak bersama istri tercintanya.
Lalu, ia pun bangkit dari posisinya. Tidak bisa tidur jika begini, ia kembali masuk ke kamar istrinya. Belum ia sampai ke dalam, Nindya keburu keluar dari kamar sambil membawa bantal dan selimut.
Lagi-lagi Nindya dibuat terkejut oleh suaminya, lampu temaram di ruang tamu membuat pandangan Nindya kurang jelas. Sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Hampir gadis itu teriak kalau Andra tak cepat membungkam mulutnya dengan tangannya.
"Ini aku," bisiknya. "Apa adikmu sudah tidur?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
Nindya hanya mengangguk karena mulutnya masih terbungkam, perlahan tangan itu terlepas dari bibirnya.
"Ini selimut dan bantal, Tuan bisa menggunakan ini. Tenang saja, ini bersih kok."
"Menemuiku hanya ingin memberikan ini padaku?" Nindya mengangguk, lagian mau apa lagi kalau bukan memberikan ini padanya? Pikirnya.
"Temani aku tidur di sini, di sini banyak nyamuk," keluhnya.
"Kalau mau tidur nyaman di hotel saja," kata Nindya yang merasa tersindir akan keadaan rumahnya.
"Ish ... Nadanya ketus sekali, aku hanya ingin ditemani saja bukan ingin tidur di hotel," elaknya kemudian.
Andra menuntun istrinya ke arah sofa, mereka pun duduk di sana. Tak lama, Andra menarik tubuh Nindya ke dalam dekapannya.
"Tidur 'lah, aku tahu kamu pasti lelah." Andra membenamkan sebuah kecupan hangat di kening sang istri, lalu mempererat dekapannya sampai Nindya merasa nyaman tidur dalam pelukkan pria itu.
Ini terasa mimpi, Nindya tak menyangka bahwa ia akan menjadi istri dari seorang Affandra Wiliam. Pria yang nyaris sempurna. Lambat laun, napas gadis itu mulai teratur. Andra pun ikut tertidur dalam keadaan memeluk istrinya, bersandar di sandaran sofa yang sederhana namun masih terasa empuk baginya.
Hingga pagi menjelang.
Rahayu yang sudah bangun sangat terkejut melihat anak dan menantunya tidur di ruang tamu.
"Ini pasti karena Panji." Sebelum membangunkan Nindya, ia pergi ke kamar untuk melihat Panji, dan benar saja bocah itu tidur di kamar kakaknya. Rahayu menggendong Panji dan memindah anaknya ke kamar yang seharusnya tidur bersamanya. Setelah itu, baru ia membangunkan Nindya.
Tapi sayang, yang terbangun malah menantunya.
"Maaf mengganggu tidurnya," ucap Rahayu yang merasa tidak enak. Sikapnya kembali baik seperti biasa.
"Tidak apa-apa, Bu. Jangan membangunkannya, kasihan dia," kata Andra. "Jam berapa ini, Bu?"
"Jam 4 pagi, Tuan."
"Jangan panggil saya Tuan, panggil saja Andra. Ibu mau kemana pagi-pagi begini?"
"Mau ke pasar." Rahayu memang sengaja ke pasar pagi-pagi karena akan belanja bahan sayuran. Ia lakukan itu karena harus menyambut menantunya di rumah ini.
"Ibu berangkat dulu, Nak Andra. Pindah 'lah, ajak Nindya ke kamar. Panji sudah Ibu pindahkan."
Setelah mengatakan itu Rahayu pun berlalu.
...----------------...
__ADS_1
Mampir di sini juga yuk.