
Andra berkacak pinggang, ia sudah tidak sabar untuk melontarkan beberapa pertanyaan pada anak buahnya itu. Bukannya apa-apa, Roy bekerja di bawah naungannya. Jika terjadi sesuatu padanya apa lagi sampai menghamili anak orang, ia pasti ikut diintrogasi oleh ibunya Roy.
Andra cukup dekat dengan keluarga Roy, bahkan ia sudah berhasil mengeluarkan Roy dari geng mafia yang menurutnya sangat membahayakannya juga keluarganya.
"Tu-tuan belum tidur?" tanya Roy meski sedikit gugup.
"Belum, ada yang ingin aku tanyakan. Dari mana kalian? Sejak kapan kalian sedekat ini? Apa kalian memang sudah menjalin hubungan, dan menyembunyikannya dariku, hah?" cecar Andra.
Tiba-tiba Roy menjadi bisu, lidahnya terasa kelu. Ia memutar otak bagaimana caranya menghindari pertanyaan yang begitu terasa sulit untuk ia jawab. Otaknya tiba-tiba saja buntu, kelemahan Roy berada di titik ini. Ia akan menjadi bego jika sudah berurusan dengan yang namanya perempuan.
Beberapa saat kemudian, Roy memiliki ide yang menurutnya itu sangat cemerlang. Bagai ada lampu dalam isi kepalanya.
"Tuan, Nona Nidnya." Ucapnya seolah mendengar sebuah suara. "Tuan dengar tidak? Itu suara istri, Tuan." Ucapnya lagi sambil memperagakan seperti sedang menguping.
Dan bodohnya Andra, ia percaya. Dan ia mengikuti apa yang dilakukan oleh Roy. Andra pun memfokuskan pendengarannya, tapi ia tak mendengar suara apapun itu. Suasana begitu sunyi.
"Itu, Nona memanggil, Tuan. Cepat temui dia," kata Roy lagi.
Tanpa berpikir lama, Andra segera pergi ke kamar. Mungkin saja benar kalau istrinya itu sudah sadar. Setibanya di sana, ia merasa sudah dibohongi oleh anak buahnya itu. Sudah jelas kalau istrinya itu masih tidur. Apa lagi keadaannya sudah membaik setelah minum obat tadi, karena Nindya sempat terbangun sebentar dan Andra langsung memberikan obat yang diberikan oleh dokter Elena.
"Sudah mulai berani kamu membohongiku, Roy!"
Sedangkan Roy, pria itu bernapas lega karena sudah berhasil menghindari pertanyaan yang membuatnya mati kutu. Setelah itu, ia putuskan untuk beristirahat.
__ADS_1
***
Andra berusaha tidak tidur karena ia benar-benar harus menjaga istrinya. Menghilangkan rasa kantuknya, ia memainkan rambut istrinya dengan cara memutar-mutar dengan jarinya. Kalau begini caranya, ia bukan menjaganya. Melainkan malah mengganggu tidur istrinya.
Nindya pun membuka matanya, ia melihat suaminya tengah menguap. tidak bisa seperti ini, ia pun akhirnya merubahkan posisinya menjadi terduduk.
"Kok, bangun," kata Andra.
"Kenapa gak tidur? Jam berapa ini?" tanya Nindya.
Andra melihat jam yang menempel di tangannya, lalu berucap. "Hampir jam tiga." Terus, ia juga melihat istrinya beranjak dari tempatnya. "Mau kemana?"
"Ganti baju, aku gak mungkin pakai baju ini terus." Seusai pesta, Nindya belum sempat mengganti bajunya karena tadi ketiduran dan berakhir demam.
Kalau tidak kasihan pada istrinya, mungkin saat ini juga ia sudah menjamah wanita itu. Tapi ia tak tega, ia tidak boleh egois.
"Di mana tasku?" tanya Nindya.
"Untuk apa tas?" balik tanya Andra.
"Ke sinikan saja, aku mau menghapus make-up ini.
Andra pun mengambilnya lalu memberikannya. Nindya duduk di depan meja risa sambil menghapus make-up di wajahnya. Kini wajahnya jauh lebih segar. Dan Andra mendekatinya, ia berdiri di belakang tubuh istrinya. Meletakkan tangannya di kedua bahu sang istri.
__ADS_1
Melihat wajah natural Nindya membuatnya semakin ingin menciumnya. Nindya mendongakkan wajahnya untuk melihat suaminya dan tangannya menyentuh pundak yang terletak keberadaan tangan suaminya di sana. Lalu berdiri dan naik ke kursi meja rias.
Tingginya menyamai Andra, bahkan melebihi suaminya. Nindya juga mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, tak lupa ia menempelkan keningnya pada kening suaminya.
Andra pun sama, ia melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Karena merasa sudah menginginkannya, ditambah lagi Nindya memancingnya. Ia meraih tubuh itu, hingga posisi Nindya terpangku seperti anak koala. Kakinya melingkar di tubuh Andra.
Andra langsung menautkan bibirnya di bibir istrinya. Posisinya masih berdiri dan Nindya pun semakin memeluk suaminya erat, menahan tubuhnya agar tak terlepas. Puas berciuman, Andra berjalan menuju tempat tidur sambil merebahkan tubuh Nindya dengan secara perlahan.
Mereka saling tatap, ternyata keduanya menginginkannya. Andra mulai membuka kancing baju tidur istrinya, satu persatu dan ia berhasil membukanya. Hingga nampak bukit kembar yang terlihat semakin berisi.
Tanpa permisi, ia medaratkan beberapa kecupan di bukit itu. Nindya hanya bisa memejamkan matanya dan menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya. Ia mencengkram dan menjambak rambut Andra, karena suaminya itu begitu lihat memainkan pucuk bukitnya dengan lidahnya.
Andra semakin bergairah, ia melepaskan bibirnya dari bukit itu. Lalu melihat ke wajah Nindya yang sudah terlihat ngos-ngosan karena ulahnya barusan. Tak menunggu lama lagi, ia melepas pakainnya sendiri. Setelah itu, ia menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang kini sudah sama-sama polos dengan istrinya.
Mereka mulai melakukan kewajiban suami istri, penuh dengan rasa cinta yang semakin hari se.akin bertambah. Napas keduanya memburu saat Andra sudah mulai berselancar, ombak semakin tinggi hingga ia terjatuh di tengah-tengah laut yang kedalamannya tak sebarapa itu.
Keduanya mencapai puncaknya secara bersamaan. Andra mengecup kening istrinya sebelum ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Terima kasih selalu mengerti akan keinginanku." Andra sadar bahwa istrinya itu tak enak badan, tapi ia melakukannya dengan sangat lembut hingga Nindya pun menikmatinya.
"Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai istri, tidurlah, aku tidak ingin kamu sakit." Nindya pun tahu kalau suaminya belum tidur sama sekali. Keduanya pun kini terlelap, dengan keadaan masih yang polos. Hanya selimut yang menutupi tubuh mereka. Kini mereka terlelap bersama.
...----------------...
__ADS_1
Selamat pagi, selamat berlibur di Minggu ini. Maaf ya pagi-pagi sudah disuguhkan sesi panasnya Andra dan NindyaðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ Harusnya ini up semalam, aku ketiduran karena anakku yang minta ditemenin tidur. Alhasil aku ikut bablas😂😂