
Di hotel.
Setelah makan siang, Adam bersiap-siap kembali ke kota. Ia mengajak Nana kembali, sang istri adalah jantung rumah tangga. Ia juga tak mungkin hidup dalam kesepian seperti dulu, apa lagi sekarang, Nana tengah hamil. Ia pasti menjaganya dengan extra.
Adam memang disuruh kembali oleh Andra, karena ia dan Roy juga berada di kota yang sama. Roy tidak bisa kembali karena ia memang ada urusan dengan perusahaan yang sekarang tengah dikelola oleh Halim. Lagian, keadaan Nana sudah mulai membaik. Meski jalannya masih tertatih tapi ia cukup kuat dalam perjalanan menuju kota metropolitan itu.
"Papa, kita kembali hari ini?" tanya Akhsa.
"Iya, sayang. Sekarang juga kita berangkat," jawab Adam, "liat di kamar, apa Mama sudah siap?" suruhnya pada Akhsa.
Anak itu mengangguk lalu dengan segera pergi ke kamar menemui Nana. Bumil sudah siap, bahkan terlihat sangat segar pasca pelepasan tadi pagi bersama suaminya. Ia tak menyangka kalau permainan ranjang begitu berbeda saat setelah beberapa hari berpisah. Ada kerinduan yang membuncah hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Mama sudah siap?" tanya Akhsa.
"Sudah, Papa mana?" Akhsa belum menjawab, Adam sudah lebih dulu muncul diambang pintu sambil tersenyum. Ia tak mungkin membiarkan istrinya berjalan sendiri ke lantai bawah, karena tak ada kursi roda, jadi Adam menggendongnya.
Adam membelakangi Nana, lalu berjongkok, ia menyentuh pundak seraya menyuruh Nana untuk naik di punggungnya. Nana pun naik ke punggung suaminya. Adam juga tak lupa menuntun Akhsa.
Para penghuni hotel yang berpapasan dengan Adam juga Nana, mereka terus melihat ke arahnya. Sungguh suami yang sangat baik, semua tersenyum. Ada yang senyum mengejek ada juga yang senyum karena bangga. Andai mereka memiliki suami sepertinya betapa bahagianya mereka.
Hingga mereka pun sampai di mobil, Adam menurunkan Nana dan langsung membuka pintu mobil. Sedangkan Akhsa, ia naik sendiri tanpa menunggu papa-nya membuka pintu untuknya.
"Anak pintar," ucap Adam dengan bangganya kepada sang putra. Kelak, ia berharap anaknya membanggakannya juga bersikap lembut kepada semua orang, jangan sampai sikapnya mewarisi Morano si kepala batu.
Dalam perjalanan, Adam mengatakan pada Nana kalau Aileen sudah melayangkan gugatan cerai ke pengadilan. Tapi sebelumnya ia memang sudah dihubungi wanita itu. Adam tak menolak atau pun menyuruh, semua ia pasrahkan kepada Aileen. Ia juga tak ingin masalah ini semakin berlarut.
Egois? Ya, bisa dibilang Adam memang egois. Bahkan ia tak menahan kepergian Aileen, karena ia juga tak bisa memaksakan hati yang semakin hari kian memudar.
"Kalau itu memang sudah keputusan mbak Aileen, aku bisa apa? Semoga tidak ada dendam dikemudian hari ya, Mas? Aku ingin hidup tenang bersama anak-anakku," tutur Nana.
"Iya, semoga saja," kata Adam.
__ADS_1
"Hak asuh anak bagaimana? Apa Akhsa akan ikut sama mbak Aileen?" tanya Nana pelan karena ia takut Akhsa mendengar.
"Untuk itu, Akhsa sendiri yang putuskan. Mau tinggal sama siapa pun sama saja, keduanya orang tuanya yang sangat menyayanginya.
Nana tak lagi bercakap, karena ia tak mungkin ikut campur mengenai hal hak asuh anak.
* * *
Di rumah Halim.
Hanum, tetangga Rahayu yang kata warga selalu membuat sensasi kini berulah lagi. Ada seorang wanita datang dalam keadaan emosi, memakinya, bahkan sampai menamparnya. Hanum menjadi tontonan warga sekitar.
Andra dan Nindya yang tengah tidur siang pun terbangun karena berisik. Andra beranjak dari tempat tidur, lalu mengintip dari arah jendela. Ia sangat terkejut ketika melihat si penjual rujak tengah dijambak dan disiksa. Tak ada yang menolongnya, ia pun langsung keluar.
"Ada apa, Mas?" tanya Nindya menghentikan langkah Andra.
"Ayok, kita keluar. Kasihan penjual rujak itu jadi tontonan warga," tutur Andra. Karena memang penasaran, Nindya pun ikut ke depan bersama suaminya.
Bahkan Rahayu, Nala, juga Nisa ada di depan. Mereka menyaksikan Hanum dipukul dan dijambak.
"Apa-apaan ini? Kenapa kalian diam saja?" kata Andra pada warga. Wanita yang tengah memukul Hanum pun berhenti dari aksinya. Wajah Andra yang familiar membuatnya mundur beberapa langkah. "Kalian tega sekali malah menjadikan ini sebagai tontonan, terbuat dari apa hati kalian ini?" omel Andra lagi pada warga.
"Dia itu wanita jala*g, tidak seharusnya ditolong," ucap warga seorang perempuan.
"Wah, hebat sekali Anda bicara! Anda wanita juga 'kan? Kalau ini ada diposisi Anda bagaimana? Apa lagi tidak melakukan apa pun sepertinya."
"Tuan tidak tahu kehidupan wanita ini, wanita hina yang bisanya menggangu suami orang. Jangan bilang, Tuan tertarik pada wanita ini!" timpal wanita yang lain.
"Ibu Rahayu kenapa diam saja, nanti menantunya diembat tahu rasa," celetuk warga yang lain.
"Hati-hati kalau bicara, suamiku tidak mungkin begitu." Nindya murka pada wanita yang mulutnya sangat lemes itu.
__ADS_1
"Nindya, sebaiknya kamu larang suamimu. Jangan sampai suamimu jadi sasaran berikutnya, seperti Ibu ini." Tunjuknya pada wanita yang tadi menjambak Hanum.
"Apa yang dilakukan Mbak ini sampai Ibu marah padanya?" tanya Andra pada wanita yang marah-marah tadi.
"Semalam suami saya jalan sama dia, sampai tidak pulang," jawabnya.
"Iya, bukan 'kah Hanum sering keluyuran malam? Jadi pasti pelakunya dia 'kan?" tuduhnya pada Hanum.
"Tapi semalam aku tidak kemana-mana," elak Hanum. Jangankan pergi, semalam Hanum tengah terpuruk dalam kesendiriannya apa lagi ia sedang ada masalah. Tapi masalahnya bukan dengan wanita itu atau pun dengan lelaki lain.
"Apa ada yang liat kalau mbak ini yang jalan dengan suami, Ibu ini?" tanya Andra pada warga, "atau, Ibu sendiri yang melihatnya?" sambungnya.
Tidak ada yang menjawab, karena memang Hanum tak pergi kemana pun. Ia sendiri sedang tidak enak badan, meski begitu, ia tetap harus berjualan demi sesuap nasi.
"Saya rasa tidak ada bukti, jadi saya minta semua bubar. Atau tidak saya akan menghubungi polisi biar mereka yang mengurusnya."
Mendengar polisi, para warga langsung bubar. Mereka pun takut, apa lagi dengan kondisi Hanum yang sudah babak belur.
"Terus, bagaimana urusan saya dengannya?" ucap ibu yang marah tadi pada Hanum.
"Itu urusan Ibu, lagian tadi Ibu dengar sendiri kalau semalam Hanum tidak pergi kamana pun," sahut Nindya, "Ibu mending pergi deh sebelum polisi datang, di sini Ibu yang salah loh. Ibu yang sudah menganiaya Hanum," sambung Nindya lagi.
Setelah berpikir, wanita itu pun pergi meninggalkan Hanum tanpa kata maaf.
"Terima kasih sudah membantuku," ucap Hanum, "saya permisi." Hanum membalikkan tubuh, tapi dengam cepat Nindya menahannya.
"Lukamu harus diobati, ayok ikut aku," ajak Nindya.
"Tidak, terima kasih. Saya bisa mengobatinya sendiri," tolak Hanum. Apa lagi ia takut dituduh macam-macam lagi oleh warga. Nanti dibilang akan merebut suami dari tetangganya itu.
Keberadaan Hanum memang terbilang masih baru di sini, ia tak mau ada masalah di tempat tinggalnya yang baru. Hanum bersi keras menolak ajakan Nindya.
__ADS_1
"Sudah, jangan dipaksa. Sebaiknya kita kembali ke rumah, warga juga sudah pergi. Aku rasa Mbak ini sudah aman," ucap Andra.
"Nama saya Hanum, maaf, saya tidak ingin merepotkan." Hanum mengatupkan kedua tangan, lalu ia masuk ke rumah kontrakkannya.