Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 40


__ADS_3

Lidia mencoba meredam emosi suaminya.


"Tenangkan dirimu." Lidia mengelus dada suaminya. "Ini masih bisa dibicarakan baik-baik, aku rasa ada alasan kenapa Andra menikah lagi."


"Kenapa kamu mendukungnya?" Morano kecewa karena istrinya malah memihak pada Andra.


"Aku bukan mendukungnya, coba kamu pikir dengan logika. Mana ada lelaki yang mau menikah dengan wanita yang sudah tak lagi perawan, kamu sendiri sampai menceraikan istri keduamu dulu."


Ternyata, Morano pernah mengalami apa yang Andra rasakan. Tentu kecewa disaat malam pertama yang diidam-idamkan ternyata hancur lebur dalam sekejap karena sang pengantin tak lagi dalam keadaan suci.


"Sakitkan rasanya? Kamu pun menceraikannya lalu menikah denganku."


Ucapan Lidia memutar memori Morano sewaktu dulu. "Tapi ini beda masalahnya, aku menceraikannya lebih dulu sebelum aku menikahimu. Tapi Andra? Dia menikah tanpa sepengetahuan Aileen."


"Bisa tidak kalau bicara itu tanpa emosi? Semua bisa dibicarakan baik-baik, tunggu sampai Aileen sadar. Kita bisa lakukan sidang keluarga sebelum ke persidangan. Buat malu saja, apa kamu tidak malu dengan kelakuan putrimu? Bagaimana pun Aileen lebih salah, kenapa dia tidak jujur padamu soal hubungannya dengan Adam yang sudah terlampau jauh? Jangan egois, pikirkan juga masa depan cucumu." Lidia jadi geram sendiri, rasanya ia sudah tidak sabar menunggu Aileen sadar.


Aileen juga harus memikirkan masa depan putrinya kelak, kasihan jika bayi itu tak memiliki sosok figur ayah. Pikir Lidia.


Mendengar penuturan Lidia, sedikit membuat mata hatinya terbuka. Mungkin wajar jika Andra berbuat demikian, tentu pikiran lelaki akan sama jika dikecewakan oleh istri. Akan mencari pelampiasan di luar sana. Harusnya ia juga beruntung, Andra tak berbuat kasar pada putrinya. Lambat laun, keadaan Morano pun tenang dengan sikap Lidia yang memperlakukannya dengan sangat lembut.


Sekeras apa pun laki-laki, pria itu akan jinak oleh pawangnya. Lidia bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan pada Morano, disitulah ia tak memandang usia. Padahal, Lidia lebih pantas menjadi putrinya ketimbang istrinya.


* * *


Andra terlalu sibuk memikirkan ibunya, sampai-sampai ia lupa akan keberadaan istrinya.


"Nindya." Andra pun kini teringat pada istrinya lalu beranjak dari tempatnya.


Ia pergi untuk mencari istrinya, dan meninggalkan Wiliam yang sedari bersamanya menemani Anye yang masih belum sadarkan diri. Wiliam melirik ke arah putranya yang tengah melintas di hadapannya, ia tak mencegah kepergian putranya karena takut malah memperburuk keadaan istrinya.

__ADS_1


Andra terus mencari keberadaan istrinya, tak terpikirkan bahwa wanita itu berada di dapur. Disaat ia akan melewati ruang dapur, ia mendengar percekcokan di sana. Karena penasaran ia pun pergi menuju sana. Setibanya di sana ia mendengar Loly tengah menyinyir wanita yang ia cintai.


Sadar akan ucapannya, Loly langsung membekap mulutnya rapat-rapat karena ia melihat keberadaan majikannya.


"Mampus gue," batin Loly. Ia harap majikannya tak mendengar semua ucapannya pada Nindya. Dengan seketika, Loly langsung berubah menjadi baik. Nindya sampai mengerutkan keningnya karena bingun akan perubahan drastis dari Loly.


"Aku kira kamu kemana, aku mencarimu ternyata kamu ada di sini."


Suara itu mengalihkan Nindya, ia menengok ke belakang dan melihat suaminya menghampirinya. Pantas, wanita yang tadi berkoar langsung terdiam dan berubah manis, ternyata ini alasannya, pikir Nindya.


Loly sudah dag dig dug, ia takut Nindya melaporkan semua apa yang telah dilontarkannya. Ia hanya bisa komat-kamit, berdoa agar wanita itu tak mengadukannya pada Andra yang katanya sudah menjadi suaminya.


Tak ingin membahas yang menurutnya akan membuang energi cuma-cuma tanpa ada manfaatnya, lebih baik Nindya diam saja. Ia tak peduli pada omongan Loly yang hanya membuat sakit di telinga.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Andra sambil melirik ke arah istrinya dan Loly.


"Tidak ada apa-apa, hanya sedang membahas masalah seorang pembantu yang bermimpi menjadi seorang ratu," kata Nindya sambil menyindir Loly.


Loly sendiri sedikit ketakutan akan hal itu, namun hatinya merasa sangat geram pada Nindya. Ia kalah telak karena ada Andra di sana.


Karena hari sudah berubah, Andra langsung saja menyuruh Loly untuk menyiapkan malam.


"Siapkan malam sekarang," titah Andra pada Loly.


"Baik, Tuan." Mau tak mau, Loly melakukan tugasnya bersama pembantu yang lain. Hanya Loly yang suka usil dan mencari gara-gara pada Nindya. Entah iri atau apa, yang jelas ia tak menyukai Nindya.


"Sayang, ayo kita ke kamar mommy," ajak Andra.


"Ta-tapi." Bukannya menolak, ia hanya takut pertengkaran kembali terjadi antara Wiliam dan suaminya. "Mommy pasti senang saat dia sadar melihatmu berada di sisinya, daddy tidak akan berani marah lagi padamu setelah kejadian tadi," jelas Andra.

__ADS_1


Akhirnya, Nindya pun ikut bersama suaminya untuk menemui Anye. Setibanya di sana, Andra dan Nindya melihat Anye sudah sadar, bahkan mereka melihat Wiliam sedang berbincang sambil menggengam tangan istrinya.


"Ayo," ajak Andra agar Nindya ikut masuk ke kamar.


Dengan langkah yang terasa kaku dan tak berpijak, Nindya akhirnya masuk ke dalam. Anye tersenyum melihat menantunya yang mau menemuinya, entah apa yang sudah dikatakan Anye pada suaminya. Kini Wiliam terdiam seribu bahasa. Bahkan ia memberi ruang pada putra dan wanita yang kini sudah menjadi menantunya itu agar bisa berdekatan dengan istrinya.


"Sini, duduk di samping, Mommy." Anye menepuk sisi ranjang agar menantunya duduk di dekatnya.


Nindya pun duduk di dekat ibu mertuanya.


"Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja. Berdoalah agar proses perceraian Andra dan Aileen berjalan lancar," kata Anye.


Apa maksudnya ini? Nindya tak mengerti, apa Wiliam sudah memberikan restu padanya? Dan kenapa pria paruh baya itu tak lagi berkoar seperti tadi yang hampir memperlihatkan kedua tanduknya? Nindya sampai berpikir keras akan hal itu, tapi tetap saja ia takut Wiliam hanya berpura-pura merestuinya padahal kenyataannya tidak.


Andra sendiri tidak menyangka dengan sikap sang daddy yang menjadi diam, tapi itu justru lebih baik, menurutnya. Tak berselang lama, Loly datang untuk memberitahukan bahwa makan malam sudah siap.


"Loly, bawakan makanan untuk istriku," kata Wiliam.


"Baik, Tuan."


* * *


Andra dan Wiliam makan malam berdua tapi tetap tanpa suara. Sedangkan Nindya, ia menemani Anye bahkan melayani ibu mertuanya dengan cara menyuapinya makan.


"Kamu juga makan, Nindya," kata Anye.


"Iya, Mom." Saat Nindya hendak memasukkan sendok ke dalam mulutnya, entah kenapa bau dari makanan itu sangat mengganggu penciumannya. Rasanya ingin muntah, tak bisa menahannya lagi, Nindya langsung beranjak dari tempatnya dan berlari ke kamar mandi.


"Hoek ... Hoek ... Hoek ..." Mual dan pusing itu langsung dirasakan oleh Nindya setelah mencium aroma yang tak sedap dari makanan itu.

__ADS_1


__ADS_2