
Si penjual arum manis yang bernama Halim itu bangkit dari tempat duduknya, ia menajamkan pandangannya ke arah sosok wanita cantik yang berdiri di bawah pohon besar. Ia meneliti dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Melihatanya ia teringat akan seseorang, wajah cantik itu semakin cantik bahkan wajahnya nampak bersinar. Mungkin efek dari kehamilannya. Halim menyunggingkan bibirnya, ia tersenyum. Saking tak percayanya dengan penglihatannya, ia terus mengucek kedua matanya. Apa yang dilihatnya itu benar putrinya? Saat ia berpisah dengan keluarganya Ayunindya genap berumur 17 tahun.
"Ayah." Nindya menghampiri sambil berurai air mata.
Begitu pun dengan Halim, kini ia percaya bahwa itu adalah anak gadisnya yang paling besar. Halim berjalan sampai gerobak gulali miliknya terguling, saking antusiasnya menyambut kedatangan putrinya.
Nindya menghamburkan diri di pelukan Halim, wanita hamil itu nangis sesegukkan.
"Ayah kemana saja? Kenapa Ayah pergi tanpa kabar?" Nindya memukul-mukul dada pria setengah abad itu.
"Maafkan, Ayah. Ayah tak bermaksud meninggalkan kalian." Halim pun menangis tak terbendung. Keduanya saling memeluk dengan erat, hingga Halim merasakan sesuatu pada tubuh putrinya.
Halim melepaskan tubuh anaknya, lalu menatap wajah hingga terus ke bawah. Ia melihat perut putrinya yang sedikit buncit. Dan Nindya pun tahu bahwa sang ayah tengah menatap perutnya, Nindya menyentuh dan mengusap perutnya sendiri.
"Kamu hamil?" tanya Halim.
Nindya mengangguk sambil menjawab. "Aku sudah menikah beberapa bulan lalu."
Halim kembali menangis, ia tak dapat menyaksikan hari bahagia putrinya itu. Halim kembali memeluk putrinya sambil terus mengucakan kata maaf.
Saat mereka berpelukan, Halim melihat sosok pria di sebrang sana. Lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Nindya.
"Sebentar, Ayah ada perlu dengan orang itu." Kata Halim sambil berjalan ke arah Andra.
Kini mereka saling berhadapan, Halim tidak tahu bahwa Andra adalah menantunya. Ia menghampiri Andra karena ingin mengebalikan kembalian tadi saat membeli arum manis darinya. Halim meregok saku celananya, ia mengambil uang tadi.
"Tuan, ini kembalian tadi. Saya panggil-panggil Tuan sudah pergi." Kata Halim sambil menyodorkan uang pada pria di hadapannya. Halim sendiri tidak mendengar jelas saat Andra mengatakan bahwa sisa kembaliannya untuknya.
Andra tak bersuara bahkan ia belum menerima uang kembalian itu, ia malah menangis karena sedih. Orang sebaik Halim kenapa dipisahkan dengan keluarganya? Nindya juga ibunya sangat baik, bahkan dengan kedua adiknya pun penurut.
__ADS_1
Halim malah bingung saat melihat pria di hadapannya menangis. Lalu ia melirik ke arah Nindya karena ibu hamil itu menghampirinya bahkan berdiri di samping pria yang masih asing baginya.
"Yah, Ini Andra. Dia suamiku," terang Nindya.
"Suami? Jadi yang membeli arum manis Ayah itu menantu, Ayah?" tanya Halim.
"Iya, maafkan aku, Ayah. Aku tahu keberadaan Ayah sejak tadi suamiku membeli arum manis itu." Terangnya sambil menangis lagi.
"Sudah, jangan minta maaf lagi. Ayah yang salah."
"Kita bicara di sana saja, bagaimana?" Tunjuk Andra pada sebuah warung makan di sebrang jalan, ia pikir kalau ayah Nindya pasti belum makan.
"Iya, Yah. Kita ke sana." Nindya menuntun Halim untuk ikut bersamanya.
Kini mereka sudah ada di warung makan itu. Andra memesan makanan yang paling enak di sana, ia menyuguhkan untuk ayah mertuanya. Halim dan Nindya sudah duduk di kursi, lalu Andra pun menyusul.
Tak lama dari situ, makanan datang. Halim menatap makanan itu satu persatu, akan terasa lezat jika ia menyantapnya. Sudah lama ia tak memakan makanan enak seperti ini.
Halim tersenyum dan mulai menyantap makanan itu.
"Aaa ..." Halim menyedorokan sendok berisi makanan ke arah mulut Nindya. Halim begitu bahagia bisa menyuapi putrinya kembali.
Nindya pun makan dengan lahap, makan dari tangan sang ayah terasa nikmat. Sedangkan Andra hanya bisa melihat mereka secara bergantian. Ia kembali menitikkan air mata karena terharu, betapa dekatnya mereka.
Makan pun sudah selesai. Halim mulai menanyakan Rahayu juga si kembar.
"Ibu dan adik-adikmu bagaimana? Selama 5 tahun ini kalian tinggal di mana?" tanya Halim.
"Kita tinggal di Sukabumi, Ibu, Nisa, dan Panji ada di sana," jawab Nindya.
"Besok saja kita temui mereka, ini sudah sore," timpal Andra. Andra memikirkan kondisi istrinya yang tengah hamil muda, ia takut Nindya kecapean dan malah berdampak pada kehamilannya.
__ADS_1
"Selama 5 tahun ini Ayah tinggal di mana?" Nindya penasaran karena ayahnya belum mengatakan kenapa ayahnya pergi.
Halim pun menceritakan semua yang menimpanya. Selama 5 tahun kebelakang. Pada hari itu, Halim seperti biasa pergi ke kantor. Ia menjabat sebagai staff keuangan. Setibanya di kantor, pimpinan marah besar karena uang perusahaan tidak ada.
"Halim, kamu kemanakan uang perusahaan? Kamu pakai uang sebanyak ini untuk apa?" tanya pimpinan itu sambil memperlihatkan bukti transaksi melalui rekening perusahaan dan itu masuk ke rekening miliknya. Karena Halim tak mengaku karena ia memang tidak tahu apa-apa soal itu. Hingga akhirnya, ia dijebloskan ke dalam penjara.
Selama di penjara, hanya Siska yang menjenguknya. Siska sendiri adalah adik dari Halim. Tanpa diketahuinya wanita itu telah mengusir keluarganya dari rumahnya. Setelah mendekam selama 3 tahun di penjara, Halim pun keluar dari sel. Ia langsung pulang ke rumah, tapi rumahnya sudah di tempati orang lain. Siska sudah menjual rumahnya. Dari situ ia mencari keberadaan keluarganya.
Halim tidak punya uang sepeser pun, disitu ia tak bisa mencari keluarganya. Menjadi mantan seorang napi membuatnya susah mencari pekerjaan. 1 Tahun ia luntang-lantung tidak jelas, dan selama 1 tahun sekarang, ia mulai bekerja menjadi penjual arum manis. Berdagang sambil mencari keberadaan istri dan anaknya.
Nindya yang mendengar langsung menangis. Ia kira, cuma ia dan ibunya yang menderita. Tapi Ayahnya jauh lebih menderita, tak bisa terbayangkan hidup di balik jeruji besi selama 3 tahun. Tentu berada di sana mengalami hal yang tidak diinginkan.
Nindya pun melihat beberapa bekas luka di tangan ayahnya, dan ia menyentuhnya.
"Luka ini pasti jauh lebih sakit dari yang aku alami dan ibu," ucap Nindya.
"Luka ini tak seberapa, sayang. Ayah selalu memikirkan hidup kalian." Lagi-lagi air mata yang keluar.
"Sebaiknya kita pulang," ajak Andra.
Dan akhirnya mereka pun pulang. Andra mengajaknya ke rumah utama, bagaimana pun ia harus mengenalkan siapa ayah mertuanya pada orang tuanya. Selama di perjalanan, Nindya terus berada di samping sang Ayah.
Andra sendiri sudah merasa jadi supir, ia duduk di kursi kemudi. Sedangkan istrinya berada di jok belakang. Nindya mengacuhkannya sejak tadi, tapi itu tak mengapa. Ia ikut senang jika orang tua istrinya berkumpul kembali.
Sampailah mereka di mansion keluarga Wiliam. Halim melihat rumah besar itu, kini ia tahu siapa sosok yang menjadi menantunya. Halim merasa enggan untuk masuk, ia merasa malu dengan keadaanya yang seperti ini. Kumel, dekil. Mungkin jika dibandingkan dengan pembantunya saja tidak ada apa-apanya.
"Ayok, masuk," ajak Andra.
Sementara di pintu utama, terdapat Wiliam dan Anye di sana. Mereka memang menunggu kepulangan anak dan menantunya itu. Orang tua Andra melihat orang asing bersama Andra dan Nindya.
...----------------...
__ADS_1
Maaf baru up, sebagai gantinya part ini lebih panjang ya. Selamat beristirahat. Jadwal up tidak menentu karena bentrok sama dunia nyata, tapi diusahakan up setiap hari. Terima kasih sudah mendukung karyaku๐๐๐