
Di bawah guyuran air, Andra melepas penatnya. Untung selagi ia masuk ke kamar, istrinya tengah berada di balkon, jadi wanita itu tak tahu akan keberadaannya di sana.
Aileen yang berada di balkon pun akhirnya masuk kembali, hawa dingin menerpa tubuhnya. Cuaca mendadak mendung dan sepertinya akan turun hujan lebat.
"Apa ada orang di sana?" tanya Aileen sendiri ketika ia mendengar gemircik air di dalam kamar mandi. Curiga akan siapa yang ada di sana, ia pun mengintip.
Bodohnya Andra, ia tak mengunci pintu kamar mandi tersebut. Setelah Aileen berhasil membuka pintunya, ia menelan salivanya. Tubuh gagah nan sempurna itu terpangpang jelas dipenglihatannya. Apa lagi ketika ia melihat kepemilikkan suaminya, jiwa hasratnya bergejelok. Ia tak bisa membiarkan momen ini.
Tanpa aba-aba, Aileen masuk dan menghampiri suaminya yang tengah bertelanjang tanpa busana. Andra memekik karena terkejut, apa lagi istrinya itu langsung merampas kepemelikannya dengan tangannya. Memberikan sentuhan lembut sampai kepemilikan Andra menegang.
Pria normal akan reflek disaat mendapatkan sentuhan itu.
"Sayang, milikmu besar sekali. Aku menginginkannya, biarkan aku memainkannya."
Andra diam mati kutu, Aileen keburu menyerang kepemilikannya menggunakan mulutnya.
"Ah, sial," rutuk Andra. Otak dan tubuhnya tidak sinkron, ingin menolak tapi sentuhan itu membuat jiwanya meronta. Bagaimana ini? Ini sudah terlanjur nikmat.
Aileen terus memperlancar aksinya, ia menyukai bagaimana ekspresi suaminya ketika mendapatkan sentuhan darinya. Tidak ada yang bisa menolak jika seorang Aileen sudah beraksi.
"Hentikan, Aileen." Kata itu lolos tapi ia menikmatinya.
"Aku istrimu bukan, aku berhak mendapatkannya." Aileen berpindah posisi, ia merampas bibir suaminya dengan brutal. Wanita itu sangat lihai membuat suaminya menikmatinya. Bibir terus bermain, bahkan tangannya pun ikut bermain di bawah sana.
Tanpa sadar, kini mereka sudah berada di atas ranjang. Wanita itu membuka bajunya sendiri, Aileen benar-benar terbakar api asmara. Dengan sekejap ia bisa membuat Andra menjadi pria yang tak berdaya. Pergelutan itu semakin panas, Aileen sudah berada di atas tubuh Andra. Hampir saja ia berhasil membenamkan kepemilikan suaminya padanya.
Tapi sayang, itu semua sia-sia. Wiliam datang dan melihat kejadian itu.
"Maafkan, Daddy. Daddy datang disaat waktu yang tidak tepat." Pria paruh baya itu kembali menutup pintu.
Seketika, Andra tersadar. Ia langsung meraih selimut dan melilitkannya di tubuhnya.
"Andra, mau kemana? Permainan kita belum selesai." Aileen nampak kecewa karena Andra tak menggubrisnya. Pria itu langsung kembali masuk ke dalam kamar mandi.
"Uh ... Hampir saja." Ia tak bisa meremehkan seorang Aileen. Cepat-cepat Andra meredam gejeloknya dengan mengguyur kembali tubuhnya dengan air dingin.
Sementara Aileen, wanita itu uring-uringan tidak jelas. Bagaimana hasratnya bisa tersalurkan? Sedangkan ia sudah berada di puncak kenikmatan yang berakhir gagal total karena ulah mertuanya sendiri.
__ADS_1
* * *
"Bersihkan tubuhmu, setidaknya pakai kembali pakaianmu. Jangan berharap lebih dariku, Ai. Aku tak bisa memberikan kepuasan untukmu." Kata Andra yang sudah memakai pakainnya.
"Kenapa? Bahkan kamu tadi sangat menikmatinya."
"Aku khilaf, maafkan aku."
Setelah mengatakan itu Andra benar-benar keluar dari kamar meninggalkan istrinya yang masih bertelanjang di atas kasur.
* * *
Karena hari sudah larut, Andra pergi menuju resto bersama Roy. Bahkan ia sudah membuat janji dengan Wiliam. Wajah Andra terlihat masam, bisa-bisanya ia kehilangan kesadarannya oleh istrinya itu. Untung ia tak masuk perangkapnya, kalau sampai itu terjadi sama saja ia mengkhianati cinta Nindya.
"Tuan kenapa? Kenapa ditekuk itu muka?" Karena sudah lama bekerja dengan tuannya itu membuat Roy tak segan meledeknya. "Apa ini ada hubungannya dengan Nona Aileen?"
"Tidak bisa dianggap remeh wanita itu, hampir saja aku melakukan itu dengannya. Dia jago di atas ranjang, Roy."
"Wah, wah ... Padahal ini pernikahannya yang pertamakan? Apa Nona Aileen sudah berpengalaman di atas ranjang?"
"Sepertinya begitu."
Apa lagi dengan Andra, ia lebih malu karena ketahuan. Pasti pria itu berpikir yang tidak-tidak terhadapnya. Tapi mau bagaimana lagi, mengelak pun percuma.
Wiliam mendudukkan diri di samping putranya.
"Mana istrimu? Apa dia tak ikut makan malam bersama kita?" tanya Wiliam.
"Dia di kamar," jawab Andra.
Wiliam mengerti akan hal itu, pasti menantunya lelah karena sudah bercinta dengan putranya. Pikir Wiliam.
Roy hanya melirik sekilas pada tuannya itu, ia merasa kasian pada majikannya yang harus hidup bersama wanita bar-bar seperti Aileen.
Makan malam pun telah usai, kini hanya menyisakan Andra dan Roy di sana. Wiliam lebih dulu undur diri karena ia harus menyiapkan energinya untuk besok di perusahaan yang sedang mengalami masalah.
"Apa Tuan tidak berniat untuk menemui Nona Nindya?"
__ADS_1
"Maunya sih begitu, tapi aku takut Daddy tahu. Aku belum siap, Roy. Aku cari aman saja."
"Tapi bagaimana dengan nasibnya?" Tunjuk Roy dengan wajah tepat pada kepemilikan sang majikan. "Apa kuat menahannya?" sambungnya lagi.
Andra jadi malu karena ia teringat dengan Aileen sewaktu tadi.
"Kalau mau, saya bisa mengantar Tuan untuk menemuinya," tawar Roy.
Apa kata Roy ada benarnya, kalau ia pergi bersamanya tentu Wiliam tidak akan berpikir yang macam-macam padanya.
"Mau tidak, mumpung saya tidak ada kerjaan."
"Apa kamu tidak berniat mencari kekasih? Usiamu sudah matang untuk menikah, Roy." Andra mengalihkan pembicaraan.
"Enak begini, Tuan. Melihat Tuan saja saya pusing dengan dua istri."
"Istriku cuma satu, tidak lama lagi aku akan menceraikan Aileen."
"Apa semudah itu menceraikannya?" Roy tidak yakin kalau tuannya bisa dengan mudah melepaskan wanita itu. "Jadi tidak menemuinya?" tanya Roy lagi.
"Sudah malam, kasian juga sama Nindya. Dia harus banyak istirahat, kakinya masih belum pulih."
Mendengar perkataan itu, Roy jadi teringat pada Lee pria yang sudah kurang ajar pada Nindya.
"Apa Tuan tidak curiga pada Lee, kenapa dia bisa kurang ajar pada istri Anda?"
"Nah, itu tugas untukmu. Cari tahu kebusukannya."
Hingga larut, Roy dan Andra menghabiskan waktunya di resto. Dari pada harus satu kamar dengan Aileen Andra lebih memilih bersama Roy di sana. Percakapan mereka sampai ngelantur kemana-mana. Memiliki anak buah sepertinya memang selalu bisa diandalkan, Roy tempat keluh kesahnya selama ini.
"Tuan, ini sudah malam. Apa Tuan tidak mengantuk? Pergilah ke kamar, Nona Aileen juga pasti sudah tidur. Ini sudah jam 2 pagi."
Andra melirik jam yang menempel di tangannya, ia memang mengantuk. Apa kata Roy benar bahwa wanita itu sudah tidur. Tapi ia akan memastikannya lebih dulu sebelum ia tidur di sana. Dan akhirnya, Andra dan Roy berpisah.
Andra menuju kamar yang ditempati Aileen, dan sepertinya wanita itu sudah tidur. Andra pun akhirnya tidur di sana, tapi ia memilih sofa sebagai tempat istirahatnya.
...----------------...
__ADS_1
Mampir di karya teman othor juga yuk.