
Karena Aileen sudah bersedia kembali padanya, ia tak segan-segan memberikan beberpa kecupan di wajahnya. Keduanya memang masih saling mencintai, terlebih dengan Adam.
"Aku akan menghubungi papa, aku akan katakan padanya bahwa aku tidak jadi ikut ke luar negri."
Aileen pun menghubungi Morano, untuk sementara ia tak berkata jujur akan kebersamaannya dengan Adam. Biarkan Morano saat ini ke luar negri dengan hati yang tenang.
"Pa, maafkan aku. Aku tidak bisa ikut dengan papa, tapi papa gak usah khawatir aku akan baik-baik di sini. Aku akan menyusul nanti setelah aku melahirkan," kata Aileen pada Morano lewat telepon.
Awalnya Morano tidak setuju, tapi ia pun tak bisa menunda kepergiannya. Karena sudah sangat mendesak, jika ia tak ke Swiss sekarang juga perusahaannya bisa dalam bahaya. Mau tak mau, ia mengizinkan keinginan putrinya.
"Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk bisa bersamamu," ucap Adam.
"Aku juga berterima kasih padamu karena masih menjadikanku wanitamu."
* * *
Hari ini, hari yang paling melelahkan bagi Andra. Akhirnya, proses percerainnya lancar. Tidak ada kendala di persidangan tadi, dan ia merasa sangat lega. Seusai dari persidangan, ia mampir ke kantor terlebih dulu. Karena ia tahu bahwa Roy tidak ada di kantor.
Hingga malam pun tiba, kini ia putuskan untuk pulang ke rumah. Apa lagi ia selalu teringat akan istrinya yang pasti sedang menunggu kepulangannya.
Andra pulang tepat pukul 22.15, rumah sudah nampak sepi. Akhirnya, ia langsung menuju kamar. Lampu kamar pun sudah dalam keadaan gelap gulita, ia yakin kalau istrinya pasti sudah tidur. Tidak ingin menggagu tidurnyq, ka membiarkan lampu itu tidak menyala.
Andra berniat membersihkan tubuhnya terlebih dulu sebelum tidur. Beberapa menit kemudian, ia sudah dalam keadaan bersih. Karena sudah sangat mengangtuk, ia langsung saja menuju tempat tidur dan langsung ikut bergelung di dalam selimut.
Setibanya di sana, bukannya tidur ia malah membuka mata lebar-lebar. Sungguh hidangan yang sangat menggoda ketika ia merasakan sesuatu di dalam sana. Bagaimana tidak, ia merasa ada yang beda pada istrinya.
Merabanya, sungguh menggoda iman bagi setiap lelaki yang melihatnya. Andra menyibakkan selimut, masih ada cahaya dari lampu luar sehingga mampu melihat kondisi istrinya. Dari mana istrinya memiliki pakaian seperti ini? Pikirnya.
Tapi tak peduli istrinya itu mendapatkan dari mana baju keramat itu, yang jelas, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah terhidang yang memang disengaja.
Andra mulai mendekati wajah cantik istrinya, mengecup kening, mata, hidung. Hingga terakhir ia berhenti di bibir ranum istrinya. Nindya yang tertidur pulas pun langsung terjaga karena merasa ada yang menggerayangi tubuhnya di balik selumut.
Entah nikmat atau apa, yang jelas Nindya melenguh. Dan itu membuat Andra semakin bersemangat. Apa lagi tak ada larangan dari dokter, meski kandungan usianya masih muda tapi itu tak menjadi penghalang rasa keinginannya. Janinnya cukup kuat, sehingga ia bisa melakukannya dengan secara perlahan tapi pasti.
Matanya bisa tertutup, tapi Nindya membalas ciuman suaminya. Wanita itu masih malu-malu tapi mau. Andra menghentikan ciumannya, dan saat itu juga Nindya membuka matanya.
__ADS_1
Nidnya tersenyum manis saat matanya saling beradu. Ia mengalungkan tangannya di leher suaminya, karena posisi Andra berada di atas tubuh istrinya. Jari-jari Andra menelisik disetiap inci wajah cantik itu. Nindya yang merasakan sampai memejamkan mata. Merasa mendesir dengan sentuhan lembut itu.
"Bolehkah aku melakukannya?" bisik Andra.
Nindya langsung menganggukkan kepala sebagai jawaban. Namun, ada yang ingin Andra tanyakan
"Dari mana mendapatkan baju ini?"
Nindya tak menjawab, ia merasa malu jika teringat akan kejadian di mana ia ketika mendapatkan baju keramat itu. Anye yang memberikannya padanya, dan wanita itu juga yang menyuruh memakainya malam ini juga.
"Anggap saja ini hadiah darimu karena Andra sudah menepati janjinya padamu," kata Anye.
Janji yang diucapkan Andra adalah menjadikannya wanita satu-satunya dalam hidupnya. Dan terbukti, hari ini Andra miliknya seutuhnya. Tentu, ia akan membahagikan suaminya malam ini.
Nindya berpindah posisi, kini ia yang berada di atas suaminya.
"Biarkan aku yang bekerja, kamu cukup diam dan menerima sentuhan dariku," bisik Nindya.
Mata Andra langsung berbinar, rasa lelah hilang seketika. Ia pasrah dengan apa yang akan dilakukan istrinya padanya.
Nindya pun mulai dengan aksinya, ia mulai memberikan sentuhan di tubuh suaminya. Belum apa-apa suaminya sudah bergelinjang tak karuan. Meski belum berpengalaman, tapi Nindya cukup mampu menguasai tubuh suaminya.
"Sayang, biarkan aku yang melakukannya. Aku sudah tidak tahan."
Andra siap menancapkan kepemilikannya, kapal selam mulai meluncur. Nindya hanya bisa memejamkan mata ketika kepemilikan suaminya menerobos masuk ke dalam intinya. Rasa nikmat mulai ia rasakan.
Pinggul yang bergoyang dan dihentakkan, bagai melodi yang ikut berirama. Terus dan terus semakin kencang, hingga keduanya pun menikmati puncaknya secara bersamaan. Tubuh Andra sekita amburk di samping istrinya dan tak terasa mereka mulai terlelap karena kelelahan.
Keesokkan harinya.
Seperti biasa, pagi ini mereka tengah sarapan bersama.
"Apa sidangmu lancar?" tanya Wiliam.
"Lancar, Dad," jawab Andra.
__ADS_1
"Kapan rencanamu mempublikkan istrimu?"
"Maksud, Daddy?"
"Resepsi, Ndra. Resepsi pernikahanmu," timpal Anye. "Mumpung kandungannya masih kecil, jadi belum gampang lelah. Kalau menunggu lahiran masih lama."
"Baiklah, aku cari waktu yang pas dalam dekat ini," kata Andra.
"Bagaimana? Kamu sudah siapkan?" tanya Anye pada menantunya itu.
"Aku bagaimana baiknya saja, Mom. Terserah suamiku."
Karena sudah sepakat, resepsi akan segera dilangsungkan dalam waktu dekat ini. Lagi pula, acara konferensi kemarin masih kurang untuk mempublikkasikan Nindya sebagai menantu di keluarga Wiliam.
Dan sarapan pun kini selesai, ini adalah hari weekand. Andra pun berada di rumah bersama istrinya.
"Aku rindu Ibu, kapan kita menemuinya?" tanya Nindya.
"Apa kamu ingin bertemu dengannya?
Nindya langsung mengangguk, terlebih ia sudah lama tidak bertemu dengan ibunya. Bahkan wanita paruh baya itu belum percaya akan kehamilan putrinya, tidak apdol rasanya jika tidak menanyakannya secara langsung.
"Kalau kamu mau, kita bisa ke sana sekarang juga Sekalian berlibur," kata Andra.
"Serius?" Nindya tidak percaya.
"Kapan aku bohong?"
"Aku siap-siap sekarang kalah begitu." Saking senangnya ia langsung mengemas bajunya juga baju suaminya. Sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua adiknya si kembar.
* * *
"Sudah siap?" tanya Andra.
"Sudah." Jawabnya sambil mengangguk.
__ADS_1
"Kita pamit dulu sama Mommy juga Daddy."
Setelah pamit, Andra dan istrinya segera pergi ke kampung. Sekalian menjemput mereka karena pesta pernikahan akan digelar dalam waktu dekat ini.