Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 34


__ADS_3

Keesokkan paginya.


Orang tua Aileen kembali ke tanah air sejak mereka tahu akan keadaan putrinya. Setelah Roy berhasil membawa Aileen ke rumah sakit, ia langsung melaporkan setiap kejadian apa pun terhadap wanita itu pada sang nyonya.


Roy bukan hanya bekerja untuk Andra, tawaran yang menjanjikan dari Anye membuatnya menerima pekerjaan dari ibu paruh baya itu. Baginya sangat kecil jika hanya untuk mengintai seorang Aileen. Dan untuk orang tua Aileen, mereka tahu kabar anaknya dari Anye sendiri. Wiliam tetap kekeh bahwa anak yang dikandung Aileen adalah anak dari putranya. Bahkan ia tak percaya jika Adam-lah ayah dari anak yang dikandung menantunya.


Semua ini hanya akal-akalan Andra, pikir Wiliam.


Adam dan Roy pun masih berada di rumah sakit, sejak semalam mereka tak meninggalkan rumah sakit. Apa lagi dengan Adam, pria itu begitu setia pada kekasihnya.


Wiliam dan Anye berada di ruangan di mana Aileen dirawat. Wanita itu masih lemas, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Penjelasan dokter, bahwa ia mengalami stres karena terlalu banyak pikiran. Dokter menyarankan untuk tidak membuatnya tertekan. Bagaimana tidak tertekan dan takut, pernikahannya diujung tanduk. Jika Wiliam tidak memperegoki anaknya yang sedang bercinta saat itu juga ia mungkin sudah didepak oleh keluarga Wiliam.


Dan untuk Adam, pria itu ditolak mentah-mentah oleh keluarga Morano yang tak lain adalah ayah dari Aileen. Sehingga ia tidak memungkinkan jika Morano akan mengakuinya bahwa anaknya menjalin hubungan dengannya.


"Roy, apa benar orang tua Aileen akan datang?" tanya Adam pada Roy untuk memastikan kabar itu.


"Iya, jadi saat mereka datang saya harap Anda ada di sini untuk memperjelas semuanya pada tuan Wiliam. Tenanglah, Nyonya Anye juga akan membantumu untuk kembali bersama nona Aileen," jelas Roy.


"Semoga tuan Wiliam percaya," ujar Adam.


* * *


"Pa, apa benar Aileen hamil?" tanya Lidia pada suaminya Morano yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Kenapa? Apa kamu ragu?" tanya Morano.


"Bukan ragu, Pa. Mama hanya tidak yakin kalau itu anak dari Andra."


"Apa maksudmu bicara seperti itu?"


"Ya, mungkin saja itu anak dari kekasihnya," celetuk Lidia. Lidia sendiri bukan ibu kandung Aileen, bahkan Lidia kurang suka pada anak tirinya itu.


"Jangan memperkeruh keadaan, Lidia. Aileen juga putrimu, jadi kumohon jangan menjelekan putriku!"


Lidia dan Aileen memang tidak pernah akur. "Itu hanya pikiranku saja, bagiku kehamilannya terlalu cepat," celetuknya lagi.


Perjalanan mereka pun akhirnya sampai di kota tujuan, Lidia tak sabar ingin segera bertemu dengan anak tirinya bahkan ingin melihat kehancuran wanita itu. Bagaimana tidak dendam, Lidia pernah hamil dan keguguran dan itu semua karena Aileen. Dan ini waktunya Lidia bertepuk tangan jika pernikahan anak tirinya mengalami masalah.


Dan ia juga curiga saat besan-nya, Anye, ingin bicara sangat serius mengalami Aileen dan Andra. Jika bukan karena Anye yang mendesak meminta bertemu dengan mereka, Morano pasti menunda pertemuan mereka. Ditambah lagi kehamilannya yang terbilang mendadak bagi Lidia.

__ADS_1


Bukan karena tak percaya Aileen hamil, Lidia bahkan sangat yakin kalau itu bukan anak Andra. Dia sendiri yang memberi obat penunda kehamilan, dan ia lakukan karena ingin balas dendam pada anak tirinya itu. Terkecuali Aileen hamil sebelum pernikahan, pikir Lidia.


Dan kini, mobil yang ditumpangi Morano dan Lidia sampai di rumah sakit. Mereka berdua segera turun dari mobil dan bergegas menuju ruangan anaknya di rawat.


"Maaf, Sus. Ruangan Melati di mana ya?" tanya Lidia pada resepsionis.


"Dari sini lurus, lalu ada ruang lab tak jauh dari sana ruangan Melati," jelas suster pada Lidia.


"Ok, terima kasih," ucap Lidia. "Ayo, Pa. Ruangan Melati ada di sebelah sana," ajak Lidia.


Mereka berdua berjalan secara bersamaan, bahkan Lidia menggandeng tangan suaminya dengan mesra. Umur mereka terpaut sangat jauh, itu alasan Aileen tidak suka pada mama tirinya karena wanita itu seumuran dengannya.


Roy dan Adam melihat kedatangan Morano dan Lidia. Adam hapal betul pada orang tua Aileen, terlebih pada Lidia karena mereka memang saling mengenal. Morano melihat keberadaan Adam Bagaskara di sana, dan menatapnya begitu tajam.


"Apa yang dilakukannya di sini?" batin Morano.


"Lihatlah, Pa. Adam ada di sini, apa dia memang tahu kalau Aileen hamil?" ucap Lidia pada suaminya.


"Diamlah, untuk ini kamu tidak perlu ikut campur," kesal Morano.


Orang tua Aileen segera masuk ke dalam untuk menemui putrinya.


"Tuan Morano," sapa Wiliam.


"Papa," ucap Aileen.


"Sayang." Morano memeluk putrinya dengan hangat. Dan Lidia menunjukkan kepeduliannya pada anak tirinya itu dalam keadaan terpaksa.


"Ya ampun, sayang. Kenapa bisa masuk rumah sakit?" tanya Lidia basa-basi.


Aileen memutar bola matanya dengan jengah, ia tahu kalau wanita itu hanya pura-pura berakting.


"Mana suamimu? Kenapa dia tidak ada saat kami tiba?" tanya Lidia lagi.


Pertanyaan itu membuat Aileen kembali gemetar, ia tahu kalau suaminya tak lagi peduli padanya. Bahkan Aileen tidak tahu dengan kondisi pernikahannyake depannya akan seperti apa.


"Andra belum datang karena ada urusan yang sangat penting di kantor," ucap Anye, ia tak ingin putranya disalahkan oleh keluarga Aileen.


"Oh, begitu. Aku kira kenapa?" ucap Lidia.

__ADS_1


Aileen tidak suka dengan kedatangan ibu tirinya, baginya hanya menjadi pengganggunya.


"Di mana Andra?" tanya Wiliam dengan berbisik di telinga Anye.


"Mungkin masih di jalan," jawab Anye.


"Apa dia tidak tahu kalau mertuanya datang?" bisiknya lagi.


"Tahu, tunggulah. Mungkin sebentar lagi dia sampai." Anye menenangkan suaminya.


* * *


Di apartemen.


Sedari tadi, Nindya sudah mencoba membangunkan suaminya. Tapi pria itu tak kunjung terbangun dari tidurnya. Andra sengaja karena ia malas untuk bertemu wanita yang kini masih berstatus istrinya.


"Ayolah, bangun ..." Nindya menarik selimut yang dikenakan suaminya. Tapi, kini ia malah ikut bergelung di dalam selimut itu. Karena Andra menarik tangannya.


"Ish ... Nakal. Ayok, bangun."


"Malas, aku ingin di sini bersamamu." Andra malah memeluk istrinya.


"Tapi kamu harus menyelesaikan urusanmu dulu dengan istrimu itu. Kamu tega menggantungku."


"Aku malas," jawab Andra apa adanya.


"Jangan begitu, dia masih istrimu."


"Baiklah, aku bangun. Tapi beri aku satu kecupan," pintanya.


Mmuaacchhh ... Nindya memberikan kecupan di kening.


"Kok di sini sih! Di sini dong." Andra menunjuk bibirnya.


Cup, kecupan itu mendarat sempurna di bibir Andra.


"Sudah, ayok cepat bangun." Nindya menarik tangan suaminya untuk segera membersihkan diri.


Setelah mandi dan sarapan, kini Andra bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Kedatangannya sudah ditunggu-tunggu oleh orang tuanya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, tetaplah di sini sampai aku kembali."


Nindya mengangguk patuh, dan mengantarkan suaminya sampai pintu.


__ADS_2