
Elena tidak langsung menjawab, ia menyembunyikan segitiga itu di belakang tubuhnya. Sial, kenapa ini harus terjadi? Bikin malu saja, pikirnya.
"A-aku tidak bermaksud menyentuhnya, aku tidak sengaja menemukannya."
"Kamu itu mencari apa?" tanya Elena.
"Cari minyak angin."
"Untuk apa?"
"Membangunkanmu, apa sebanarnya kamu sudah sadar sejak tadi? Kamu membohongiku?"
Elena bingung harus menjawab apa, ia berbohong karena ia belum siap dengan pernikahan ini. Apa lagi malam ini ia harus berada di satu ruangan bersama seorang laki-laki, bahkan harus tidur bersamanya.
Kalau Elena sudah sadar sejak tadi, itu artinya wanita itu tahu apa yang tadi dilakukannya. Untung Roy tidak menciumnya, sudah terciduk saja ia masih merasa beruntung.
Sejenak, mereka saling terdiam. Lalu, Elena menyentuh kepalanya yang masih sedikit pusing. Hampir saja ia kembali terjatuh, untung Roy dengan sigap menangkap tubuh istrinya.
"Istirahatlah, aku rasa kamu kecapean." Roy membantu Elena berjalan dengan cara memapahnya ke arah tempat tidur. "Apa perlu sesuatu? Biar aku ambilkan."
Elena tak percaya pada lelaki itu. Bagaimana pria itu bisa berubah baik padanya? Apa karena ia sudah menjadi suaminya? Pikir Elena.
Sebenarnya Roy baik, hanya saja setelah kejadian beberapa tahun lalu membuatnya tak sehangat dulu, apa lagi terhadap wanita. Ia takut kembali terjatuh, karena ditinggalkan saat lagi sayang-sayangnya.
"Ti-tidak ada, aku hanya butuh sendiri di kamar ini."
"Maksudmu? Kamu mengusirku?"
"Bukan begitu, aku mau ganti baju. Bisakan kamu keluar dulu sebentar?"
Mana mungkin Elena berani mengusirnya, secara, pria itu sudah menjadi suaminya. Meski tak ada cinta, tapi ia harus menghargainya sebagai seorang suami. Apa lagi kalau sampai om-nya tahu, bisa-bisa ia kena marah karena sudah menjadi istri durhaka.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan keluar. Aku akan kembali nanti, aku ada urusan di luar sebentar."
"Ini sudah malam, kamu mau kemana?"
"Ke rumah, mau ambil baju ganti."
Setelah mengucapkan itu, Roy pun keluar dari kamar. Saat ia keluar, ia bertemu dengan om Bagas.
"Mau kemana, Roy?" tanya Bagas.
"Mau keluar sebentar, Om. Aku permisi dulu, Elena juga sudah sadar, dia sedang istirahat."
"Oh iya, ibumu sudah pulang tadi. Dia diantar supir kok, kamu tidak perlu khawatir."
"Iya, Om. Terima kasih." Dan Roy pun melanjutkan perjalanannya yang hendak pulang lebih dulu.
* * *
Setelah pulang dan mengambil baju, Roy mampir di sebuah bar terlebih dulu. Ia menghilangkan sedikit penatnya dengan mencari hiburan, menikmati musik di dalam sana. Saat ia sudah berada di dalam, tak sengaja ia bertemu dengan Adam.
"Roy, bikin kaget saja," ucap Adam.
"Sedang apa kamu di sini?"
"Menurutmu?" balik tanya Adam.
"Ditanya malah balik nanya." Roy mendudukkan diri di sebalah Adam, lalu melambaykan tangan kepada salah satu pelayan di sana. Datanglah wanita seorang wanita cantik dengan pakaian sangat minim kekurangan bahan. Wanita itu sedikit menggodanya.
"Anda perlu apa, Tuan?" Tanyanya sambil menyentuh dagu Roy. Pelayan di sana adalah pelayan yang bisa dibooking siap kapan saja.
Roy sedikit risih dengan tingkah pelayan itu, sejak dulu ia tak suka dengan wanita murahan sepertinya.
__ADS_1
"Bawakan segelas minuman untukku," ucap Roy dengan nada dingin. Wanita itu pun pergi dan sedikit kecewa dengan sikap Roy.
"Kamu tidak tertarik padanya? Lihatlah, body-nya aduhai sekali," kata Adam.
"Tidak, aku tidak suka wanita murahan," celetuk Roy apa adanya. "Mending istriku kemana-mana," batinnya.
Tak lama, minuman datang. Karena Roy bersikap dingin, wanita itu tak lagi menggodanya. Roy langsung meminum minumannya, bahkan sekali tenggak minuman itu langsung tandas.
"Ada masalah?" tanya Adam setelah melihat Roy menghabiskan minumannya.
"Tidak ada," jawabnya. "Hanya ingin minum saja." Padahal, ia melampiaskan itu karena sudah menemukan segita milik Elena di kamar tadi. Hasratnya sedikit terpancing, apa lagi Elena sekarang sudah menjadi istrinya. Ia pria normal jelas pasti membayangkan segitiga itu saat dipakai oleh istrinya. "Ah, sial!" rutuknya kemudian.
Adam belum tahu kalau Roy kini sudah menikah, ia malah menwarkan minuman lagi padanya.
"Ayo, Roy. Kita sampai pagi di sini, besokkan hari libur. Ini, minum lagi."
"Tidak, Dam. Aku tidak bisa mabuk malam ini, aku juga tidak bisa lama-lama di sini."
"Ayolah, Roy. Kamu ini kaya sudah punya istri saja pulang cepat-cepat. Temani aku di sini."
"Mending kamu juga pulang, temani kekasihmu itu. Kenapa belum menikahinya, hah? Apa kamu sudah bosan padanya?"
Mana mungkin Adam bosan, justru ia ada di sini karena wanita itu. Aileen meminta waktu padanya untuk tidak bertemu beberapa waktu, dan ini membuatnya galau. Morano mengawasi putrinya dengan menyuruh beberapa pengawal untuk menjaganya. Morano belum menyetujui hubungannya dengan Aileen.
"Cari hiburan saja, Roy. Aku masih mencintainya, bahkan sangat."
"Lalu? Untuk apa kamu di sini, hah? Cepat pulang dan yakinkan wanitamu."
Lalu, Adam menceritakan semuanya pada Roy. Tapi untuk kali ini, Roy belum bisa membantunya. Ia pun tengah galau dengan kejadian yang menimpanya hari ini. Beberapa saat kemudian, Roy pun pulang lebih dulu.
"Dam, aku balik dulu ya?" pamit Roy.
__ADS_1
"Ah, Roy. Gak asyik kamu!"
Roy tidak mempedulikan omongan Adam, ia harus segera kembali karena ini cukup larut.