
Nathan mau pun Dewi melihat kesumber suara. Nathan menelan saliva susah payah saat melihat orang itu. Seorang sahabat yang kini menjadi pesaingnya. Merebutkan hati seorang wanita bukanlah perkara mudah, apa lagi mereka bersahabat.
Meski tidak mengkhianati, Nathan masih memiliki hati nurani. Bagaimana pun, Akhsa pasti terluka saat tau bahwa wanita yang ia sukai kini telah menerima cintanya.
Akhsa melihat Nathan menggenggam tangan Dewi, ia sudah menyimpulkan bahwa di antara mereka telah terjadi sesuatu. Tak menampik bahwa hatinya kini terluka, gadis yang ia cinta sudah termiliki. Namun, pria itu menunjukkan senyumnya. Tersenyum samar karena merasa sesak di dada.
Ia tak menyalahkan siapa pun, mungkin ini sudah menjadi akhir cerita cintanya. Ia harap, akan segera mendapatkan hati yang mampu menggantikan posisi Dewi di hatinya. Mengalah untuk kebaikan tidak ada salahnya.
"Kabar baik apa? Kalian tak berniat memberitauku?" tanya Akhsa lagi.
"Menurut, Kakak. Apa ini tidak terlalu terburu-buru? Kak Nathan akan melamarku hari ini juga, dia akan mengatakannya sekarang. Bagaimana ini? Kok, aku jadi gugup begini?" tanya Dewi kepada Akhsa.
Pria itu tak memberi jawaban. Dewi tidak tau bagaimana hatinya sekarang. Merasa tercabik-cabik, sakit tapi tak berdarah. Akhsa melihat Dewi dan Nathan secara bergantian, untuk masalah ini ia tak ingin ikut campur.
"Semua keputusan ada di tangan kalian, jangan libatkan pendapat orang lain. Karena belum tentu bisa sahati denganmu," tutur Akhsa, lalu ia berlalu.
Aku tau kamu pasti terluka, tapi bagaimana lagi? Jika aku yang mengalah, bukan cuma aku yang sakit. Dewi akan lebih sakit dariku. Dua hati akan terpatahkan.
Nathan terdiam sesaat, ia bisa merasakan apa yang dirasakan sahabatnya itu. Tangannya masih menggenggam tangan Dewi, ekor matanya menatap kearah tangan. Mengeratkan untuk meyakinkan hati Dewi.
__ADS_1
* * *
Semua sudah berkumpul di meja makan, Nathan dan Dewi terdiam. Apa lagi, Nathan tidak tau harus mulai dari mana.
"Kalian kenapa diam saja?" tanya Andra kepada Dewi dan Nathan.
"Makanmu belum berselera?" tanya Nindya.
"Tidak, aku akan makan," jawab Nathan. "Kamu mau makan sama apa? Biar aku ambilkan?" tawarnya pada Dewi.
"Tidak usah, aku bisa sendiri," jawab Dewi.
Sarapan sudah selesai. Nathan siap mengumumkan sesuatu. Ia menghela napas sejenak sebelum berbicara, lalu menghembuskannya dengan kasar. Jantungnya ikut berdebar, ia menjadi gugup. Kakinya pun ikut bergetar.
"Kamu kenapa?" tanya Halim pada cucunya.
Ok, Nathan. Kamu harus rilex, ini bukan mau perang. Kamu harus mengatakannya sekarang. Nathan membusungkan dada, kembali mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
"Nek, Kek," panggil Nathan. Ia harus mendapatkan restu dari mereka, karena bagaimana pun, mereka yang merawat Dewi. Mereka yang lebih berhak tau sebelum orang tuanya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu sakit lagi?" tanya Halim.
"Aku‐--" Lama sekali ia terkaku, "Aku-- Aku mencintai, Dewi. Dan aku ingin menikahinya."
Andra yang sedang minum langsung menyembur. Penuturan anaknya membuatnya terkejut, pasalnya ia tidak tau soal perasaan anaknya.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Nindya.
"Aku kaget saja, yang dikatakan Nathan itu benar?" tanyanya pada istrinya, "kamu mau menikahi Dewi?" sambungnya pada anak sulungnya.
Dewi menjadi was-was, ia takut tidak mendapatkan restu dari pria itu. Wajahnya sangat merah, entah ekspresi seperti apa, yang jelas pria itu sangat shock.
Akhsa pun ikut shock, karena ia tak menduga kalau Nathan akan secepat ini melamar Dewi. Inikah akhir sebuah cintanya?
...----------------...
Selalu membawakan karya untuk dibaca oleh kalian, bisa mampir di sini.
Judul : Istri Titipan Talak 3
__ADS_1