Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 6


__ADS_3

Malam semakin larut, perasaan Andra semakin gelisah tak menentu. Ia menyalakan lampu, lalu melihat jam yang ada di ponselnya. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, ia mencoba untuk tidur kembali. Semakin mencoba, ia semakin tak bisa memejamkan matanya.


Pikirannya yang selalu dihantui rasa bersalah, tak tenang rasanya jika ia belum tahu kondisi Nindya saat ini. Dalam sekejap, ia terbangun dari posisinya. Ia menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas nakas, memakai jaket lalu segera pergi. Sebelum keluar dari kamar, ia melihat ke arah istrinya . Wanita itu tertidur begitu pulas akibat obat tidur yang diminumnya.


Cepat-cepat ia keluar dari kamar lalu menuju garasi. Tak berlama-lama lagi ia menyalakan mesin mobil, dan mobil pun melaju. Mobil melaju dengan sangat cepat, tak terasa mobil yang ia kendarai sudah memasuki area perumahan elit. Namun di tengah perjalanan, Andra mendengar suara perempuan yang meminta tolong.


"Tolong ... Tolong ..."


Suara itu terdengar samar-samar di pendengarannya. Penasaran, ia pun menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia keluar dari mobilnya. Letak yang tak jauh dari papiliun membuat Andra tersadar akan suara tadi.


"Nindya." Pikirannya tertuju pada gadis itu. Andra berjalan mencari sumber suara yang tadi meminta tolong. Ia terus berjalan sampai pada semak-semak yang ada di dekat pohon besar. Matanya menjumpai sesosok lelaki di sana.


Entah apa yang akan dilakukan laki-laki itu, Andra semakin mendekat. Ia juga mendengar suara wanita merintih. Betapa terkejutnya ia ketika melihat siapa wanita di sana. Tanpa aba-aba lagi ia langsung memukul pria itu dari arah belakang.


Bugh ... Bugh ... Bugh ...


Beberpa kali ia layangkan pukulan pada pria itu, pria itu langsung berlari terbirit-birit.


Ya, Andra-lah yang menolong Nindya.


* * *


Di rumah utama.


Andra membaringkan tubuh yang tak sadarkan diri, melihat tangan dan kakinya yang penuh dengan luka. Ia mengobati luka itu. Nindya tersadar akan rasa perih yang ada di kakinya.


"Aaww," pekiknya.


"Kau sudah sadar?"


Andra menghentikan aktivitasnya yang sedang membersihkan luka dengan alkohol. Lalu ia fokus pada tangan Nindya yang memang belum sempat ia bersihkan. Meraih tangan itu dan menatapnya dengan nanar.


"Maafkan aku, Nindya." Andai malam itu tidak terjadi di antara mereka, mungkin kecurigaan Aileen tidak akan pernah ada. Dan Nindya pun tidak akan hengkang dari rumahnya.


Ia kira berada di rumah utama, Nindya akan jauh lebih aman. Namun ternyata tidak. Bisa-bisanya Lee berbuat kurang ajar.


Nindya menarik tangannya yang sedang di genggam oleh sang majikan.

__ADS_1


"Izinkan saya untuk mengobatinya, semua ini karenaku."


"Tidak usah repot-repot, biar saya sendiri yang mengobatinya."


"Jangan membantah! Saya tidak menerima penolakkan."


Andra kembali membersihkan darah kering yang ada di telapak tangan Nindya. Sesekali gadis itu meringis karena rasa perih. Andra meniup-niup tangan itu untuk mengurangi rasa perih yang dialami oleh Nindya.


Gadis itu terus melihat ke arah sang majikan karena dengan sangat telaten pria itu membersihkan lukanya. Karena mengantuk, Nindya sampai tertidur dengan posisi terduduk bersandar di sandaran ranjang.


Menyadari akan hal itu, Andra menyudahi aktivitasnya. Ia meletakan kain itu di atas nakas, dan membenarkan tidur Nindya. Merebahkan kepalanya di bantal. Tapi tiba-tiba saja Nindya menggigil, gadis itu mengalami demam. Bibirnya yang bergetar dan sedikit pucat.


Andra semakin bingung, ia tak mungkin menghubungi dokter. Semua orang akan tahu akan keberadaannya di rumah utama, apa lagi dengan keadaan Nindya seperti ini. Akan ada banyak pertanyaan dari keluarganya mengapa ia berada di sini.


"Mungkin hanya dengan cara ini bisa menghangatkan, Nindya."


Andra melepas bajunya, lalu mendekap tubuh yang sedang menggigil itu.


"Aku akan menghangatkau, Nindya."


Beberapa kali ia mengusap-usap punggung Nindya, memberi kehangatan di sana. Hingga tak terasa ia malah ikut terlelap, dengan posisinya yang saling berhadapan dan saling memeluk.


* * *


Ia pikir suaminya ada di kamar mandi, berniat melihat jam di ponsel. Tapi ia malah membuka pesan melalui chat di whatsup.


"Rencana kita gagal, Nona. Tuan Andra datang menyelamatkan Nindya."


Aileen membanting ponselnya. "Arghhh ...," teriak Aileen frustrasi. Kenapa bisa suaminya itu datang ke rumah utama malam-malam? Apa mungkin memang berniat menemui gadis itu? Aileen menyesal sendiri karena sudah meminum obat tidur semalam, ia jadi ia tidak tahu akan kepergian suaminya.


Tidak bisa didiamkan, wanita itu segera terbangun. Ia berniat untuk menyusul suaminya di rumah utama, karena ia yakin suaminya masih berada di sana bersama wanita itu.


* * *


Kilauan cahaya matahari menembus melalui cela jendela. Nindya merasa silau akan kilauan itu, ia merasa tubuhnya remuk redam. Masih setengah sadar, ia belum menyadari akan keberadaan majikannya. Nindya menyentuh kening yang terasa masih pusing.


Memorinya teringat akan insiden samalam, lalu ia langsung membuka mata. Terkejut, Nindya mendorong dada bidang yang terekspose di depan mata. Seketika Andra terjatuh ke lantai.

__ADS_1


"Aduh," pekik Andra.


Pria itu terbangun dari posisinya, dan mendudukkan diri di tepi ranjang.


"Apa yang Tuan lakukan di sini? Kenapa tidak keluar dari kamarku?" Jantung Nindya berdetak tak beraturan, ia takut semua orang tahu kalau majikannya tidur bersamanya untuk yang kedua kalinya.


"Saya tidak bisa meninggalkanmu dalam kondisi menggigil, semalam kau demam."


"Lalu, kenapa tidak memakai baju?"


Nindya tidak ingin lebih lama lagi menatap dada bidang yang cukup sempurna itu, ia membalikkan tubuhnya dan membelakangi Andra. Sadar akan hal itu, Andra segera mengenakan baju yang sempat ia lepaskan.


Nindya mengangkat kedua tangan, ada banyak luka di telapak tangannya itu.


"Pasti itu sakit, aku akan menghubungi Dokter untuk memeriksamu."


"Tidak, saya tidak apa-apa."


Gadis itu mencoba turun dari tempat tidur, ketika kakinya menyentuh lantai, ia sedikit meringis. Karena di telapak kaki-nya pun ada luka yang cukup banyak di sana. Dan itu membuatnya tak bisa berjalan dengan normal.


"Sepertinya saya harus memanggil Dokter."


"Jangan, Tuan. Saya tidak mau orang lain tahu masalah ini."


"Biar semua yang ada di rumah ini tahu kelakuan Lee, biar dia dipecat!" Mengingat kejadian semalam membuat Andra geram.


"Semua orang juga akan tahu dengan kajadian malam itu. Lee berbuat kurang ajar kepada saya karena, Tuan. Saya masih butuh pekerjaan ini."


"Apa maksudmu semua orang tahu dengan kejadian itu?"


"Lee tahu, dan itu semua karena Tuan menceritakannya padanya 'kan? Dia tidak akan tahu kalau Tuan tidak menceritakan semuanya. Apa Tuan senang jika saya dipecat? Keluarga saya akan makan apa jika saya keluar dari pekerjaan saya, Tuan?"


Andra terdiam mendengar penuturan Nindya, ia tak menceritakan kepada siapa pun.


...----------------...


Mampir di sini juga ya readers

__ADS_1



__ADS_2