
Aileen uring-uringan ketika ia tahu kalau Andra pergi ke luar kota dengan cara mendadak. Bahkan ia sudah teramat senang karena gadis kampung itu tidak ada di rumah utama. Ketidakadaannya gadis itu mempermudah untuknya melakukan suaminya agar dapat menyentuhnya. Tapi sekarang, suaminya pun malah pergi.
"Apa mungkin Andra menyusul gadis itu ke kampungnya?" Aileen curiga karena kepergian suaminya begitu mendadak dan bisa bersamaan dengan kepulangan gadis kampung itu.
Tak lama, ponsel milik Aileen berbunyi.
Ia melihat ID pemanggil, dan ternyata itu dari kekasihnya.
"Hallo," jawab Aileen.
"Hallo, sayang. Kamu lagi di mana? Aku rindu," kata Adam. Adam berani menghubungi Aileen karena ia tahu kalau suaminya tidak ada di rumah. Sejak pertemuannya tadi pagi dengan Andra, ia sengaja mengajak kerja sama dengan suaminya Aileen agar ia bisa memastikan kalau Aileen tak tersentuh oleh Andra.
Adam tidak akan menyerah karena penolakkan orang tua Aileen. Ia akan membuktikan bahwa ia pun pantas bersanding dengan Aileen, hingga ia putuskan ikut bergabung dengan perusahaan Andra. Ia ingin membuktikan pada orang tuanya Aileen bahwa ia bisa seperti Affandra Wiliam.
"Aku tidak mood bertemu," tolak Aileen.
"Kenapa? Apa kamu mulai mencintai suamimu?"
"Bukankah itu memang seharusnya? Dia suamiku dan aku berhak mendapatkannya."
"Tidak, tidak boleh ada yang menyentuhmu selain aku."
Perdebatan mulai terjadi antara Aileen dan Adam. Aileen mulai mencintai Andra, dan ia ingin mendapatkan laki-laki itu. Tapi tidak dengan Adam, ia tak rela kalau kekasihnya jatuh cinta pada suaminya. Bahkan ia nekat untuk mengenal Affandra Wiliam, ia sampai menjual beberapa aset miliknya untuk ikut bergabung dengan perusahaan pria itu.
Dengan begini, mungkin Aileen akan bisa menjadi miliknya karena orang tua Aileen tidak akan meremehkannya. Dan Aileen tidak akan bisa berbuat macam-macam padanya karena ia bisa saja membongkar rahasianya dengan Aileen yang masih menjalin cinta dengannya.
Aileen menutup ponsel miliknya.
"Aku harus memutuskan hubunganku dengannya sebelum terlambat, dan aku tidak ingin menjadi janda. Andra suamiku, pembantu itu tidak boleh memiliki suamiku, arghh ..." Aileen frustrasi sendiri jadinya.
* * *
"Katakan pada Ibu, apa yang sebenarnya terjadi? Kamu tidak bisa membohongi Ibu, Nak." Ibu Nindya yang bernama Rahayu itu membujuk anaknya untuk mengatakan yang sebenarnya. "Tidak biasanya kamu pulang cepat, loh."
Nindya mulai terisak, bagaimana caranya ia menyampaikan semuanya? Ibunya pasti kecewa padanya.
"Maafkan aku, Bu. Aku salah, tapi aku juga tidak tahu akan seperti ini jadinya." Tangis Nindya pecah di pangkuan Rahayu.
Rahayu merangkul anak gadisnya, mengelusnya dengan sangat lembut. Apa pun yang terjadi pada anaknya ia akan selalu menyemangatinya. Hingga akhirnya, Nindya mulai tenang. Dan ia mulai mengatakan semuanya apa yang telah menimpanya.
"Aku harus bagaimana, Bu?" Lagi-lagi Nindya menangis.
Rahayu terkejut ketika tahu anaknya sudah tidak lagi perawan. Padahal ia sudah memilihkan calon untuknya, kalau begini mana ada yang mau dengannya. Untung Rahayu belum memberitahukan pada Bayu soal Nindya yang akan ia jodohkan dengan pria itu.
Tok ... Tok ... Tok ...
__ADS_1
Nindya dan Rahayu menghentikan obrolannya kala mendengar suara pintu diketuk dari arah luar.
"Sebentar ya, Ibu ke depan dulu."
"Iya, Bu." Nindya menghapus sudut matanya yang masih menyisakan air mata, ia juga penasaran akan siapa yang datang. Nindya pun akhirnya ikut menyusul ibunya ke depan.
"Nak Bayu," kata Rahayu.
"Permisi, Bu. Ini, aku ada oleh-oleh sedikit dari Jawa." Bayu memberikan paper bag pada Rahayu.
"Wah ... Apa ini nak, Bayu? Tapi terima kasih oleh-olehnya."
Brak ...
Suara benda terjatuh dari dalam sana, sampai Rahayu dan Bayu melihat ke arah sumber suara tersebut. Ternyata Nindya menjatuhkan pas bunga yang tersimpan di atas nakas, ia tak sengaja menyenggolnya karena mengintip ke arah pintu.
"Nindya, kamu gak apa-apa?" tanya ibu.
"Gak apa-apa, Bu. Maaf, jadi mengganggu," kata Nindya.
Sementara Bayu yang melihat Nindya sedikit terpukau, pasalnya ia sudah lama tak bertemu dengan gadis itu.
"Cantik sekali," batin Bayu.
Tanpa menolak, Bayu langsung masuk. Dan kini mereka sudah duduk di ruang tamu.
"Ibu buatkan minuman dulu," pamit Rahayu.
* * *
"Kamu apa kabar?" tanya Bayu pada Nindya. "Sudah lama kita tidak bertemu."
"Kabarku baik."
"Kapan pulang?" Bayu memang tahu kalau selama ini Nindya mengadu nasib di kota.
"Baru hari ini."
Hening ...
Bayu jadi gugup seketika, jantungnya berdegub tak beraturan. Ia tak menyangka kalau Nindya akan tambah secantik ini, gadis yang selalu terlihat lusuh kini berubah 90 derajat. Kulitnya tambah putih serta berpakaian rapi.
Tak lama dari situ, Rahayu datang dengan sebuah nampan berisikan minuman.
"Diminum nak, Bayu." Rahayu mempersilahkan tamunya untuk memimun minuman yang disuguhkan.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu." Bayu meminumnya, tapi pandangannya terus tertuju pada Nindya.
"Kak Bayu," safa si kembar.
"Wah ... Punya mainan baru rupanya," kata Bayu yang melihat si kembar membawa mainan.
"Iya, Kak. Kak Nindya yang membelikannya." Antusias si kembar.
Karena sudah sore, Rahayu mengajak si kembar untuk membersihkan diri.
"Nisa, Panji. Ayok, kalian mandi dulu." Ajaknya sembari menuntun kedua bocah itu.
Dan kini tinggal menyisakan Nindya dan Bayu di ruang tamu. Hingga beberapa saat, suara mobil terdengar di pendengaran mereka. Karena penasaran, Nindya melengokkan pandangannya ke arah luar.
"Itu 'kan mobil Tuan Andra, ngapain dia ke sini?"
Bayu pun mendengar penuturan Nindya. "Siapa Tuan Andra?"
"Majikanku."
"Dia menyusulmu?" Sampai Bayu merasa aneh, untuk apa majikannya menyusulnya? Apa ada sesuatu?
Sang pemilik mobil pun turun dari kendaraannya, wajah tampan itu begitu terpancar. Wajah sedikit kebule-bulean membuat Bayu sendiri kagum ketika melihatnya.
Nindya pun beranjak dari tempatnya, ia menghampiri Andra yang masih berdiri di dekat mobilnya. Hingga keduanya saling memandang. Dan pandangan Andra memaling ketika melihat sosok pria yang keluar dari arah pintu. Hingga rasa penasaran itu muncul tiba-tiba.
"Siapa lelaki itu?" batin Andra. Karena setahunya, Nindya tak memiliki kerabat di sini. Ia hapal betul keluarga Nindya, bahkan gadis itu bukan asli orang sini. Mereka terpaksa pindah ke sini karena ada problem dengan keluarga ayahnya.
Dengan langkah kaki tertatih, Nindya menghampiri. Luka di bagian kakinya memang belum sembuh sempurna pasca kejadian dengan Lee waktu lalu.
"Kakimu masih sakit?" Andra khawatir akan hal itu, dan ia langsung berjongkok melihat kaki Nindya.
"Aku tidak apa-apa, Tuan."
"Tapi saya lihat kamu berjalan tertatih, pasti lukanya masih basah."
Bayu yang melihat langsung berdehem.
"Ehem ..."
"Apa-apaan mereka? Tidak lihat ada aku di sini," batin Bayu menggerutu.
"Aku gak apa-apa, Tuan. Tolong jangan begini, malu dilihat orang." Nindya menarik tubuh Andra agar berdiri. "Untuk apa Tuan datang kemari?"
Tadinya Andra akan datang nanti malam, tapi ia rasa ia harus bicara terlebih dulu pada ibunya. Meluruskan kejadian yang menimpa anaknya, dan semoga ibu Rahayu mau memaafkannya dan menerimanya jadi menantunya.
__ADS_1