
Rahma memperhatikan anak dan menantunya, mereka terlihat seperti sedang kejar-kejaran. Kemana pun Elena berpindah tempat, Roy selalu mengikutinya.
"Kalian itu kenapa?" tanya Rahma.
"Bu, tolong aku." Elena memperlihatkan wajah melasnya.
"Ada apa sebenarnya, hah? Roy, kamu bisa diam tidak? Mata Ibu pusing melihatmu," tutur Rahma.
"Tolong aku juga, Bu," rengek Roy yang seperti anak kecil.
"Ini, tolong. Itu, tolong. Ibu pusing dengan kalian." Bukannya menolong, Rahma memilih pergi karena tidak ingin ikut campur urusan anak dan menantunya.
"Gara-gara kamu, Ibu jadinya pergi!" cetus Elena.
"Udah dong, jangan ngambek terus. Aku gak bisa dicuekin kamu terus," pinta Roy.
Sementara Andra, ia menahan tawa karena melihat Roy yang seperti itu. Pria dingin itu kini seperti budak cinta, sedangkan ia tak sadar diri bahwa dirinya pun sama seperti Roy. Kelabakan saat sang istri tengah mencuekkan dirinya.
Karena yang lain sudah undur diri, yaitu pak penghulu, om Bagas dan istrinya. Adam putuskan malam ini tidak bermalam di rumah Roy. Andra sang bos sudah mempersiapkan sebuah apartemen yang ia hadiahkan sebagai kado pernikahan mantan istrinya.
"Tuan," panggil Adam, "saya mau pamit," tuturnya.
Andra menoleh, lalu menghampiri lebih dekat. "Ini, gunakan ini untuk tempat bermalam-mu." Andra menyerahkan sebuah kunci pada Adam, dan pria itu menerimanya dengan senang hati.
Sekilas, Aileen melirik ke arah mantan suaminya. Ternyata benar, bahwa pria yang ia cintai itu adalah Adam. Saat ia melihat Andra tak ada rasa apa pun yang dirasakannya, semua terasa biasa saja. Tak ada yang spesial pada lelaki itu.
Nindya yang melihat langsung melingkarkan tangannya di tangan suaminya, wanita hamil itu mendadak cemburu, ia memperlihatkan keposesiv-annya terhadap sang suami. Andra hanya tersenyum saat melihat aksi istrinya.
"Hati-hati di jalan, ya? Kalian akan diantar oleh anak buah Roy. Untuk memastikan kalau kalian selamat sampai tujuan." Andra sedikit khawatir karena anak buah Morano masih berkeliaran.
Morano sendiri masih sibuk di luar negri mengenai perusahaannya yang sedang ada kendala itu. Tapi Aileen lebih suka papanya tidak ada, ia merasa bebas jika sedang bersama Adam yang kini resmi menjadi sauminya setelah beberapa jam lalu.
.
.
.
__ADS_1
* * *
Semua sudah undur diri dari kediaman Roy, termasuk Andra dan Nindya. Kini hanya menyisaka Rahma di sana, ibu paruh baya itu berencana akan pulang hari esok.
"Bu, boleh tidak aku tidur sama Ibu?" pinta Elena.
Rahma, dengan senang hati mengizinkan menantunya tidur bersamanya. Lalu, bagaimana dengan nasib Roy? Pria itu kembali kesepian malam ini.
Setelah mendapat izin, Elena bergegas ke kamar untuk mengambil selimut untuknya.
"Kenapa Ibu mengizinkan istriku tidur bersama Ibu? Bagaimana dengan nasibku malam ini?" Roy terus mengikuti aktivas ibu yang sedang di dapur.
"Kamu ini kaya anak kecil saja, memangnya kenapa kalau Elena tidur bersama Ibu? Hanya untuk malam ini saja kok, lagian baru malam ini kamu ditinggal tidur oleh istrimu."
Rahma tidak tahu saja, kalau semalam Roy tidur di sofa karena Elena tidak mengizinkan tidur bersamanya.
"Bu," rengek Roy.
"Kamu bilang saja sana sama istrimu kalau kamu keberatan. Jangan menyuruh Ibu, nanti dia salah paham sama ibu lagi."
"El, kamu jangan tidur sama Ibu, dong. Tega ninggalin aku lagi? Semalam saja aku kedinginan." Ucap Roy sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Lepas, jangan kaya anak kecil seperti ini. Malu kalau sampai Ibu melihat." Tutur Elena yang mencoba melepaskan tangan suaminya dari tubuhnya.
Tapi Roy menahannya, malam ini ia tak akan membiarkan Elena pergi dari sisinya. Tanpa basa-basi, ia membawa istrinya ke tempat tidur. Lalu dengan cepat ia mengunci pintu dan mematikan lampu, sampai ruangan menjadi gelap.
"Roy, jangan becanda," kata Elena, "kamu mau apa?" tanya Elena lagi saat sang suami tengah berada di atasnya.
"Aku menginginkan, El. Aku ingin bermanja denganmu, jangan marah lagi ya? Aku sadar aku salah. Aku janji tidak akan seperti ini lagi," jelas Roy sambil mencium pipi istrinya.
"Tidak akan lagi karena Laura sudah meninggal, coba kalau dia masih hidup? Aku gak yakin, kamu pasti akan meninggalkanku lalu kembali padanya."
"Sudah dong, El. Jangan membahas masa laluku, ini membuatku tersiksa." Roy memeluk istrinya sangat erat, ia kapok dan tak akan lagi mengutamakan orang lain. Karena itu membuatnya rugi.
Pelukan Roy yang selalu membuat Elena nyaman, dekapannya, kecupannya, pokoknya semuanya. Roy tak membiarkan istrinya begitu saja, ia terus memberikan sentuhan lembut pada Elena. Hingga akhirnya, Elena pun luluh dan terbuai akan apa yang dilakukan suaminya.
"Roy, aku sudah janji pada ibu. Dia pasti menungguku." Elena menjeda aktivitas suaminya yang sedang mencumbunya.
__ADS_1
"Tanggung, El. Dia sudah menegang loh," ucapannya yang dimaksud adalah pada senjatanya.
Tok ... Tok ... Tok ...
"El, kamu sudah tidur?" Panggil Rahma sambil mengetuk pintu.
"Belum, Bu," sahut Elena.
Tadinya Roy akan membekap mulut istrinya, tapi ia terlambat sehingga Elena pun beranjak dari tempat tidur. Ia menemui ibu mertuanya yang ada di depan pintu.
"Jadi tidak tidur sama Ibu?" tanya Rahma setelah Elena membuka pintu.
"Jadi, Bu." Elena mangangguk, lalu ia kembali ke kamar untuk mengambil selimut.
"Nasibku bagaimana?" tanya Roy, ia melohok saat Elena tak mempedulikannya dan malah meninggalkannya. Roy pun tidak bisa berbuat apa-apa karena istrinya sudah menghilang dari pandangan.
* * *
Apartemen.
Adam dan Aileen baru saja sampai, sektika Aileen mengaduh karena merasa sakit di bagian perutnya.
"Dam, perutku," keluh Aileen.
Adam panik karena Aileen begitu kesakitan. Meski begitu, ia langsung membawanya ke rumah sakit. Untung, anak buah Roy masih berada di sana. Ia pun meminta bantuan pada mereka dan Aileen segera dilarikan ke rumah sakit.
Setibanya di sana, Aileen dibawa ke ruangan bersalin. Dokter mempekirakan bahwa wanita itu akan melahirkan. Karena ada bekas luka di bagian perut pasca tusukan kemarin membuat Aileen harus di bawa ke ruang operasi. Ditambah lagi dengan usia kandungannya yang belum genap 9 bulan.
Adam sendirian di sana, ia tak punya sanak saudara. Hatinya merasa sakit, tak ada yang menemani istrinya selain dirinya. Adam harus membayar administrasi terlebih dulu, dan meninggalkan istrinya yang sedang kesakitan.
Aileen melahirkan anaknya dengan prematur, sakit yang amat luar biasa kini tengah dirasakan olehnya.
"Papa ...," teriak Aileen, hanya Morano bagian keluarganya selain Adam, "Sakit, Pa ...," Aileen menangis merasakan sakit itu.
Setelah membayar administrasi, Adam langsung kembali menemui istrinya. Dokter dan yang lain bergerak cepat, operasi akan segera dilakukan. Tak bisa menunda karena Aileen begitu histeris.
"Ai, ada aku. Aku yakin kamu bisa." Adam mencium kening istrinya dan menemani persalinan.
__ADS_1