
Sesampainya di apartemen, anak buah Anye langsung pergi dan meninggalkan Nindya seorang diri. Hingga beberapa saat ia terbangun karena obat bius sudah mulai menghilang.
"Kepalaku pusing sekali."
Nindya menyentuh kepala sambil melihat di sekelilingnya. "Di mana aku?" Ia tak mengenali tempat tersebut, karena takut sesuatu terjadi padanya, ia langsung menghampiri pintu. Sayang, pintu terkunci dan mengakibatkannya tak bisa keluar.
"Tolong ... Tolong ..." Nindya teriak histeris karena ia merasa sudah diculik. Ia gelagapan, yang diingatnya hanya pada Andra. Nindya berpikir hanya dia yang bisa menolongnya. Ia pun mengambil ponsel yang ada di tas kecil miliknya. Tapi ia bingung antara menghubunginya atau tidak, yang ia tahu ia pergi bersama orang-orang yang sering dilihatnya di rumah utama.
Tak berpikir panjang lagi, ia menghubungi suaminya. Sialnya, ponselnya tak bisa diajak kompromi. Ponsel miliknya sudah tua, bahkan sering ngadat ketika hendak dibutuhkan seperti sekarang. Andra belum sempat memenuhi kebutuhan istrinya karena keadaan yang belum memungkinkan.
"Ish ... Tidak berguna!" Ia membanting ponselnya.
"Kalau Andra yang menjemputku kenapa dia membawaku ke sini?" Nindya menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil membulatkan matanya. "Apa mereka sudah tahu tentang perninakahan ini? Itu sebabnya mereka menculikku?"
Takut, ia berusaha untuk kabur dari apartemen. Tapi bagaimana caranya ia kabur dari sini? Ia melihat ke jendela, tambah terkejut karena tempat yang ia kunjungi ternyata berada di lantai atas. "Ya, Tuhan ... Inikah akhir dari kisahku bersama orang yang aku cintai?"
Tapi Nindya tak ingin menyerah, mungkin suaminya tengah memperjuangkan pernikahannya. Kini ia pun harus berjuang untuk itu, tidak peduli lagi dengan status mertua yang kini masih menjadi majikan.
"Aku istrinya, aku harus memperjuangkan rumah tanggaku. Andra ...," lirihnya. Meski mencoba melawan, ketakutan itu tetap ada. Siapa dirinya yang berani melawan seorang Wiliam? Hingga lama ia berada di sana, sampai ia tertidur dengan sendirinya di pojokan dekat tempat tidur.
* * *
"Roy, kenapa ponsel milik Nindya tidak aktif?" tanya Andra.
"Coba bubungi Ibunya?" saran Roy.
"Ibu Rahayu tidak memiliki handphone, Roy. Sudah beberapa hari aku tidak mengabarinya, dan aku cemas dengannya."
Roy menepuk keningnya sendiri, kenapa tuannya malah menjadi seperti orang pikun? Apa masalah ini membuat otaknya buntu? Mana Andra yang cerdas?
"Apa masalah ini cukup berat? Beberapa perusahaan saja bisa ditangani masa bini dua saja tidak bisa," celetuk Roy membalikan omongan tuannya karena sering mengejeknya soal wanita. Kini tuannya sendiri pun mengalami yang selama ini ia sering rasakan. Roy suka dibikin pusing oleh wanita, makanya ia lebih suka menyendiri.
__ADS_1
"Aku serius, Roy. Jangan memancing emosiku! Aku takut terjadi sesuatu padanya, cepat cari informasi tentang istriku di sana. Kamu bisa menghubungi pihak kantor untuk menyelidiki keberadaan istriku di sana."
"Ya, baik 'lah." Roy langsung meregok ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya yang bekerja di kantor cabang.
Tak berselang lama, Roy mendapatkan notif pesan. Ia membulatkan matanya saat membaca pesan tersebut. Anak buah Roy mendapatkan informasi kalau Nindya sudah dijemput dan itu orang suruhan Andra sendiri.
"Tuan, Nona Nindya sudah dijemput, katanya Tuan sendiri yang memerintahkan orang-orang itu."
"Apa? Orang-orang siapa maksudmu?"
"Ibu Rahayu bilang, orangnya masih pekerja di rumah utama," jelas Roy.
"Apa orang-orang itu suruhan Daddy?" duga Andra. "Roy, kita harus ke rumah utama, apa Nindya ada di sana?"
* * *
"Mau kemana? Istirahatlah, kamu 'kan baru pulang dari rumah sakit," kata Wiliam yang melihat istrinya sudah berpenampilan seperti biasa.
Wiliam nampak tenang sekali, seolah tidak terjadi apa-apa pada keluarganya. Ia begitu percaya akan Aileen, wanita itu begitu pandai membuat orang percaya padanya. Kehamilannya membuat Wiliam begitu mendukungnya, karena ia sungguh mendambakan seorang cucu untuk pewarisnya.
"Apa kamu masih mempermasalahkan Aileen dengan Andra? Apa kamu ragu dengan anak yang dikandungnya?" Wiliam percaya itu anak Andra karena ia melihat sendiri bahwa anaknya sedang bercinta dengan menantunya itu, ia berpikir ini hanya akal-akalan anaknya karena tidak mencintainya.
"Andra tidak pernah tidur dengan Aileen," jelas Anye.
Wiliam tertawa mendengar penuturan istrinya. "Dan kamu percaya? Aku sendiri yang melihat mereka bercinta sewaktu di hotel, Anye! Sudahlah, kamu jangan tanggapin itu omongan anakmu." Setelah mengatakan itu, Wiliam pun berlalu.
"Dasar keras kepala, aku sendiri yang akan membuktikannya padamu." Anye pun pergi bersama sang supir.
Mobil Anye keluar, dan mobil Andra masuk ke rumah utama. Mereka tak sempat berpapasan.
* * *
__ADS_1
"Dad, Daddy ...," teriak Andra.
"Apa teriak-teriak, Andra?" jawab Wiliam.
"Tuan, sepertinya bukan Tuan Wililam pelakunya," bisik Roy. "Tuan jangan memancing kemarahannya," bisiknya lagi.
"Ada apa? Kalau mau bertemu dengan mommy-mu baru saja dia pergi. Daddy tidak tahu kemana dia pergi," jelas Wiliam. "Kamu meninggalkan istrimu di rumah sendirian?"
"Ada Mona di rumah, Dad." Mau memperpanjang masalah pun percuma karena Wiliam sudah salah paham terhadapnya, jadi Andra tidak lagi membahas soal Aileen pada sang daddy. Ia sedang mengatur waktu untuk mempertemukan Wiliam dengan Adam juga Aileen, tapi wanita itu masih enggan keluar dari kamar dan bertemu dengannya.
Dan sepertinya Wiliam bukan pelakunya, jadi Andra dan Roy pergi. Roy malah curiga pada Anye, karena wanita yang tahu apa yang terjadi antara Andra dan Nindya. Anye belum tahu akan pernikahan anaknya karena Roy belum menceritakan tentang itu.
"Kemana kita mencari Mommy?" Andra mencoba melacak keberaan Anye lewat GPS, tapi sayang ia tak menemukan keberadaan Anye. Karena terakhir ditemukan itu masih di rumah utama, wanita itu mematikan ponselnya sebelum pergi.
* * *
Apartemen dijaga ketat dari luar, para penjaga berjaga di depan pintu. Karena sang majikan datang, pria bertubuh tegap itu membungkukkan tubuhnya pada Anye. Dan tak lama pintu dibuka.
Anye masuk ke dalam sana, ruangan itu nampak gelap. Karena waktu menunjukkan sudah pukul delapan malam, dan lampu langsung dinyalakan.
Tap ... Tap ... Tap
Suara langkah kaki itu membuat Nindya terbangun dari tidurnya. Ia membuka mata, dan dilihatnya sepesang sepatu cantik, ia tahu siapa pemilik sepatu tersebut. Nindya langsung bangkit dan menatap wajah Anye dengan mata yang masih silau dari cahaya lampu.
"Nyonya ..." Nindya kembali menunduk.
"Bawakan makanan kemari?" titah Anye pada anak buahnya yang berdiri di belakangnya.
"Duduk, dan makanlah dulu," perintah Anye pada Nindya setelah makanan sudah terhidang di atas meja.
"Sa-saya tidak lapar, Nyonya. Saya hanya ingin pulang."
__ADS_1
"Kalau kamu pulang itu artinya kamu tidak ingin bertemu dengan anakku?"
Nindya langsung menatap wajah sang majikan.