Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 190 Kedatangan Gadis Gaduh


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, pelukan itu terlepas saat mendengar suara pintu yang diketuk.


Tok tok tok ...


"Masuk," sahut Nathan, "Mom." Nindya datang membawakan makanan untuk Dewi.


"Makanlah dulu, Mommy tidak ingin kamu sakit. Dan ini, obat yang harus kamu minum." Nindya meletakan nampan serta obat di atas nakas, "tubuhmu agak hangat, ini hanya obat penurun saja," terangnya. Setelah itu, Nindya pun kembali undur diri.


Nathan mengambil piring yang berisi makanan, lalu menydokkan makanan itu dan menyodorkannya ke mulut Dewi.


"Makanlah," ucapnya.


Dewi menggeleng. "Aku tidak lapar." Dewi mendorong sendok agar menjauh dari mulutnya.


Nathan menghela napas, ia tahu ini pasti sulit baginya. Tapi ia tak mungkin membiarkan Dewi dalam keadaan perut kosong. Mungkin sejak pagi setelah berangkat kuliah, kekasihnya belum makan apa-apa. Bahkan hari ini sudah gelap.


"Aku tidak mau kamu sakit, makanlah walau sedikit." Nathan tak menyerah, ia terus mengulurkan tangan yang memegang sendok berisi makanan ke dekat mulut kekasihnya itu.


Dewi menatap sendok itu, lalu beralih pada wajah Nathan. Nathan mengangguk seraya mengiyakan agar gadis itu menerima suapan darinya. Dan berhasil, Dewi membuka mulut dan mulai mengunyah makanannya.


Tok tok tok ...


Nathan dan Dewi menoleh ke arah pintu.


"Siapa lagi?" gumam Nathan. Nathan menghela napas seraya beranjak dan membuka pintu. "Kau ..."

__ADS_1


Malam-malam bertamu, apa tidak bisa menunggu hari esok? Nathan ingat betul dengan orang ini, dia yang pernah mengomelinya saat di kampus. Siapa lagi kalau bukan gadis yang berkacamata tebal dengan poninya pun ikut tebal.


"Dewinya ada 'kan? Aku ingin bertemu dengannya," ucap Sisil.


Belum Nathan menjawab, Dewi muncul dari belakang Nathan. "Siapa, Kak?"


"Wi?" Sisil langsung memeluknya sampai tidak sadar kalau pria yang disebalahnya terdorong ke pintu. Sisil melepaskan pelukkannya sambil memegang kedua tangan Dewi, lalu matanya menyipit seperti mengintimidasi. Menatapnya secara bergantian kepada Dewi juga Nathan.


"Apa yang kalian lakukan dalam satu ruangan? Sejak kapan kalian akrab? Kakak mencari kesemapatan dalam kesempitan? Mentang-mentang Dewi butuh teman untuk menghiburnya, Kakak menjadi pahlawan kesiangan, begitu?" Sorot matanya menajam pada Nathan yang tengah bersandar di sisi pintu akibat dorongan dari Sisil.


"Suutthh ... Jangan mengada-ngada. Ayok masuk." Dewi menarik tangan Sisil untuk masuk ke kamarnya. Nathan pun mengekor dari belakang.


"Kamu sama siapa ke sini? Ini sudah malam, kenapa tidak menunggu besok?" tanya Dewi.


"Tidak apa-apa, terima kasih sudah menyempatkan waktu menemuiku," ucap Dewi.


Nathan berdiri sambil bersedakap tangan, ia mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Lalu Sisil menoleh kepadanya.


"Ngapain dia masih di sini? Kenapa kamu membiarkan seorang laki-laki berada di kamarmu?" bisik Sisil. Meski berbisik, tapi itu cukup Nathan mendengarnya.


"Karena ini rumahku, kamu tidak berhak berkata seperti itu jika sedang bertamu di rumah orang." Nathan kesal sampai ke ubun-ubun, bahkan ia ingat betul kalau gadis amat galak padanya.


"Ya, aku tau ini rumah Kakak. Tapi ini kamar seorang gadis, kalian lawanan jenis. Itu tidak baik berada di sini, apa lagi ini kamar. Aku tau, Kakak berniat menghibur tapi gak gini juga 'kan? Sekarang ada aku di sini, Kakak bisa keluar," usir Sisil.


"Sil," protes Dewi.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu suka ditemani pria tak berhati ini? Kalau aku sih ogah." Sisil memutar bola mata jengah.


"Kalau bukan cewek, sudah aku usir dari sini. Buat gaduh saja," gumam Nathan.


"Apa?! Kalau berani ayo, siapa takut!" tantang Sisil.


"Kalau ke sini cuma untuk bertengkar mending kamu pulang, aku pusing," omel Dewi.


"Kamu usir dia saja jangan aku." Tunjuk Sisil pada Nathan.


"Kamu tidak berhak mengusirku, ini rumahku!" Nathan tak kalah sengit dari gadis bau kencur itu.


Dewi memijat pelipisnya, ia merasa kepalanya tambah pusing dengan pertengkaran mereka. Dewi mendekat ke arah Nathan lalu berucap. "Kakak ngalah saja ya, biarkan aku sama Sisil di sini."


Nathan mengusap kepalanya lalu mengangguk. "Baiklah, aku pergi," pamitnya, membiarkan gadis gaduh itu bersama Dewi. Semoga dengan keberadaannya membuat Dewi terhibur.


...----------------...


Mampir di karya temanku yuk.


Judul : Halaman Terakhir Kisah Sabrina


By : Smiling27


__ADS_1


__ADS_2