
Di sini, berdiri di depan rumah besar dengan pagar yang menjulang. Dewi menatap rumah besar itu dengan hati yang hampa. Rumah yang menjadi tempatnya berteduh selama berada di kota besar itu. Dan kini ia harus merelakan semuanya, ia sudah bertemu dengan ayah kandungnya. Mau tak mau ia harus berpisah dengan keluarga yang selama ini sudah membesarkannya.
Menarik napas panjang. Mengambil pasokan oksigen sebanyak-banyaknya, dan kini ia sudah siap bertemu dengan mereka. Siap untuk mengucapkan terima kasih, terima kasih atas segala yang sudah diberikan tanpa imbalan kepadanya.
Belum Dewi masuk, sebuah mobil baru sampai di depan gerbang. Dan itu adalah Dewa, sudah beberapa hari ini ia tak bertemu dengan gadis itu. Dewa pun akhirnya turun.
"Dewi," panggil Dewa. Dewi menoleh, lalu tersenyum tipis.
"Kamu kemana saja? Apa kamu tahu bagaimana kondisi kakak-ku setelah kamu pergi?" Dewi menggelengkan kepala, setahunya, pria itu baik-baik saja. Bahkan kemarin Nathan terlihat sangat baik. "Ikut aku." Dewa menarik lengan Dewi agar langsung ikut dengannya. "Pak, masukkan mobil," titah Dewa pada security. Ia melempar kunci itu, dan security dengan sigap menangkapnya.
Dewi terus ditarik, hingga mereka sampai di depan pintu kamar Nathan. Pria yang kini tak berdaya karena sedang sakit. Sakit hati, dan sakit segalanya.
"Dewi," panggil Nindya, "kamu sudah sampai?" tanyanya.
"Ya, Aunty. Aku baru saja sampai." Dewi melepaskan cekalan Dewa, ia langsung menghampiri Nindya, karena urusannya datang kemari disebabkan wanita paruh baya itu. "Ada apa Aunty menyuruhku datang kemari?" Perasaannya sudah was-was, apa lagi ingat akan perkataan Dewa, yang ia bilang setelah kepergiannya terjadi sesuatu pada kakaknya itu.
"Ada yang mau Mommy katakan," jawabnya.
"Aku juga, Aunty," balas Dewi.
Dewa mengerutkan keningnya, penasaran dengan apa yang akan dikatakan gadis itu kepada ibunya. Dan itu terlihat sangat serius. Dewa masih berdiam di tempat, ia ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh mereka.
"Kita bicara di kamar Mommy saja." Ucapnya sambil berjalan menuju kamar. Dewi pun mengekor dari arah belakang.
Sedangkan Dewa, ia jadi tak bisa mendengar apa yang akan dibicarakan oleh mereka. Yang bisa ia lakukan adalah menemui kakak-nya untuk mengatakan akan keberadaan gadis itu. Gadis yang menjadi penyebab kakak-nya seperti orang gila.
* * *
__ADS_1
Di kamar.
Jantung Dewi berdebar begitu cepat, rasanya ia tak sanggup berpisah dengan keluarga yang sudah membesarkannya. Ia terus merem*s ujung bajunya, mengalihkan perasaannya. Betapa bimbangnya ia sekarang. Wajah itu terus tertunduk, tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Serasa ada dosa yang sudah ia perbuat.
"Wi," ucap Nindya, "apa jika Mommy meminta sesuatu padamu, apa kamu akan mengabulkannya?" tanyanya.
Dewi langsung mengangkat wajah dan menatap ke arah Nindya. Permintaannya membuat dirinya bingung. Nindya mendekat, lalu meraih tangan gadis itu.
"Mau 'kan menjadi bagian di keluarga ini?"
"Maksud, Aunty?" Dewi semakin bingung.
"Sebelumnya, Mommy minta maaf. Maaf jika selama ini anak Mommy selalu membuatmu merasa terhina. Tapi perlu kamu tahu, di balik itu ada rasa takut. Takut akan kehilanganmu, Wi."
"Siapa yang dimaksud, Aunty?" Sebenarnya Dewi tahu siapa yang dimaksud anaknya, tapi ia mencoba untuk diam. Sejujurnya, kedatangannya kemari bukan untuk membahas siapa yang selalu menghinanya.
Seseorang datang menghentikan percakapan mereka. Wajah pucat, suhu tubuh panas, tapi ia memaksakan diri untuk menemui gadis yang ia suka selama ini. Nathan datang dengan sejuta harapan. Berharap gadis yang ada di depan matanya mau memaafkannya.
Melihat kondisi Nathan yang terlihat tidak baik-baik saja membuat Dewi sedikit khawatir. Apa yang diucapkan Dewa tentangnya itu benar apa adanya. Lelaki itu terlihat kacau. Rambut yang biasa terlihat rapi itu kini berantakan tak tentu.
Kedatangan Nathan dan kondisinya seperti ini tak membuat Dewi goyah. Ia tetap pada tujuannya. Berharap keluarga ini bisa mengerti. Bukan berniat untuk meninggalkan keluarga ini. Tapi sekarang ia sudah dipertemukan dengan ayah kandungnya, mau tak mau ia harus berpisah dengan mereka.
"Aunty, kedatanganku kemari untuk mengembalikan ini." Dewi merogok saku celanaya. Mengambil sebuah kunci apartemen dan kartu yang sama sekali belum pernah ia gunakan. "Terima kasih sudah menjadi tempat berlindung dan keluh-kesahku. Maaf jika selama ini sudah merepotkan kalian." Ucapnya sambil meraih tangan Nindya dan memberikan kunci dan kartu itu.
"Apa maksudnya ini, Dewi? Kamu akan kembali ke rumah ini?" duganya.
Ada sebuah senyuman yang terukir di bibir Nathan, berharap akan dugaan sang mommy benar. Dewi kembali dan menetap kembali di rumah ini.
__ADS_1
"Berat rasanya untuk melakukan ini, tapi aku harus. Aku sudah bertemu dengan papa-ku, Aunty. Dan mulai saat ini, aku akan ikut bersamanya," terang Dewi.
"Apa?" Nindya terkejut tak percaya. Bagaimana ceritanya gadis itu bisa bertemu dengan ayahnya.
"Papaku sudah menceritakan semuanya, kini aku sudah tahu kenapa dia meninggalkan almarhum mama. Semua sudah takdir, aku tidak menyalahkan itu. Aku senang dan bahagia bisa mengenal keluarga ini," ucap Dewi.
Senyum yang terukir hilang dari bibir Nathan, itu artinya ia akan berpisah dengan Dewi? Lalu, bagaimana dengan perasaannya? Apa ia akan patah hati? Dewi akan pergi selamanya dari rumah ini? Tak sanggup rasanya jika ia berpisah untuk selama-lamanya.
Mulut terasa terkunci, sakit di kepala terasa semakin bertambah. Dadanya terasa sesak. "Jadi kamu akan pergi? Pergi dari rumah ini untuk selama-lamanya?" Menguatkan diri bertanya dan menahan beban tubuh agar tidak limbung.
"Iya, Kak. Maafkan aku ya jika aku ada salah selama ini sama, Kakak? Kakak tidak akan risih lagi padaku, aku juga tidak akan membuatmu marah lagi padaku," ucap Dewi.
Jika dulu ia suka dengan seperti itu, tapi tidak dengan sekarang. Ia harus mencegah gadis itu agar tidak pergi.
"Ada kalanya aku harus pergi, terima kasih sudah merawatku. Mungkin setelah ini aku akan pergi menemui ibu, ibu yang sudah membesarkanku," ucap Dewi pada Nindya.
"Kamu tega meninggalkan, Mommy?" tanya Nindya.
"Aku tidak akan pergi jauh, kita akan tetap bertemu walau aku sudah pergi. Jalinan di antara kita tidak akan putus sampai kapan pun. Aku menyayangimu." Dewi memeluk wanita paruh baya itu dengan sangat erat. Meski berat untuk pergi, ia tetap harus pergi.
Pelukan itu terlepas,. dan disaat itu Nathan menghampirnya. Ia menarik tubuh gadis itu. Rasa panas dari suhu tubuh Nathan dirasakan oleh Dewi.
"Kamu sakit, Kak. Tubuhmu panas sekali," ucap Dewi.
"Dia sakit karena mehanan rindu, Dewi," celetuk Dewa, "kenapa harus ditahan? ayo ucapkan sebelum terlambat."
Dewi langsung melepaskan pelukkan itu, tak sadar bahwa Nathan memeluknya tanpa aba-aba.
__ADS_1