
"Apa yang kalian lakukan di kamarku?" tanya Panji, pria itu sangat terkejut saat melihat dua insan tengah saling berpelukkan, "kalian berbuat mesum di kamarku, hah?"
"Jangan teriak-teriak, nanti ada yang dengar," ucap Nathan, "aku bisa jelaskan, Om. Ini tak seperti apa yang Om bayangkan, aku dan Dewi-."
"Ciuman? Aku tadi sempat melihatnya, kalian tidak bisa mengelak lagi! Daddy dan mommy-mu harus tahu soal ini," ancam Panji.
"Silakan, dan aku pastikan, Om pasti keduluan menikah olehku. Apa Om mau? Keduluan sama ponakan yang umurnya di bawah, Om?"
Sial, bisa-bisanya dia menyeretku dalam masalah ini. Tapi malu juga harus kedualan Nathan, keduluan Nisa saja aku sering dapat ejekkan, terlebih dari kakak.
"Jadi, bagaimana? Apa masih mau mengadukanku pada daddy soal ini?" tanya Nathan, padahal hatinya sudah deg-degan, takut omnya itu mengadukan soal ini. Bisa-bisa ia dicincang seperti daging kalau sampai tahu ia tengah berduaan dengan Dewi. Pasti mereka mengira yang tidak-tidak.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Kak," timpal Dewi.
"Kamu jangan mau dipeluk-peluk sama lelaki ini, apa lagi sampai dicium," cetus Panji.
"Apa ada yang salah? Aku dan Dewi saling mencintai, dia sekarang pacarku." Kata Nathan sambil menarik tubuh Dewi, dan merapatkan tubuh gadis itu dengan tubuhnya.
Dewi menatap ke arah Nathan tak percaya, sejak kapan menjalin hubungan? Dia hanya menyatakan cintanya, bukan memintanya untuk jadi pacarnya.
Panji menatapnya sebal, bisa-bisanya keponakkannya itu pamer soal pacarnya. Sedangkan ia tengah berjuang mendapatkaan pujaan hatinya. Kalau sudah begini hanya menerima nasib menjadi jomblo sejati.
"Kak Panji, jangan katakan ini sama uncle Andra ya? Nanti dia marah, aku ke sini tadinya hanya mengantar Kak Nathan, dia itu lagi sakit, Kak," jelas Dewi pada Panji.
"Sakit macam apa seperti ini? Dia itu cari kesempatan dalam kesempitan, Dewi. Kamu mau aja ditipu laki-laki ini." Kata Panji sambil menunjuk Nathan.
"Kak Nathan memang sakit, dan itu karenaku. Dia baru sembuh, terus mengantarku ke pasar. Kalau Kak Panji tidak percaya, sentuh saja dia," jelas Dewi.
Lalu, Panji pun menyentuh kening keponakannya. Suhu tubuhnya memang sedikit hangat. "Itu hanya hangat biasa, bukan sakit. Itu bisa-bisanya dia saja biar bisa berduaan denganmu. Lagu lama," cetus Panji, "tapi suruh dia istirahat," ucapnya kemudian. Setelah itu, Panji pun undur diri dari kamarnya. Ia meninggal Dewi dan Nathan di dalam sana.
"Awas kalau kalian macam-macam!" Panji kembalu membalikkan tubuh saat berada di ambang pintu.
* * *
"Kakak istirahat saja, aku mau bantuin kak Nisa. Kasian dia masak sendiri."
Nathan menahan kepergian gadis itu, karena Dewi tak kunjung mengutarakan perasaannya. Meski ia sudah tahu dengan isi hatinya, tapi rasanya belum puas jika kata cinta itu terucap. Dewi masih malu-malu, Nathan memaklumi itu. Mungkin ini pertama kali baginya.
__ADS_1
"Lepaskan aku, Kak." Kata Dewi lagi sambil menarik tangannya yang sedari tadi di genggam oleh Nathan, "tidak enak lama-lama berduaan di kamar."
"Tapi mereka tahu aku sedang sakit, kamu tega meninggalkanku sendirian di sini?"
"Sakit jangan dibuat alasan, benar apa kata kak Panji. Kakak itu hanya mencari kesempatan dalam kesempitan."
"Iya, seperti tadi saat aku menciummu. Kakau tidak begitu, mana aku tahu soal perasaanmu padaku. Mulai sekarang, jangan ada yang dititupi lagi, yah?"
Dewi benar-benar tidak enak berada di dalam kamar itu terus menerus. Meski ia tengah menunggui Nathan. Tapi ada Panji yang tahu soal kejadian barusan, ia tak mungkin membiarkan dirinya berada di dalam kamar cukup lama. Karena Nathan tak kunjung melepaskan tangannya, secara prontal, Dewi menggigit tangan lelaki itu.
"Aduh, sakit, Wi," keluh Nathan.
"Sukurin, itu balasan untuk orang yang ngeyel kayak, Kakak." Karena Dewi sudah terlepas, gadis itu langsung keluar dari kamar Panji.
* * *
Makan malam sudah siap, bahkan semua sudah berkumpul di ruang makan. Dewi tengah melayani orang tua yang selama ini membasarkannya.
"Gak kerasa kamu sudah besar, Wi," ucap Nisa, "nanti Ibu terpisah lagi sama kamu nika kamu nanti bersuami," sambungnya.
"Berpisah juga gak jauh, Nis. Dia tetap ada di sini, masih jadi bagian keluarga kita," timpal Panji.
"Yang jadi suaminya aja keponakan kita, Dewi tidak akan jauh-jauh dari keluarga ini," yakin Panji.
"Keponakan? Maksudmu?" tanya Nisa.
Ingat keponakan, Rahayu jadi ingat Nathan. Cucunya tidak ada di meja makan, dan akhirnya, Rahayu menyuruh Dewi memanggilkan Nathan untuk segera bergabung.
"Iya, Wi. Panggil calon suamimu untuk segera ke sini, jangan ngerem aja di kamar," ujar Panji.
"Kamu ngomong apa sih?" Nisa sangat penasaran.
"Iya, apa yang kamu bicarakan?" tanya Halim yang ikut penasaran.
Dewi memajamkan matanya ke arah Panji, dan Panji pun melihatnya. Ia tahu tatapan itu, pasti gadis itu masih merahasiakan hubungannya dengan keponakannya itu.
"Ayah tanya saja pada Dewi, dia pasti ngerti," kata Panji.
__ADS_1
Semua orang kini menatap ke arah Dewi, mereka jadi penasaran dengan apa yang diucapkan Panji.
"Kenapa kalian menatapku? Jangan dengarkan apa kata Kak Panji, dia itu ngarang cerita. Bicaranya ngaur."
"Sudah-sudah ... Siapa pun yang menjadi pacar Dewi, Ibu setuju-setuju saja. Sebaiknya kamu panggil Nathan, Ibu yakin dia pasti ketiduran.
"Iya, Bu. Aku temui dia." Dewi pun pergi.
* * *
Klek, pintu ia buka. Kamar terlihat gelap. Seperti tak berpenghuni. Dewi menyalakan lampu dengan menekan saklar. Saat lampu sudah menyala, tidak ada siapa-siapa di sana. Kamar itu terlihat kosong.
"Kemana kak Nathan pergi?" kata Dewi.
"Apa, Wi?" tanya Nathan tiba-tiba dari arah belakangnya.
Dewi langsung membalikkan tubuh. Betapa terkejutnya ia saat melihat pemandangan yang tak seharunya ia lihat. Dewi menutup mata dengan kedua tangan, tak berani melihat Nathan dalam seperti itu.
Ya, Tuhan ... Mataku sudah ternoda. Apa yang dia lakukan?
"Kamu kenapa menutup mata?" tanya Nathan.
"Kakak sudah baikan?" tanya Dewi.
"Sudah, ini baru selesai mandi. Kamu ngapain ke sini?" Nathan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang. Sehingga bagian dadanya terpangpang jelas, maka dari itu, Dewi menutup matanya karena tidak ingin melihat yang seharusnya tidak dilihat.
"Disuruh ibu, cepat pakai bajumu. Semua orang sudah menunggu." Dewi masih menutup matanya, "aku juga menunggu di ruang makan." Dewi mulai pergi. Tapi, lagi-lagi Nathan menarik lengan Dewi sehingga gadis itu terjerembab di dada bidangnya.
"Apa yang Kakak lakukan?" tanya Dewi. Gadis ituasih memejamkan matanya, "lepaskan aku, Kak. Ini sudah diluar batas, aku tidak mau ada orang ketiga."
"Orang ketiganya setan," jelas Nathan, "liat aku, Wi?"
Dewi pun membuka mata. "Kamu mau gak jadi pacarku?"
...----------------...
Mampir di sini yuk? Ceritanya menarik sekali🥰🥰
__ADS_1