Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 48


__ADS_3

Saat Adam membuka pintu, betapa terkejutnya ia ketika melihat siapa yang ada di sana. Seorang wanita tengah terbaring. Tunggu, kenapa dia ada di sini? Meski pikirannya berkenala entah kemana, tapi ia senang tak terkira.


Perlahan, Adam menghampirinya. Ia melihatnya lekat-lekat, merasa ada yang aneh, kenapa Aileen seperti ini? Dia tidur atau pingsan?


"Kejutan ...," ucap Roy.


Suara itu mengejutkan Adam.


"Kamu culik dia? Tapi kenapa dia tidak sadar?" tanya Adam. "Kamu itu sekretaris apa penculik, hah?"


"Ih ... Kok, malah sewot sih. Harusnya kamu itu berterima kasih padaku, aku sudah berhasil membawanya untukmu," sombong Roy.


"Roy, kenapa dia tidak sadar-sadar? Kamu membiusnya?" Adam memang akui kalau Roy itu hebat, tapi jika caranya seperti ini salah. Morano bisa menuduhnya atas penculikan.


"Tenang saja, sebentar lagi juga sadar. Aku terpaksa membiusnya agar semuanya mudah," jelas Roy.


Detik, menit, jam. Aileen masih belum juga sadar, Adam gelisah, dan menjadi khawatir. Pasalnya, wanita itu sudah satu jam dalam keadaan pingsan. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan agar wanita itu sadar?


"Roy, apa ini tidak bahaya? Aileen sudah satu jam seperti ini, aku takut dia kenapa-kenapa."


Apa kata Adam ada benarnya juga, ia juga merasa khawatir dengan wanita hamil itu. Apa ini karena obat bius itu? Apa anak buahnya melebihi dosis? Roy pun sama paniknya seperti Adam.


"Roy, panggil dokter saja. Aku takut kandungannya kenapa-kenapa kalau dia terlalu lama seperti ini," usul Adam. "Kamu bisa minta tolong sama dokter yang biasa dipanggil tuan Andra." Adam tahu kalau istri tuannya itu sedang hamil sama seperti Aileen.


Malas rasanya jika Roy harus berurusan dengan dokter itu. Menurutnya, dokter Elena tak cocok menjadi dokter. Wanita itu sangatlah galak, terlebih padanya.


"Ayo cepat, Roy! Jangan banyak mikir!" geram Adam. Ini semua gara-gara Roy, jadi laki-laki itu yang harus bertanggung jawab.


Tidak ada pilihan, Roy pun akhirnya menghubungi dokter Elena. Ragu, tapi mau bagaimana lagi? Lagi-lagi ia harus berurusan dengan wanita itu.


"Bisakan datang ke sini? Di sini ada pasien yang sangat membutuhkanmu, anak buahku akan menjemputmu," ucap Roy pada dokter Elena lewat ponselnya.


"Tidak bisa! Kamu cari saja dokter lain, aku sedang menangani pasien yang akan melahirkan," jawab Elena.


Tanpa mendengar jawabannya lagi, dokter Elena menutup ponselnya secara sepihak.


"Hallo, hallo ..."


"Bagaimana?" tanya Adam.


"Tenang saja, aku akan paksa dia datang ke sini."


Roy langsung menghubungi anak buahnya, ia meminta untuk membawa dokter Elena sekarang juga di hadapannya.

__ADS_1


"Kamu gila, Roy! Kamu akan menculiknya juga?" tanya Adam.


"Terpaksa, aku lakukan ini juga untukmu 'kan? Dia tidak berhak marah padaku, karena pasiennya adalah wanitamu," ujar Roy membela diri.


* * *


Dokter Elena sampai.


"Lepas!" kata Elena. Ia sendiri tahu kalau ini perbuatan Roy, karena salah satu anak buahnya mengatakan bahwa ia disuruh olehnya.


Saat itu juga, anak buah Roy melepaskannya. Kebetulan, ia melihat keberadaan laki-laki itu. Pria yang sudah mengganggu pekerjaannya.


Bugh, bugh, bugh ...


Dokter Elena memukul tubuh Roy dengan tas miliknya.


"Apa-apaan kamu ini?" cetus Roy.


"Kamu yang apa-apaan! Aku sedang kerja! Kenapa menculikku? Kamu pikir aku ini pengangguran yang bisa datang saat dibutuhkan, hah? Gara-gara kamu aku sampai meninggalkan orang yang akan melahirkan."


"Itu urusanmu, kamu suruh saja dia menahan kelahirannya sampai kamu kembali," ucap Roy dengan enteng. Ia pikir lahiran bisa ditunda-tunda.


Elena semakin geram, ia mengepalkan tangannya bahkan siap menonjokkannya padanya.


"Kenapa dia?" tanya Elena saat melihat pasien dalam keadaan tidak sadar.


"Pingsan," jawab Roy singkat.


"Iya aku tahu dia pingsan, pingsannya itu kenapa?"


"Karena obat bius, dia membiusnya bahkan menculiknya," kata Adam.


"What! Menculiknya?" kata Elena tidak percaya.


"Apa-apaan kamu ini? Kenapa malah menyalahkanku?" Roy tidak terima akan ucapan Adam. "Dasar tidak tahu berterima kasih," gerutu Roy.


Elena mulai memeriksa Aileen, wanita itu masih tidak sadarkan diri. Lalu, ia memberikan suntikkan pada wanita itu.


"Tunggu beberapa menit, sebentar lagi dia akan sadar," ucap Elena. Dan Elena pun membereskan alat-alatnya ia bersiap-siap untuk kembali ke rumah sakit.


"Aku antar, sebagai pria bertanggung jawab aku akan mengembalikanmu ke rumah sakit," kata Roy.


Dokter Elena memutarkan bola matanya karena jengah, bisa-bisanya ia berurusan dengan lelaki sepertinya. "Dia pikir dia itu siapa? Seenaknya saja," gumamnya.

__ADS_1


"Apa katamu?"


"Tidak!"


"Aku dengar yang kamu katakan, siapa yang seenaknya? Apa kata-kata yang kamu ucapkan itu padaku?"


"Sudah jangan berisik, kamu antarkan saja aku ke rumah sakit sekarang."


Elena dan Roy pun pergi ke rumah sakit.


* * *


Adam dengan setia menunggu Aileen sampai sadar. Beberapa menit kemudian, apa yang dikatakan dokter Elena benar. Aileen kini tersadar. Ia menyentuh kepalanya yang terasa pusing, lalu membuka matanya lebar-lebar. Ia sangat terkejut ketika menyadari akan keberadaannya, kamar yang biasa ia tempati saat masih bersama Andra.


"Kamu sudah sadar?"


Suara itu membuyarkan pikirannya, dan ia melihat ke arah sumber suara.


"Adam, kenapa aku bisa di sini? Mana Papaku?"


"Maafkan aku," lirihnya.


"Kamu menculikku?" Aileen ingat betul akan kebradaanya sebelum di sini. "Lalu di mana orang tuaku? Mereka pasti khawatir mencariku, aku harus menghubungi papaku."


"Apa kamu benar-benar akan meninggalkanku? Tidak ada kesempatan bagiku untuk menjagamu juga anakku?"


Pertanyaan Adam membuat Aileen terhenti dengan aktivitasnya yang tengah mengambil ponselnya di dalam tas kecil miliknya. Ia hendak menghubungi orang tuanya.


"Apa sudah tidak ada cinta untukku?"


Kini Aileen memandang wajah Adam, pria yang selama ini sudah setia padanya. Bukan tak cinta, melainkan ia merasa tak pantas mendapatkan laki-laki baik sepertinya. Ia sudah sangat egois, bahkan ia sudah memanfaatkannya kala sedang kesepian sewaktu ia masih menjadi istri Andra.


"Carilah wanita yang jauh lebih baik dariku, kamu terlalu baik untuku, Adam. Kamu berhak bahagia," lirih Aileen.


Adam tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang kini ada di hadapannya. Kenapa baru sekarang ia mengatakan itu? Dulu saja, ia meminta untuk tidak meninggalkannya, apa cintanya memang sudah tidak ada lagi untuknya?


"Hatiku sangat sakit, Ai. Kenapa kamu bilang seperti itu? Apa kamu tidak ingin mengurus anak kita berdua saja? Bila perlu, kita pergi jauh dari sini."


"Apa kamu serius dengan ucapanmu? Tidak akan menyesal menjadikanku wanitamu?"


"Aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku menyesal. Kembalilah padaku, aku akan menikahimu meski papa-mu tidak memberikan restu. Bila perlu kita kawin lari."


Aileen menghamburkan tubuhnya dipelukkan Adam, dan Adam pun membalas pelukkannya. Kini mereka kembali bersama, yang mereka harapkan sekarang adalah mendapatkan restu dari Morano.

__ADS_1


__ADS_2