Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 115 Drama Pinguin


__ADS_3

Di villa, Aileen masih terbaring lemah. Kakinya terluka cukup parah sehingga untuk sekedar berdiri saja ia tak mampu. Dirinya tengah duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Sesekali, ia melihat ke arah anak kecil yang tengah memainkan ponselnya di sofa.


Karena haus, ia mencoba menjangkau gelas di atas nakas. Tapi ia tak mampu menggapainya, sehingga gelas itu tergelincir dan terjatuh. Marsya yang sedang asyik bermain game pun langsung beranjak dari sofa tempatnya rebahan.


Gadis kecil imut itu langsung menghampiri.


"Aunty membutuhkan sesuatu?" tanyanya.


Aileen mengangguk, "aku haus, boleh minta tolong?"


"Ada apa?" tanya Zack yang baru datang karena ia mendengar sesuatu terjatuh, "Sya, biar Daddy saja. Kamu jangan menyentuh pecahan gelas itu, nanti kamu terluka "


"Iya, Daddy." Gadis kecil itu mundur beberapa langkah.


"Kamu duduk di sana." Zack menunjuk ke arah sofa, dan Marsya duduk kembali di sana.


Zack memungut pecahan gelas itu.


"Maaf, membuatmu repot," ucap Aileen, "aku haus."


"Ah, iya. Aku ambilkan, tapi aku bersihkan ini dulu. Takut Marsya menginjak serpihan gelasnya." Setelah semua itu selesai, Zack mengambilkan minum dan memberikannya pada Aileen.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


"Kamu seorang Dokter?" tanya Aileen, karena ia melihat banyak obat-obatan dan perlengkapan rumah sakit di villa ini.


"Iya, kamu benar-benar lupa dengan semuanya? Sebelumnya kita pernah bertemu dan kamu juga pernah berkonsultasi padaku, kamu datang bersama kekasihmu," jelasnya.


"Kekasih? Andra, maksudmu?"


"Bukan, kamu datang sebelum menikah dengannya. Kamu datang bersama lelaki yang bernama Adam."


"Boleh aku tahu, kenapa aku bercerai dengan Andra?" Aileen ingin mengingat semua tentang itu, rasanya ia tak sabar. Ia ingin tahu kenapa papanya melakukan ini semua padanya.


"Maaf sebelumnya, mungkin masalalumu terlalu kelam sehingga kamu menikah dengan Andra dalam keadaan hamil. Tapi anak yang kamu kandung bukan anaknya, mungkin itu penyebab perceraianmu," terangnya.


"Jadi, aku hamil di luar nikah? Lantas siapa ayah dari anak yang aku kandung?" tanyanya sendiri, "mungkin 'kah anakku bersamanya?" ucapnya lagi.


"Bisa jadi, mungkin anakmu bersama Adam. Apa kamu mau bertemu dengannya? Mungkin aku bisa membantu."


"Tidak, jangan sekarang. Aku tidak mau bertemu mereka dalam keadaanku seperti ini, aku tidak mau menjadi orang asing, bahkan aku tidak ingat wajah pria itu."


"Baiklah, besok kita ke kota. Kamu perlu penanganan khusus."


Zack merasa kasihan pada wanita yang kini tengah berada bersamanya. Mendengar cerita dari Andra, ia sempat tak menyukai wanita murahan sepertinya. Tapi melihatnya seperti ini, ia ingin menolongnya agar ia bisa berkumpul dengan anaknya.


* * *

__ADS_1


"Mas kapan kita jemput Akhsa? Aku tidak enak menitipkan Akhsa lama-lama bersama Nindya, dia pasti kerepotan. Belum lagi Nathan dan Nala," tutur Nana.


"Emangnya sudah bisa jalan dengan normal? Nanti malah terlihat seperti pinguin lagi," ledek Adam.


Nana mengerucutkan bibirnya, mentang-mentang ia tak bisa jalan dengan normal, sedari tadi suaminya terus meledeknya.


"Semua ini karenamu!" Nana melipat tangan di dada, wanita itu tengah merajuk.


Tak ingin istrinya merajuk, Adam pun mendekat dan ikut duduk di sampingnya. Ia mencoba merayunya kembali, tapi sepertinya Nana memang marah padanya. Bahkan wanita itu langsung membelakanginya dan berwajah masam.


"Jangan ngambek dong, aku 'kan bercanda." Adam melingkarkan tangannya di pinggang Nana, "maafin ya?" Adam mencuim bahunya sambil mengendusnya.


Nana mendesir kala hembusan napas itu menerpa bagian tengkuknya.


"Jangan marah, please!!"


"Abisnya, kamu tega bilang aku seperti pinguin," sungutnya kesal.


Adam malah tertawa, dan langsung teringat cara jalan istrinya. Ia mengakui bahwa semalam ia sangat gencar di atas ranjang, tanpa memikirkan nasib istrinya keesokkan paginya.


"Terus, jadi tidak kita jemput Akhsa?"


Nana langsung menoleh dan mengangguk tanpa ragu, ia merasa sepi saat Akhsa tidak ada di rumah. Bocah itu terus selalu bersamanya, kemana pun ia pergi, Akhsa selalu ia ajak. Baru kali ini ia merasa kehilangan anak sambungnya itu.


"Ya udah, ayok kita berangkat," ajak Adam.


"Tunggu, aku ganti baju dulu."


Dan akhirnya, mereka pun pergi ke rumah Andra untuk menjemput Akhsa.


* * *


Adam dan Nana sampai di rumah Andra, mereka langsung masuk setelah pagar dibuka oleh penjaga di sana.


Akhsa dan si kembar tengah bermain di taman belakang, sehingga Akhsa tidak tahu kalau orang tuanya datang untuk menjemputnya.


Nana mencoba berjalan seperti biasa, namun ia tetap tak nyaman. Seperti ada sesuatu di bagian intinya, pokoknya tidak nyaman saat dirasakan olehnya. Adam meraih tangan Nana, sehingga mereka berjalan saling berpegangan tangan.


Bel pintu pun berbunyi, tak lama pintu terbuka oleh asisten di sana.


"Akhsa di mana, Bi?" tanya Adam. Adam sudah terbiasa datang ke rumah itu, jadi ia kenal semua pekerja di sana.


"Lagi main di taman belakang," jawab bibi.


"Kalau Nindya di mana?" tanya Nana.


Belum bibi menjawab, Nindya datang lebih dulu.


"Sudah menghabiskan waktu berduanya? Satu malam cukup memang?" tanya Nindya tanpa jeda.

__ADS_1


"Cukup apa?" tanya Nana pura-pura tidak tahu, padahal ia tahu betul apa yang dimaksud temannya itu.


"Jangan pura-pura, aku rasa kamu cukup mengerti untuk itu," kata Nindya, "Akhsa ada di belakang, ayok kita kesana?" ajaknya.


Nana dan Adam berjalan lebih dulu, ada yang beda dengan cara Nana berjalan saat Nindya melihatnya dari belakang. Ingin tertawa, tapi ia tahan. Takut sahabatnya itu marah dan ngamuk padanya. Meski di tahan, tapi Nindya tersenyum nyengir cekikikan.


Nana terhenti, dan Nindya yang tidak fokus jadi menabrak tubuh Nana.


"Aduh," pekik Nindya saat tubuhnya menabrak punggung Nana, "kenapa berhenti?" tanyanya.


"Jangan menertawakanku, kaya tidak pernah merasakannya saja!" cetus Nana.


"Memang tidak, pengalamanku berbeda denganmu," kata Nindya sambil melewati tubuh Nana.


"Kan, semua orang jadi meledekku! Kamu terlalu ganas!" cetus Nana pada suaminya.


"Tapi suka 'kan?"


Nana mencubit perut suaminya.


"Ampun-ampun, tidak lagi meledekmu." Ujar Adam sambil mengelus-elus perutnya yang sakit.


Dengan kesal, Nana meninggalkan suaminya dan menyusul Nindya ke taman belakang. Sedangkan Adam, ia masih kesakitan pasca cubitan itu dengan tanpa perasaan.


"Sejak kapan jadi galak seperti ini?" gerutunya.


* * *


"Mama," panggil Akhsa saat melihat kedatangan Nana. Bocah itu langsung berlari menghampiri mama sambungnya.


Adam yang melihat semakin bahagia betapa dekat dan manjanya Akhsa pada Nana. Tak salah dengan pilihannya yang menikahi Nana, Akhsa menajdi lebih bahagia saat Nana menjadi mamanya.


Adam menoleh ke arah belakang saat ada yang menepuk bahunya.


"Tuan," sapa Adam.


"Sudah kubilang, kalau bukan di kantor panggil saja nama. Jangan tuan!"


"Iya," jawab Adam.


"Jemput Akhsa?" tanyanya.


"Iya, Nana yang minta. Katanya di rumah sepi gak ada Akhsa," jelasnya.


"Sebentar, aku jawab telepon dulu," kata Andra saat ponsel yang di pegangnya bergetar. Andra menjawab sambil berjalan, "ya, ada apa dokter Zack?"


Perlahan suara itu menghilang dari pendengaran Adam karena Andra semakin menjauh.


...----------------...

__ADS_1


Selagi nunggu up, kalian bisa mampir di karya temanku. Ceritanya tak kalah seru kok, silakan mampir. Tapi jangan lupa tinggalkan jejak di GELORA CINTA SANG MAJIKAN, terima kasih readers selalu menyempatkan waktu untuk membaca karyaku, semoga kalian tambah suka dengan cerita Adam dan Nana, tentu juga ada Aileen. Tunggu kejutan dariku soal kelanjutan rumah tangga mereka ya😘😘😘



__ADS_2