
Tanpa sadar dengan keadaannya, kini Andra manjadi pusat perhatian orang rumah. Dengan santai, ia mengambil minum dengan mondar-mandir di dapur. Ia cuek saja saat Loly melihatnya dari ujung kaki sampai ujung kepala, ada apa dengan tuannya itu? Kenapa berpenampilan seperti ini? Pikirnya.
Loly mau pun Lee sudah ditegur habis-habisan oleh Wiliam, sehingga mereka tak lagi berani pada Nindya yang kini menjadi majikannya. Sempat dipergoki olehnya saat Loly dan Lee membicarakan menantunya di belakangnya. Tentu Wiliam marah besar karena kini Nindya menjadi wanita kedua yang ia sayang setelah istrinya.
"Perlu dibantu, Tuan?" tanya Loly.
"Tidak, terima kasih," jawab Andra santai.
"Apa Tuan baik-baik saja?" tanya Loly lagi.
"Baik, sangat baik. Memangnya kenapa?" tanya balik Andra.
"Celananya kebalik, Tuan." Mau tertawa tapi takut kena semprot, alhasil Loly membekap mulutnya sendiri.
Semua pekerja yang ada di dapur menahan tawanya, semua pembantu lagi kumpul di dapur karena hendak membuatkan makan malam. Karena merasa malu, Andra buru-buru kembali ke kamar dan membawa segelas air untuk istrinya.
"Kenapa aku bisa seceroboh ini? Memalukan," rutuknya sendiri.
"Siapa yang memalukan? Aku?" tanya Nindya.
Ibu hamil itu sangat sensitif, apa yang diucapkan oleh suaminya pasti berpikir bahwa perkataan itu untuknya.
"Bu-bukan, kamu kenapa tidak memberitahuku soal celana yang aku pakai, hmm? Aku 'kan jadi malu," ujar Andra.
"Ya mana aku tahu, mana minumnya? Aku haus sekali."
Andra memberikan minumannya, setelah itu ia menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuh mereka kembali setelah pertempuran barusan, apa lagi sebentar lagi makan malam . Anye pasti memanggil menantu kesayangannya. Setelah kejadian mogok makan kemarin, semua orang begitu perhatian padanya.
__ADS_1
.
.
.
* * *
Semua anggota keluarga tangah berkumpul di ruang makan, hanya tinggal Andra dan Nindya yang belum hadir. Mereka terlambat karena harus membersihkan diri untuk yang kedua kalinya seusai percintaan mereka.
Tak lama, muncullah sosok yang ditunggu.
"Kalian lama sekali," ucap Anye.
"Sudah-sudah, mereka sudah datang sebaiknya kita segera makan," ujar Wiliam.
Halim nampak tersenyum melihat si kembar. Tak terasa, matanya mengeluarkan cairan bening. Air mata bahagia itu tidak tertahan. Rahayu yang melihat suaminya tengah memandang ke arah Panji dan Nisa, ia meletakkan tangannya di punggung tangan suaminya. Halim dan Rahayu saling pandang, lalu tersenyum.
Setelah itu, mereka melanjutkan aktivitasnya.
* * *
Seusai makan malam, semua kembali berkumpul di ruang tamu. Tapi tidak dengan Wiliam dan Halim. Mereka berada di ruang kerja, Wiliam mengajak besannya untuk bicara serius mengenai perusahaannya yang akan dikelola oleh Halim.
Wiliam menyerahkan perusahaan garment yang ada di kota Sukabumi kepada besannya. Halim sempat menolak karena merasa tidak enak, mungkin bukan itu alasan yang tepat. Ia takut masa lalu terulang, di mana ia dituduh menggelapkan uang perusahaan.
"Ayolah, Halim ... Jangan kamu ingat masa lalu buruk kita. Aku serahkan perusahaan ini padamu, anggap aku sedang menebus kesalahanku padamu. Kalau tidak menangani perusahaanku kamu mau kerja apa? Cari pekerjaan sekarang itu susah, kamu harus memikirkan masa depan Panji dan Nisa. Aku tidak mau mereka terlantar, terima ya?" Wiliam membujuk Halim untuk mengelola perusahaannya, ia juga menyerahkan dokumen penting pada Halim.
__ADS_1
Halim sempat berpikir antara menerimanya atau tidak. Karena Wiliam terus memaksa dan memberikan kepercayaan penuh padanya, ia pun menerimanya.
Halim menghela napas sebelum menerima berkas penting itu.
"Baiklah, aku akan menjaga amanahmu dengan baik." wiliam dan Halim pun saling berjabat tangan.
Keduanya tersenyum lalu berpelukan. Malam ini, malam terakhir bagi Halim berada di rumah besar milik besannya. Ia putuskan untuk kembali ke kota Sikabumi esok hari.
* * *
"Terima kasih sudah mau menjadi suamiku," ucap Nindya.
Mereka tengah di kamar, setelah puas berbincang-bincang di ruang tamu mereka kembali ke kamar masing-masing. Andra dan Nindya mengobrol sebelum tidur, sambil bermanja di atas tempat tidur.
"Ginikan enak, bicara dengan nada lembut. Kupingku adem ayem jadinya," tutur Andra.
Baru saja bermesraan, Nindya sudah memberikan pukulan ringan di dada suaminya.
"Tuh 'kan mulai," kata Andra.
"Abisnya kamu nyebelin, namanya juga lagi hamil. Emosi naik turun," bela Nindya.
"Iya, maaf. Tidur yuk, Besokkan harus bangun pagi," ajak Andra.
"Hmm." Nindya menelusupkan kepala di dada bidang suaminya. Seolah mencari kehangatan di sana, aroma tubuh suaminya membuatnya rilexs.
Andra terus mengusap lembut perut istrinya sampai wanita itu kini sudah terlelap dengan tidurnya.
__ADS_1