Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 78


__ADS_3

"Maafkan aku, aku terlalu cemburu," sesal Roy yang sudah membuat istrinya menangis.


"Tapi kamu tega sama aku," rengek Elena.


"Iya-iya, maafkan aku. Sudah jangan nangis lagi, ingusnya keluar tuh," kata Roy.


Seketika, Elena memukul tubuh suaminya karena kesal. Ia jadi malu dibilang seperti itu. Karena tidak ingin menjadi tontonan orang sekitar, Roy mengajak istrinya pulang.


"Kerjaanmu sudah selesaikan? Kita pulang sekarang, ayok?" ajak Roy.


"Tasku di dalam, aku ambil dulu ya?" Roy mengangguk mengiyakan.


* * *


Saat Elena mengambil tas miliknya, Alan masih berada di ruangannya. Ia tetap kekeh ingin menjalin hubungan dengan Elena, karena setahunya dia, temannya itu belum menikah. Alan meraih tangan Elena dan menahan kepergian wanita itu.


"Lepas!" Elena menarik tangannya sendiri dari genggaman Alan. Tangan Elena terus ditahan oleh pria itu, sampai menimbulkan kemerahan di pergelangannya.


"Aku mohon, lepaskan, Al. Aku sudah menikah, diari itu cuma masa lalu. Aku sudah tidak lagi memiliki ketertarikan padamu," jelas Elena.


"Tapi dari diari itu aku memutuskan Mira, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan darimu, El." Alan begitu kekeh tidak percaya bahwa Elena sudah menikah.


"Aku baru beberapa hari menikah, pernikahanku memang belum ada yang tahu. Mungkin baru kamu yang mengetahui soal ini, 'ku mohon lepaskan!" rintihnya.


"Apa pria tadi suamimu?" tanya Alan.


"Iya, aku suaminya. Jadi kamu jangan berharap akan menjalin hubungan dengan istriku!" Suara lantang itu terdengar dari ambang pintu.


"Roy," ucap Elena. Tangan Elena mulai terlepas dari genggaman Alan.


Alan menatap tajam ke arah Roy, ia yakin kalau mereka baru saling mengenal. Karena selama ini, ia tahu siapa saja yang dekat dengan Elena. Karena Elena sudah terlepas, wanita itu segera pergi dan mengajak suaminya untuk keluar.


Di dalam mobil, Roy nampak kesal. Ia tak suka jika istrinya didekati oleh pria lain.


"Apa kamu bisa pindah bekerja dari rumah sakit ini?" tanya Roy.


Elena mengerutkan keningnya, ia tak percaya kalau suaminya sampai sebegituny.


"Kamu jangan terlalu cemburu begitu, Roy Aku bisa menjaga hatiku. Aku bukan tife wanita yang gampang menyukai seseorang," kata Elena.

__ADS_1


"Buktinya kamu gampang jatuh cinta padaku, apa itu yang disebut tidak gampangan?"


"Bicaramu semakin ngaur, aku jatuh cinta padamu karena kamu sudah menjadi suamiku. Sudah sewajarnya aku melabuhkan perasaanku padamu!" Elena tak terima jika ia disebut wanita gampangan.


"Itu artinya kamu terpaksa mencintaiku, hah?"


Pertengkaran semakin memanas, Roy belum percaya kalau istrinya sudah mencintainya.


"Apanya yang terpaksa? Aku sudah mulai nyaman denganmu, jadi tolong! Jangan menyudutkanku soal perasaan yang terpaksa ini. Aku tulus, Roy."


Setelah Elena mengatakan itu, Roy segera menancapkan gas mobilnya. Ia terlalu takut kehilangan Elena. Ia takut masa lalu terulang kembali, di mana ia sedang berada di puncak cinta seketika terjatuh karena ditinggalkan sang kekasih.


Roy sudah seperti orang kesurupan, mengendarai mobil ugal-ugalan. Elena sampai ketakutan dibuatnya.


"Sadar, Roy. Ada aku di sini, aku takut." Ucap Elena sambil berpegangan. "Cemburumu itu tidak beralasan, Alan hanya berpikir aku masih mencintainya. Dia belum tahu aku sudah menikah, dari situ ia mengutarakan isi hatinya padaku."


Apa kata Elena ada benarnya, Roy pun mulai mengurangi kecepatan laju mobilnya. Bahkan ia menepikan mobilnya. Menarik napas dalam-dalam, lalu memeluk istrinya dari samping.


"Maafkan aku sudah membuatmu ketakutan." Roy menciumi pucuk kepala istrinya beberapa kali.


"Aku mau pulang, kita pulang ke rumah om ya?" pinta Elena. Ada beberapa berkas yang ingin ia ambil di sama, sekalian pamit bahwa ia akan menetap di rumah baru mereka.


* * *


Mereka pun akhirnya sampai di rumah Bagas. Elena disambut hangat oleh Ingga sang tante. Karena mata Elena sembab, om dan tante-nya mengira bahwa mereka tengah bertengkar.


"El, kamu nangis?" tanya Bagas.


"Tidak, Om. Ini hanya kelilipan," kilah Elena.


"Kamu tidak bisa membohongi, Om. Ada apa? Katakan?" desak Bagas, Bagas tidak mau terjadi sesuatu pada keponakannya itu. Meski hidup tanpa orang tua, Elena tak pernah menangis. Dia wanita kuat.


"Maafkan aku, Om. Ini hanya salah paham." Roy mencoba meluruskan permasalahan.


"Yakin? Tidak ada masalah serius?" tanya Bagas.


"Om ... Jangan mengintrogasinya, hubungan kami baik-baik saja. Tidak ada masalah," jelas Elena.


"Baiklah kalau begitu, Om percaya padamu."

__ADS_1


Roy dan Om Bagas duduk di ruang tamu, sementara Elena dan Ingga tengah berada di kamar. Mereka sedang mengemas baju-baju Elena, karena Roy mengajak istrinya menetap di rumah pemberian Andra.


Elena sudah kembali, ia ikut bergabung bersama suami juga im-nya.


"Tidak ada yang tertinggalkan?" tanya Roy.


"Tidak, semua berkas juga sudah aku bawa," jawab Elena.


"Roy, Om titip Elena. Jaga dia dengan baik, tanggung jawab Om sudah Om pasrahkan padamu. Selama ditinggal orang tuanya, Om selalu membahagiakan keponakan, Om. Jadi kamu jangan sampai menyakitinya," pesan Bagas.


"Iya, Om. Kami pamit kalau begitu."


* * *


"Mikirin apa sih? Kamu masih ragu tentang perasaanku? Aku sudah tidak punya perasaan pada Alan, itu hanya masa lalu. Aku juga tidak tahu dia dapat diari itu dari mana, aku sudah membuangnya, Roy," jelas Elena.


"Bukan tidak percaya, El. Selama ini aku menutup perasaanku setelah aku merasakan sakit yang menurutku itu luar biasa. Apa kamu percaya bahwa aku pernah patah hati oleh seorang wanita?"


Elena menatap suaminya, ia tak percaya apa yang dikatakan oleh suaminya. Ia kira, pria sepertinya tidak pernah mengalami yang namanya patah hati. Roy terus fokus dengan kemudinya, tapi ia terus menceritakan tentang masa lalu kisah cintanya.


Hingga Elena tahu kenapa suaminya begitu takut saat ia bersama Alan. Roy pernah ditinggalkan oleg kekasihnya sewaktu dulu.


"jangan samakan aku dengan wanita masa lalumu, selama ini aku belum pernah pacaran. Pria yang pertama aku sukai juga baru Alan, dan sekarang hatiku sudah terpatri padamu. Percayalah, aku tidak akan mengkhianati pernikahan kita." Terang Elena sembari menyandarkan kepala di bahu Roy.


Merasa teduh dengan penuturan sang istri, ketakutan Roy pun mulai memudar. Ia mencoba percaya sepenuhnya pada pasangannya.


* * *


Keesokan harinya.


Keluarga Wiliam tengah bersiap-siap, mereka akan pergi berlibur ke luar negri.


"Roy, selama kami tidak ada kamu urus perusahaan," tutur Wiliam.


Roy mengangguk mengerti.


"Nanti ada orang yang akan membantumu di perusahaan, namanya Laura. Dia baru datang dari Amerika," jelas Wiliam lagi.


"Laura? Amerika?" Roy langsung teringat akan seseorang. Tapi ia menepis tentang ingatannya, yang namanya Laura itu banyak. Bahkan nama Laura yang tinggal di Amerika itu lebih dari satu.

__ADS_1


Hingga akhirnya, keluarga Wiliam pergi berlibur. Andra dan Nindya pun ikut serta, sekalian ia mengadakan baby moon.


__ADS_2