Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 75


__ADS_3

Setelah menelisik siapa orang asing itu, kini Wiliam merasa tidak asing saat melihatnya lebih dekat. Begitu pun dengan Halim, ia terkejut saat melihat siapa yang menjadi mertua anaknya.


"Hay, Dad," sapa Andra.


"Kalian dari mana saja? Kenapa pulang selarut ini? Mommy khawatir padamu istrimu," timpal Anye.


"Aku baik-baik saja, Mom. Bahkan jauh lebih baik," tutur Nindya.


"Oh iya, kenalkan. Ini Ayah mertua," ucap Andra pada kedua orang tuanya.


"Ha-halim?" tanya Wiliam. Ya, tak salah lagi Dia Halim salah satu karyawan yang pernah ia jebloskan ke dalam penjara sejak 5 tahun lalu.


Sejak tadi, Halim sudah mengenalnya. Tubuhnya mulai bergetar, bagaimana tidak? Halim dituduh sebagai orang yang sudah menggelapkan uang perusahaannya 5 tahun lalu. Dia orang yang sudah membuatnya berpisah dengan keluarganya.


"Ayah sudah saling mengenal?" tanya Nindya.


"Iya, dia orang yang sudah menjebloskan Ayah ke penjara. Mana mungkin Ayah lupa padanya," jawab Halim.


Nindya terkejut saat mendengar penuturan dari ayahnya, mulutnya menganga. Apa semua itu benar? Apa kini keduanya menaruh dendam? Pikirnya.


"Apa itu benar, Daddy?" tanya Andra.


"Iya, Daddy tahu yang sebenarnya setelah Halim bebas," jawab Wiliam.


"Halim, maafkan saya. Ternyata yang menggelapkan uang atas namamu ternyata bukan dirimu," tutur Wiliam. "Dua tahun setelah kamu bebas, saya sempat mencarimu. Tapi rumahmu ternyata sudah dijual sehingga saya tidak bisa menemukanmu," sambungnya lagi.


Halim terdiam, sempat ingin marah. Tapi mendengar penuturan Wiliam ternyata ini semua hanya salah paham. Ia hanya berharap tak akan ada lagi kesalahanpahaman di antara mereka. Apa lagi, kini mereka sudah menjalin hubungan antar besan. Halim mencoba mengubur masa lalunya, tak ada dendam karena kini ia sudah bertemu dengan putrinya.


"Kalau begitu, nama Ayah bisa kembali bersih?" ucap Nindya.


"Tentu, Daddy akan membersihkan nama baik Ayahmu."

__ADS_1


Nindya tersenyum, kini nama ayahnya bisa bersih kembali. Karena terlalu lama berada di luar, Wiliam mengajak Halim masuk. Sebenarnya, Wiliam tak begitu percaya pada Halim saat ia dituduh menggelapkan uang perusahaan miliknya. Karena rekening itu atas namanya, ia pun tak berpikir panjang hingga akhirnya Halim masuk penjara.


"Nindya, ajak Ayahmu ke kamar. Suruh dia istirahat, bila perlu Daddy akan menyuruh orang untuk menjemput ibu dan kedua adikmu," tutur Wiliam.


Halim yang mendengar, rasanya ingin segera malam berganti. Karena memang sudah agak larut, mereka putuskan untuk beristirahat malam ini. Perbincangan akan disambung esok hari.


Halim sudah masuk kamar, begitu pun dengan yang lainnya. Nindya dan Andra pun sudah berada di kamar. Lebih tepatnya, Nindya baru selesai membersihlan diri. Sementara Andra, ia tengah berjibaku dengan layar laptopnya.


"Mas, mandi dulu sana," suruh Nindya. Tapi Andra tak menggubris, pria itu terus mengotak-atik laptopnya. Ia hendak melihat cctv yang dipasang di rumah yang di tempati oleh Roy. Niatnya tidak buruk, ia hanya ingin memastikan bahwa rumah tangganya baik-baik saja. Dan ia ikut bahagia, pasangan yang tadinya menolak untuk menikah kini sudah bersatu setelah kejadian di kolam renang.


"Kamu sedang lihat apa sih, Mas?" Nindya begitu penasaran, dan akhirnya ia pun mendekat dan ia melihat layar laptop yang nampak gelap gulita. "Laptopnya mati?" tanya Nindya lagi.


"Bukan mati, sepertinya Roy sudah mencopot CCTV-nya?" jawab Andra.


"CCTV?" Nindya mengerutkan kening, ia memang tak mengerti tentang cctv apa yang dimaksud suaminya. "CCTV apa sih? Udah deh, sebaiknya kamu mandi. Aku juga sudah ngantuk."


Andra menutup laptop-nya, lalu ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, ia pun langsung menyusul sang istri yang sudah tidur lebih dulu. Bumil itu sampai mengeluarkan dengkuran halus. "Kamu pasti capek." Andra mengecup kening lalu berganti pada perut. "Ayok kita mimpi bareng," ucap Andra setelah mengecup perut istrinya.


"Aku rasa sudah cukup aman," terang Roy sambil melihat suduk langit-langit. "Kamar, kamar belum dicek." Roy segera berlari menunju kamar pribadinya.


"Ada apa sih?" tanya Elena yang melihat suaminya tengah menatap langit-langit.


"Cek CCTV."


"CCTV? Di rumah ini ada CCTV-nya?" Elena sudah berpikir yang tidak-tidak terhadap suaminya. Karena ia mengira Roy sudah memasang cctv tersebut. "Kamu pasang CCTV untuk memantauku di sini, hah?" Elena nampak marah.


"Bukan, justru aku sedang mencopot semuanya. Tuan Andra melihat kita di kolam renang," terang Roy.


"Apa? Melihat kita sedang--."


"Iya, sedang begitu."

__ADS_1


Elena memejamkan mata, betapa malunya ia diketahui oleh orang lain sedang begituan. Pertama pula baginya. "Ini semua gara-gara kamu! Coba saja kamu gak ajak aku ke sini, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa di antara kita."


"Kamu nyesel?"


"Iya."


"Nyesel melakukan itu denganku?" Roy tidak terima dengan itu, ia langsung saja menghampiri istrinya.


"Mau apa?" tanya Elena. "Jangan macam-macam!" Ancam Elena. Bukannya apa-apa, ia masih merasakan perih. Tentu ia belum siap untuk melakukan itu lagi, bisa-bisa ia benar-benar tak bisa berjalan hari esok.


Elena sampai terjatuh karena Roy terus mendekatinya. Hingga Elena benar-benar sudah terbaring di tempat tidur. Sang istri malah memejamkan mata, karena ia berpikir suaminya akan menciumnya. Saat Elena terpejam, Roy hanya bisa menatap sambil tersenyum tipis. Pasti istrinya bahwa ia akan menciumnya, pikirnya.


"Aku hanya mau mengambil ini," ucap Roy. Pria itu mengambil handuk yang tergeletak di atas kasur. "Buka matamu? Kenapa terpejam? Apa kamu mengharapkan lebih, hah?"


Elena membuka mata, ia langsung melotot tajam ke arah suaminya. Sedangkan Roy tengah menahan tawa. "Ini sebagai gantinya, jangan marah." Roy memberikan satu kecupan di bibir mungil Elena, lalu ia langsung bergegas karena takut istrinya marah karena sudah mengejeknya.


Wajah Elena memerah, antara kesal dan malu. Kenapa juga ia berpikir suaminya akan menciumnya. Karena Roy sudah pergi, Elena pun memilih untuk tidur saja. Ia kesal dan tak ingin menunggu suaminya kembali.


Beberapa menit kemudian, Roy sudah kembali dalam keadaan lebih fres. Setelah memakai baju, ia pun ikut bergelung ke dalam selimut. Ia memeluk istrinya dari belakang. Roy mengira istrinya benar-benar sudah tidur, nyata belum.


Elena pun semakin menarik tangan suaminya untuk mengeratkan pelukannya. Tak dapat dipungkiri, pelukan dari sang suami begitu nyaman saat melingkar di tubuhnya. Apa lagi ketika menghirup udara segar yang ditimbulkan dari shampo. Elena tak tahan dengan wangi itu, ia pun membalikkan tubuhnya.


Kini mereka sudah saling berhadapan, bahkan saling menatap. Tatapan keduanya penuh dengan cinta. Roy langsung menyambar bibir mungil yang ada di hadapannya.


"Apa aku boleh melakukannya malam ini?" tanya Roy.


"Masih perih," rengek Elena.


"Ya sudah, kita tidur saja. Tapi janji ya? Besok kita-," ucap Roy terputus karena kini Elena yang menciumnya.


"Sudah malam, ayok tidur," ajak Elena. Wanita itu menelusupkan wajahnya di dada bidang suaminya, mencari ke hangatan di dalam sana. Dan mereka tertidur saling berpelukkan.

__ADS_1


__ADS_2