
Setelah beberapa hari di rumah sakit, kini Nindya sudah diperbolehkan pulang. Karena kondisinya sudah membaik, ia meminta pada suaminya setelah pulang nanti ia ingin ke tempat ibunya karena ingin bertemu dengan anak Hanum.
Dan kini Nindya sudah berada di rumah, kumpul bersama mertua juga anak-anak mereka.
"Nindya, kalau kamu mau ke tempat ibumu biar Dewa sama Mommy saja," kata Anye.
"Dewa 'kan nyusu asi, Mom. Mana mungkin ditinggal lama-lama," sahut Andra yang tengah menggendong anaknya.
"Hore-hore ... Kita mau ke rumah nenek, Mom?" tanya Nala dengan antusias, "kita ajak Dewi tinggal di sini ya, Mom? Biar aku ada teman," katanya lagi.
"Iya, tapi kalau nenek mengizinkan ya?" jawab Nindya. Nala mengangguk mengerti.
"Kapan rencananya?" tanya Wiliam, "memangnya kamu sudah benar-benar sehat? Perjalanan cukup jauh, Daddy takut kamu kenapa-kenapa. 'Kan baru pulang dari rumah sakit, bekas operasimu juga belum kering," Wiliam menasehati.
"Iya, tunggu kamu benar-benar pulih ya? Apa kata Daddy ada benarnya," timpal Andra.
"Tapi, Mas," protes Nindya.
"Tidak ada tapi-tapian, ini demi kebaikanmu," ujar Andra lagi. Nindya menghela napas, ia pasrah. Tidak bisa membantah apa kata suaminya, mungkin mereka khawatir akan kesehatannya. Lagi pun, Dewa masih rentan.
"Sekarang kalian istirahat saja, biar Dewa sama Mommy di sini. Nanti kalau dia haus, Mommy antar ke kamar kalian," kata Anye.
"Iya, Mom," jawab Andra, ia pun merebahkan anaknya di kereta bayi. "Ayok, sayang," ajaknya pada istrinya.
* * *
Setelah kepergian Andra dan Nindya, Nisa terus menatap wajah adiknya yang tertidur. Wajahnya mirip dengan Nathan sang kakak, tapi ia berpikir kenapa wajah Dewa tak mirip dengannya?
"Oma, kenapa Dewa mirip Nathan? Kenapa tidak mirip denganku?" Nala merasa wajahnya berbeda dengan kedua saudara lelakinya.
"Karena kamu perempuan, wajahmu mirip Mommy. Sedangkan Dewa dan Nathan mirip Daddy-mu," jawab Anye dengan jelas. Nala pun akhirnya mengerti dan tak lagi mempermasalahkan ketidak miripan mereka.
* * *
__ADS_1
Akhirnya, waktu yang tunggu-tunggu pun tiba. Nindya sekeluarga kini berangkat ke kampung halaman. Dewa pun ikut bersama mereka, ia tengah di gendong oleh ibunya. Roy yang menjadi supir, pria itu selalu ikut kemana pun bosnya pergi.
"Kapan Alma punya adik?" tanya Andra pada Roy, "Nala dan Nathan saja sudah punya adik, kamu tidak merencanakan anak kedua?" tanya Andra tanpa jeda.
"Aku maunya nambah, tapi Elena belum siap. Katanya, melahirkan membuatnya takut." Roy masih ingat sewaktu Elena melahirkan, istrinya itu koma 2 hari. Dan selama koma, Elena seperti mimpi dan mimpi itu terasa nyata. Elena takut itu terulang.
"Ya sudah, tunggu sampai Elena siap saja," timpal Nindya, "Mas Roy juga tahu 'kan, kalau kehamilanku kemarin tidak disengaja?"
"Iya, kalian keseringan. Jadinya kebobolan." Roy langsung tertawa bila teringat itu.
"Kamu ini, kayak gak pernah ngalamin saja," celetuk Andra yang merasa tersinggung.
"Aku jarang begitu setelah Alma lahir, tahu sendiri sibuk di kantor seperti apa. Tuan 'kan jarang masuk karena sibuk di rumah." Roy mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya. Ia dan Adam ditugaskan dengan tugas yang berbeda. Mereka berdua orang kepercayaan Andra.
"Kamu cari karyawan lagi aja, Mas. Buat bantu mereka," timpal Nindya.
"Cari orang itu tidak gampang, apa lagi buat ngebantu mereka," jawab Andra, "lagian, setelah ini aku akan sering ke kantor. Kemarin jarang ke kantor 'kan kamu sedang hamil, ngidammu itu membuatku kewalahan. Ada di rumah sering kena omel, giliran aku pergi harus cepat balik," gerutu Andra.
"Maafkan aku?" ucap Nindya.
"Yah ... Kita telat," ucap Roy.
"Telat apa, Roy?" tanya Andra.
"Ini sudah rawan macet, waktunya para karyawan keluar dari pabrik." Dan benar saja, mereka terjebak di tengah-tengah kemacetan. Ribuan karyawan berbondong-bondong keluar dari tempat mereka bekerja.
"Biasanya berapa lama macet begini?" tanya Nindya.
"Bisa sampai 2 jam, kadang lebih," jawab Roy.
"Lama sekali," ucap Nindya. Ia pun melirik ke arah samping, untung kedua anaknya tidur. Kalau tidak, Nathan pasti ngamuk karena kesal. Nathan tidak suka menunggu apa lagi kena macet seperti ini.
Akhirnya, setelah terjebak di jalan mereka pun sampai di rumah Halim. Mereka sampai pada pukul 8 malam, kedatangan mereka disambut oleh Nisa dan Panji.
__ADS_1
"Bu, Bu ... Kakak sudah datang," teriak Nisa memanggil ibunya. Rahayu pun datang lalu memeluk anaknya, tangisnya pecah. Berduka yang mendalam membuatnya tak mudah melupakan Hanum, sudah 2 minggu Hanum pergi. Bahkan ia hampir setiap hari datang ke makam wanita itu.
"Sudah, Bu. Jangan ditangisi terus," kata Halim.
Bukan hanya Rahayu yang menangis, Nindya pun ikut menangis karena sedih melihat ibunya begitu kehilangan Hanum.
"Ayok, masuk," ajak Halim setelah pelukkan istrinya terlepas dari tubuh Nindya.
"Aku ingin ketemu Dewi, di mana dia, Bu?' tanya Nindya.
"Di kamar Ibu, sini biar Dewa Ibu yang gendong," pinta Rahayu. Rahayu mengambil alih Dewa dari pangkuan anaknya, ini pertama kali melihat sang cucu. Ia juga menciumnya dengan sangat gemas, keturunan Wiliam sangat sempurna. Dewa sangat tampan, putih, rambut hitam pekat dan sangat lebat.
Sedangkan Nindya, ia pergi ke kamar mandi terlebih dulu. Mencuci tangan serta membasuh wajahnya, setelah itu baru menemui Dewi, anaknya Hanum. Wajah Dewi sangat persis dengan ibunya, lagi-lagi Nindya menangis. Tak menyangka kalau Hanum akan pergi diusianya yang masih muda. Tak lama, Dewi terbangun dan langsung menangis.
Rahayu yang mendengar langsung menghampiri, ia melihat Nindya tengaj membuka kancing bajunya, wanita itu berinisiatif memberikan asi untuk Dewi.
"Nindya, apa yang kamu lakukan?" tanya Rahayu.
"Dewi nangis, mungkin haus. Aku 'kan juga menyusui, Bu. Apa salahnya aku memberikan asiku padanya," jelas Nindya. Ia tidak tahu dampak dari perbuatannya.
"Mana boleh begitu? Anakmu laki-laki, sedangkan Dewi perempuan. Mereka jadi satu darah, kalau terjadi sesuatu diantara mereka besar bagaimana?"
"Maksud, Ibu?"
Rahayu menghela napas, dasar anak jaman sekarang masa begitu saja tidak tahu, pikirnya.
"Andai, salah satu anak laki-lakimu mencintai Dewi bagaimana? Mereka tidak akan bisa menikah karena satu darah, dan itu hukumnya haram," jelas Rahayu.
Nindya manggut-manggut, dan kini ia mengerti.
"Kasihan, Bu kalau Dewi minum susu formula terus," terang Nindya, "andai anakku perempuan, aku sudah ajak Dewi tinggal bersamaku," tuturnya.
"Biar Dewi tinggal sama Ibu saja, kamu pasti repot kalau Dewi tinggal bersamamu." Rahayu tidak mengizinkan karena ia menganggap Dewi cucunya sendiri.
__ADS_1
"Mending kamu istirahat, susul suamimu. Mereka sudah ada di kamar sama Nathan juga Nala."
"Baiklah." Nindya merebahkan Dewi lalu mengambil Dewa dari pangkuan ibunya, lantas ia menyusul suaminya juga anaknya.