Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 197 Ektra part 1


__ADS_3

Malam-malam membuat mereka sangat kelelahan, sampai-sampai Dewi terbangun dijam 9 pagi. Ini pertama kalinya ia bangun kesiangan. Dewi mengerjapkan mata, mencoba bangkit menarik tubuhnya yang polos untuk bersandar di sandaran ranjang.


"Sudah bangun rupanya, sarapan dulu," ucap Nathan yang baru selesai memakai pakaiannya. Dan makanan sudah terhidang di atas troli yang baru saja diantarkan oleh pelayan hotel.


Dewi meregangkan otot-otot yang terasa sakit, sekujur tubuhnya terasa linu. Sehingga ia kembali mendaratkan kepalanya di bantal.


"Loh, kok tidur lagi? Apa tubuhmu terasa sakit?" Nathan menghampiri duduk di sebelahnya, membelai kepalanya dengan sayang.


"Mau mandi tapi tidak ada tenaga," jawab Dewi lesu, "bolehkah aku seharian di sini? Kita tidak pulang sekarang 'kan?" Dewi malu jika harus pulang dalam keadaan tak bertenanga seperti ini, terlebih dengan lehernya yang penuh tanda merah akibat ulah suaminya.


"Hmm, tentu. Kita habiskan waktu di sini sesukamu. Sebaiknya mandi dulu ya, aku siapkan air hangat." Dewi mengangguk membiarkan suaminya melakukan semuanya sendiri.


* * *


"Air hangatnya sudah siap, aku bantu ke kamar mandi." Nathan langsung meraih tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi. Jika diizinkan tentu ia akan memandikan istrinya.


"Aku bisa sendiri, Kakak tunggu saja. Jika sudah lapar, makan duluan." Ucapnya lalu menutup pintu. Nathan membiarkan istrinya, tentu ia kan menunggu sampai selesai.

__ADS_1


Hampir setengah jam Dewi berada di kamar mandi. Nathan sedikit cemas karena istrnya terlalu lama di dalam sana. Saat Nathan akan mengetuk pintu, Dewi pun muncul.


"Kenapa lama? Aku sampai cemas," ucap Nathan.


"Banyak sekali lendirnya, aku sampai kewalahan saat membersihkannya," bisiknya, "ini juga bengkak dan rasanya sakit sekali," jujurnya polos.


"Maafkan aku." Nathan kembali menggendongnya dan membawanya ke tempat tidur. Bagaikan anak kecil, Nathan memakaikan Dewi pakainnya. Kantung mata menghitam, wajah pucat seperti orang sakit. Nathan merasa kasihan dan merasa bersalah.


* * *


Tapi hari ini, mereka harus pulang karena Nindya menyuruh Dewi pulang. Wanita itu sudah rindu, dan ada sesuatu yang akan diberikannya kepada menantunya .


"Sudah siap?" tanya Nathan.


"Sudah, apa aku masih terlihat pucat?" tanya Dewi, ia merasa kurang tidur selama 3 hari ke belakang. Suaminya benar-benar membuatnya lelah disetiap malamnya.


"Tidak, wajahmu semakin bersinar. Aku suka, aku mencintaimu." Lagi-lagi Nathan merapatkan tubuhnya, sebelum pulang mereka berciuman terlebih dulu.

__ADS_1


"Kalau begini terus kapan kita pulang?" keluh Dewi melepaskan ciumannya.


"Abisnya kamu buatku ketagihan."


Setelah berdrama, mereka pun akhirnya pulang. Sang supir sudah menunggu di lobi. Membawakan koper mereka setibanya majikannya di hadapananya. Nathan sama sekali tak melepaskan pegangan tangannya. Saat berada di dalam mobil pun mereka terus berdempetan. Sampailah mereka di rumah Andra.


Kedatangannya disambut oleh keluarga, terutama Wiliam yang sudah menantikan sang cucu. Meski sudah tua, tubuhnya tetap kokoh. Ia merangkul sang cucu penuh kerinduan.


"Habiskan masa pengantin barumu, Opa sudah siapkan tiket bulan madu untuk kalian," kata Wiliam.


"Daddy, biarkan mereka tinggal di sini dulu beberapa hari. Aku harus mempersiapkan keberangkatan mereka sebelum pergi," tutur Nindya yang keberatan. Ia harus menyiapkan jamu agar Dewi pulang nanti dalam keadaan hamil.


Jamu penyubur dan memperkuat kandungan yang sudah turun temurun dari sang ibu.


"Tentu dengan senang hati, Opa. Aku akan menerima tiket itu," jawab Nathan antusias. Dewi langsung mencubit pinggang suaminya.


"Dasar mesum," gumam Dewi.

__ADS_1


__ADS_2