
Elena sama sekali tak membuka pintu, ini bisa jadi pelajaran bagi suaminya. Ia harap, Roy lebih bisa lagi memikirkan sesuatu terlebih dulu sebelum bertindak.
.
.
.
Hingga keesokkan paginya, lebih tepatnya di kantor.
Andra mau pun Roy, kedua pria itu tak bersemangat dalam bekerja. Masalah dengan istri mereka belum terselesaikan. Hingga muncul 'lah Adam di sana, ia tengah meminta tanda tangan pada sang bos. Yaitu, Andra.
"Pagi, Tuan," sapa Adam. Sapaannya tidak dijawab, bahkan tidak ada yang melirik kearahnya sama sekali. Termasuk Roy. Adam bisa mengira apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu, pasti soal semalam. Dia pasti kesal padaku. Adam pun tersenyum saat ia melihat ekspresi Roy saat kini sedang menatap ke arahnya.
Adam hanya memberikan senyum tipis ke arah Roy. Karena tak ingin mengganggu dan malah jadi pelampiasan, Adam pun undur diri dari ruangan itu setelah meletakkan berkas yang akan ditandatangani oleh Andra.
Sampai jam kantor pun kini telah usai, Andra dan Roy segera pulang. Tapi kepulangan mereka terhenti kala Adam meminta bantuan.
"Besok saja, Dam. Aku harus segera pulang," kata Andra. Ia rasa Adam akan meminta file yang sudah ditandatanganinya, padahal ia meminta mereka untuk menjadi saksi dalam pernikahannya bersama Aileen.
Kandungan Aileen sudah menginjak delapan bulan, ia tak ingin anaknya keburu lahir sebelum ijab qobul berlangsung.
"Roy, coba kamu jelaskan tentang keinginanku," ujar Adam pada Roy. Kemarin, Adam sempat meminta bantuan pada Roy, untuk menjadi saksi di pernikahannya. Ia juga tidak ingin kalau sampai pernikahan itu batal karena orang suruhan Morano.
Orang tua Aileen sampai sekarang belum tahu tentang keberadaan mereka. Roy tidak memberikan izin pada Aileen keluar dari rumahnya, karena itu tempat paling aman bagi mereka.
"Apa yang dijelaskan, Roy? Aku harus segera pulang," kata Andra.
__ADS_1
Meski sedang kesal pada Adam, Roy tetap membantunya. Karena ia sudah menganggap Adam bagian dari keluarganya.
"Adam dan Aileen akan segera menikah, dia meminta kita sebagai saksi di pernikahannya," jelas Roy.
"Kapan acara itu dimulai?" tanya Andra, "aku akan mengusahakannya," sambungnya kemudian.
"Nanti malam," jawab Adam.
"Baiklah, aku akan datang bersama istriku. Kalau begitu, aku pamit sekarang." Andra pun berlalu dari hadapan mereka. Andra masih ada tugas untuknya, istrinya masih merajuk dan ia harus bisa membujuknya.
.
.
.
.
.
.
Sampailah Andra di rumah.
"Sayang, ayolah buka pintunya. Kamu belum makan loh dari pagi." Anye sedang membujuk menantunya yang sedang mengurung.
"Iya, bukalah pintunya, Nak. Kamu gak kasian sama calon cucu Ibu, dia juga kelaparan, Nindya," timpal Rahayu.
__ADS_1
Andra yang baru saja tiba pun langsung menjatuhkan setangkai bunga mawar serta paper bag yang berisi makanan ke lantai. Ia tak habis pikir bahwa istrinya akan semarah ini, Nindya sampai mogok makan hanya karena Andra mengenai beban tubuhnya bertambah.
Andra segera menghampiri.
"Ndra, kamu dobrak saja pintunya. Mommy takut istrimu kenapa-kenapa," kata Anye.
Andra mengangguk, lalu ia mengambil ancang-ancang. Ia akan mendobrak pintunya, tapi, tiba-tiba pintu kamar pun terbuka. Andra tersungkur ke lantai saat Nindya membuka pintunya.
Nindya hendak membantu suaminya itu, tapi ia mengurungkan niatnya karena masih kesal soal kejadian semalam.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Rahayu saat Andra sudah berdiri.
"Kalian berantem, hah?" tanya Anye, ia terlihat marah pada anaknya itu, "kamu tahu gak? Ini bisa berakibat fatal jika istrimu tidak mengisi perutnya, kamu apakan menantu, Mommy?"
"Hanya salah paham, Mom. Mommy jangan ikut marah padaku." Setelah itu, Andra segera menyusul istrinya. Andra berinisiatif mencari ke dapur. Dan benar saja, Nindya tengah berada di sana sedang mengambil air minum.
"Mommy bilang kamu belum makan sejak pagi, kamu sengaja menyiksa anak-anakku?" tanya Andra setibanya di samping istrinya.
"Menyiksa? Siapa yang menyiksa? Kamu?" Nindya masih kesal, ia hanya memberikan pelajaran agar suaminya itu bisa menjaga lisan tanpa membuat orang lain tersinggung.
"Apa namanya jika bukan menyiksa? Kamu itu sedang mengandung anak-anakku, aku memberikan yang terbaik untuk mereka. Tapi kamu?" tuduh Andra.
"Kalau hanya untuk memarahiku sebaiknya tidak usah menemuiku." Nindya segera berlalu, ia kembali masuk kamar sambil membawa air minum.
Setibanya di kamar, Nindya bersantai menonton tv sambil menikmati cemilan. Ia bukan wanita bodob yang rela mogok makan hanya karena ini, ia sengaja melakukan itu agar suaminya jera.
Sedangkan Andra pontang-panting karena khawatir Menghkawatirkan istrinya yang belum makan sejak tadi siang.
__ADS_1