
Pagi itu sudah diwarnai keributan. Roy terjatuh karena Elena mendorongnya, reflek tak disengaja.
"Maaf," ucap Elena.
"Untuk apa?"
"Sudah mendorongmu."
"Sudahlah, lupakan saja." Roy tidak memperpanjang masalah.
Tak lama dari situ, ponsel mereka berdua berdering secara bersamaan. Mereka mengangkatnya. Elena mendapat kabar bahwa hari ini ada yang akan melahirkan di rumah sakit, mau tak mau ia harus pergi ke sana meski hari ini hari libur.
Sedangkan Roy, ia dipanggil Andra untuk segera ke rumahnya. Dan menyuruhnya untuk mengajak istrinya. Kini keduanya sudah selesai dengan obrolan mereka masing-masing.
Elena dan Roy segera masuk ke kamar mandi, di sana terjadi drama. Jika semalam berebut selimut, kali ini kamar mandi. Mereka berdua berada di ambang pintu, keduanya nampak kekeh ingin segera masuk ke dalam sana.
"Aku dulu!" sergah Elena.
"Aku dulu, aku harus segera pergi karena dipanggil tuan Andra."
"Aku dulu, ini lebih penting. Di rumah sakit ada yang mau melahirkan. Kamu ngalah saja, awas!" Elena menarik baju suaminya, hingga ia berhasil menyingkirkan Roy dari ambang pintu.
"Gila, tenaganya kuat juga," gumam Roy.
Beberapa menit kemudian, Elena masih belum keluar juga. "Lama sekali, dia mandi apa bertapa?" celetuk Roy.
Tok tok tok ....
Roy mengetuk pintu kamar mandi itu. "Sudah belum? Lama sekali!"
Tak lama, Elena pun keluar. "Gak sabaran banget sih!" Elena melewati tubuh suaminya begitu saja.
Akhirnya, Roy pun segera masuk ke dalam kamar mandi.
* * *
Tante Ingga sudah menyiapkan sarapan untuk Elena juga Roy.
"Mereka belum bangun?" tanya Bagas pada Ingga istrinya.
"Belum, Mas. Biarkan saja, ini 'kan hari libur," jawab Ingga. "Nah, tuh mereka." Tunjuk Ingga ke arah tangga.
__ADS_1
"Pagi, Om, Tante," sapa Elena.
"Pagi juga," jawab sang tante.
"Kamu sudah sehat, El?" tanya Bagas.
"Sudah, Om."
"Ayo sini, kita sarapan sama-sama," ajak Ingga.
"Aku buru-buru, Tante. Aku sarapan di luar saja," tolak Elena.
"Kalian mau pergi?" tanya Bagas.
"Iya, Om. Kita mau pergi dulu," jawab Roy.
"Baiklah, kalian hati-hati. Om titip Elena ya, Roy?"
"Iya, Om."
Setelah berpamitan, mereka berdua pun pergi. Roy mengantar Elena ke rumah sakit. Di perjalanan, mereka saling terdiam. Karena tak ada percakapan di antara mereka, hanya alunan lagu yang dinyalakan oleh Roy. Mengusir ketentraman di dalam sana.
Hingga akhirnya, mereka pun sampai di rumah sakit. Dan Elena langsung turun dari mobil tersebut. Mereka berpisah tanpa ada perpisahan yang biasa dilakukan suami istri pada umumnya
Elena mendudukkan kepala ke arah jendela, lalu menjawab. "Belum tahu, kalau kamu sibuk tidak usah menjemputku aku bisa pulang naik taksi."
"Bukan itu maksudku, aku akan menjemputmu nanti setelah pekerjaanmu selesai."
"Nanti aku kabari."
"Baiklah."
Roy belum pergi sebelum Elena benar-benar menghilang dari pandangannya. Ia terus memperhatikan istrinya dari dalam mobil. Hingga ia melihat seseorang menghampiri Elena.
"Itukan laki-laki yang disukai Elena," kata Roy sendiri. Mereka terlihat begitu akrab. Bahkan ia melihat istrinya tersenyum pada laki-laki itu.
Tapi ya sudahlah, mereka 'kan rekan kerja, pikirnya. Dan Roy mulai menyalakan mesin mobilnya, lalu pergi menemui bosnya di rumah utama.
* * *
"Bagaimana malam pengantinmu? Sukses?" goda Andra.
__ADS_1
"Sukses tidak bisa tidur," jawab Roy apa adanya.
Bisa-bisanya ia jadi bahan ledekan pagi ini. Roy juga heran, ada apa tuannya memanggilnya saat hari libur seperti ini?
"Nih." Andra menyodorkan sebuah kotak merah pada Roy.
"Apa ini?"
"Hadiah pernikahanmu dariku, buka saja."
Roy membuka kotak merah itu, lalu mengambilnya. Sebuah kunci yang ia dapat dari tuannya itu, ia tahu kunci apa itu.
"Ini benar untukku?"
"Iya, kamu pikir itu untuk siapa? Segera pindah, tidak enak jika harus merepotkan om dan tante-Nya."
"Iya, Tuan. Terima kasih." Meski kesal pada tuannya karena pernikahan ini adalah hasil perbuatannya, tapi tuannya ikut bertanggung jawab. Ia memberikan fasilitas untuknya juga istrinya.
Tak lama dari situ, ponsel milik Roy berbunyi. Menandakan pesan masuk ke dalam ponselnya.
"Aku sudah selesai dengan pekerjaanku," chat Elena.
"Ok, aku jemput sekarang," balas Roy.
"Tuan, aku permisi dulu. Aku harus jemput Elena," pamit Roy.
"Hmm, pergilah. Ajak istrimu melihat rumah baru kalian."
* * *
Cuaca hari ini sedikit gerimis, Elena sedang menunggu kedatangan Roy. Ia berdiri di depan rumah sakit. Lalu, tiba-tiba seseorang datang membawakan payung untuknya. Elena melihat ke arah orang itu, dilihatnya dokter Alan di sana.
"Ngapain di sini? Di sini hujan," kata Alan.
Belum Elena menjawab, suara klakson tiba-tiba berbunyi beberapa kali.
"Siapa sih? Berisik," kata Alan.
"Maaf, Dokter Alan, aku permisi," ucap Elena. Elena langsung masuk ke dalam mobil tanpa mendengar jawaban dari Alan.
"Siapa orang yang menjemputnya?" tanya Alan sendiri.
__ADS_1
Sedangkan di dalam mobil, raut wajah Roy nampak masam.