Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 118 Hati Yang Gamang


__ADS_3

Tubuh Adam terperosot, ia berlutut saking lemasnya saat melihat sang istri. Matanya mulai menganak sungai, air mata yang tak terbendung pun kini mengalir deras.


Kenapa? Kenapa harus dipertemukan dalam keadaan seperti ini? Semuanya hanya membuat luka, bahkan aku tidak tahu harus memilih siapa. Keduanya sangat berarti, ya Tuhan ...


Adam tertunduk dengan hati gamang, cobaan hidup begitu berat dan sulit. Ia tak akan tega meski hanya mengucapkan sebuah kata maaf kepada kedua wanitanya. Akhsa butuh seorang mama, dan kini ia dapatkan dari sosok Nana yang selama ini mencintainya, menyayanginya tanpa kata lelah.


Namun, sejatinya hanya Aileen ibu kandungnya. Akhsa pun harus tahu bahwa sang mama kini sudah hadir, lalu bagaimana dengan sosok Nana? Akankah semuanya berubah setelah kembalinya sang ibu kandung untuk Akhsa? Akan 'kah Aileen terasa hangat bagi anaknya?


Adam beranjak dari tempatnya, ia menghampiri Aileen. Meraih tangannya dan menggenggamnya, menatap wajah itu lekat-lekat. Akan 'kah perasaan itu masih sama seperti dulu setelah ditinggal pergi sejak 5 tahun lamanya? Semua tergantikan oleh Nana, gadis itu mampu menggoyahkan kesetiaan yang selama ini ia jaga. Kembalinya Aileen hanya akan membuat hati Nana terluka.


"Maafkan aku, Ai. Aku sudah tidak setia padamu," lirih Adam dengan kembali menteskan air mata. Adam membelai pucuk rambut sang istri lalu mencium keningnya dengan begitu dalam. Sungguh, ini cukup berat ketika ia hadapkan untuk memilih. "Terlalu lama kamu pergi, Ai. Sampai aku dipertemukan dengan Nana yang kini menjadi istriku, menjadi mama untuk Akhsa, maafkan aku sudah menjadikan Nana sebagai penggantimu."


Adam tidak tahu apa yang harus dilakukannya setelah Aileen sadar nanti, meski sekarang Aileen dalam keadaan tidak mengingat apa pun termasuk ia dan anaknya Tapi ia juga tidak bisa terus menerus merahasiakan peristiwa di mana ia kini telah memiliki istri lain selain dirinya.


Tubuh Aileen merespons, tangannya bergerak saat berada dalam genggaman Adam. Tahu begitu, Adam memanggil dokter yang kini masih berada di luar bersama Andra.


"Dokter, Aileen menggerakkan tubuhnya. Apa dia sudah sadar," ucap Adam pada dokter Zack. Dokter itu pun masuk ke dalam ruangan, ia langsung memeriksa keadaan Aileen. Perlahan, wanita itu membuka mata sambil meringis kesakitan dibagian kepala. Kondisinya memang sedikit membaik, Aileen tak histeris seperti semalam.


"Aku di mana? Kepalaku!" Aileen menyentuh kepala yang masih sakit dan pusing.


"Kamu di rumah sakit," terang Zack.


Lagi-lagi, Aileen merasa bersalah karena sudah merepotkan Zack.


"Aileen?" panggil Adam. Wanita itu sedikit menoleh, tapi ia belum mengingat siapa orang yang kini tengah memanggilnya. Hanya Zack yang dia ingat. Memorinya masih belum pulih saat kejadian yang dulu.


"Siapa dia, Dokter?" tanya Aileen.

__ADS_1


Hati Adam terasa sakit saat mendengar istrinya bertanya siapa dirinya, yang diingat harusnya dirinya. Adam mendekat dan kini berada di samping Aileen.


"Dia Adam, masa lalumu," kata Zack.


Aileen mencoba mengingatnya, tapi kepalanya langsung kembali sakit. Dia meringis sambil menyentuh kepalanya.


"Jangan dipaksakan, nanti kepalamu semakin sakit. Nanti juga kamu akan mengingat semuanya, kamu perlu pengobatan," jelas Zack, "aku masih ada urusan, aku pamit dulu." Zack pergi karena Marsya anaknya berada di mobil saat ia meninggalkannya, mungkin gadis kecil itu masih tidur di sana.


Setelah kepergian Zack, Andra pun masuk untuk melihat keadaan Aileen. Ia menghampiri lebih dekat, ia tak menyangka semua ini akan terjadi pada mantan istrinya.


"Adam, bagaimana dia?" tanya Andra.


Aileen terlihat kebingungan, ia sama sekali tidak mengenal kedua lelaki itu. Lalu, ia mencoba bersuara dan bertanya siapa mereka.


"Aku Andra teman Adam, kamu benar tidak mengingat kami?" tanyanya. Aileen menggeleng, ia tak ingin memaksakan mengingat siapa mereka, ia yakin pada dokter Zack. Ia akan mengingat semuanya saat ia sembuh nanti.


"Kalau Roy menanyakanku apa yang akan kamu jawab? Apa dia perlu tahu soal ini? Dia paling tidak bisa membohongi istriya." Adam takut Nana sampai tahu soal ini, karena ia sendiri yang akan memberitahukan soal Aileen yang telah kembali.


"Tidak, Roy tidak boleh tahu soal ini sebelum Nana. Aku takut nanti dia keceplosan," tutur Andra. Setelah itu, Andra pun pergi.


* * *


Seharian ini, Adam menemani istrinya dan melayani setiap kebutuhan istrinya. Dari menyuapi makan sampai pergi ke kamar mandi sekali pun. Adam juga sudah mengatakan kepada Aileen siapa dirinya. Karena wanita itu sempat menolak saat akan mengantarkannya ke kamar mandi, setelah mendengar pengakuan siapa dirinya, Aileen membiarkan Adam untuk selalu bersamanya.


Adam belum membahas soal Akhsa, karena semakin begitu, Aileen semakin kesakitan dengan memaksakan ingatannya. Tak lama dari situ, Zack kembali datang untuk memeriksa. Hingga malam menjelang, Adam masih berada di sana. Ia akan pulang setelah istrinya benar-benar tidur, dan ia akan kembali besok.


Tak terasa, ia malah ikut tertidur. Kalau bukan ponselnya yang berdering, mungkin ia akan ketiduran sampai esok hari di rumah sakit. Berada di rumah sakit seharian membuatnya lelah meski tak banyak aktivitas yang dilakukannya. Bukan lelah karena fisik, melainkan pemikiran yang membuatnya seperti ini.

__ADS_1


Karena ponselnya terus bergetar dalam saku celananya, ia pun terbangun. ID pemanggil itu dari Nana, dan ia langsung mengangkatnya sambil menjauh dari Aileen. Takut mengganggu wanita itu dan malah terbangun.


"Iya, sayang," jawab Adam.


"Kamu masih di kantor, Mas? Ini sudah larut."


"Maaf, Mas ketiduran. Mas pulang sekarang, kamu tutup saja teleponnya Mas mau siap-siap."


Dan benar saja, Nana langsung menutup sambungan itu tanpa mengucapkan sesuatu lagi. Karena ia percaya pada suaminya. Adam langsung bergegas pergi dari rumah sakit karena Aileen begitu nyenyak dalam tidurnya, keadaannya semakin membaik dan ia berharap istrinya itu akan segera sembuh.


Sedangkan Nana, wanita itu ke dapur setelah menghubungi suaminya. Ia menghangatkan kembali makanan yang sudah ia masak untuk suaminya. Baru kali ini pria itu sampai ketiduran di kantor. Selama 5 tahun, Nana tahu betul kalau suaminya itu akan pulang tepat waktu. Meski hidup tanpa sosok istri, Adam tak pernah keluyuran malam-malam. Waktunya habis bersama Akhsa di rumah setelah jam kantor telah usai.


Saat menata makanan di meja makan, ia mendengar suara deruman mobil yang ia yakini bahwa itu suaminya sudah pulang. Seperti biasa, Nana menyambut kepulangan suaminya. Mengambil alih tas kerjanya dan meletakkannya di atas meja.


Adam mencium kening Nana, wanita itu tak banyak bertanya saat ia pulang telat. Nana malah menyuruhnya untuk segera mandi terlebih dulu.


"Kamu mandi dulu saja, aku sudah siapkan air hangat untukmu. Setelah itu baru makan," ucap Nana. Saat Nana akan pergi, Adam meraih tangan Nana dan menariknya ke dalam dekapannya.


"Maafkan aku ya?"


Nana melapaskan pelukkannya. "Minta maaf untuk apa?" Tanyanya sambil menatap wajahnya.


"Sudah pulang telat."


"Gak apa-apa, cepat mandi. Lalu temui aku di ruang makan, aku sudah lapar."


Adam semakin bersalah, istrinya menunggu kepulangannya. Sedangkan Nana tengah kelaparan dan ia sedang melayani Aileen di rumah sakit bahkan makan bersama-sama di sana.

__ADS_1


__ADS_2