
Nindya dan Rahayu tengah sibuk membuatkan jamu untuk Dewi. Mereka ingin, menantunya segera hamil. Dan kebetulan, Dewi tengah menuju dapur.
"Wi, sini?" Nindya melambaikan tangan kearah menantunya.
"Ya, Aunty. Eh, Mommy maksudku." Dewi nyengir karena belum terbiasa dengan panggilan baru sebagai ibu mertua.
"Ini, kamu minum ini dan habiskan." Nindya meraih tangan Dewi dan memberikan gelas itu padanya. Dewi melihat gelas itu lekat-lekat dengan dahi mengerut.
"Apa ini?" tanya Dewi sambil mendekatkan gelas di depan wajah, menelisik isi air di gelas itu.
"Jamu, kamu harus minum itu," jawab Rahayu, "itu hanya jamu untuk menyegarkan tubuh, Ibu rasa kamu kurang tidur dan harus minum jamu ini. Kantung matamu juga menghitam," jujurnya kemudian.
Masa sih? batin Dewi sembari menyentuh kantung mata bagian bawah.
"Baiklah, aku akan meminumnya." Dewi mengendus jamu itu, "kok baunya aneh sih, Bu?" ucapnya lagi.
"Sudah ... Minum saja jangan banyak protes."
Dewi pun mulai meminumnya, rasanya sangat aneh bahkan ia hampir muntah akibat bau yang menyengat. Tiba-tiba ... Nathan menghampiri, ia memang tengah mencari istrinya.
__ADS_1
Hoeekkk ...
Dewi hampir muntah karena eneg dengan aroma yang menyengat di tenggorokkan.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Nathan sambil mendekat "Dewi kenapa, Mom?" tanyanya.
"Aku gak apa-apa, Kak. Habis minum jamu kok mual ya?"
"Jangan dipaksa kalau memang tidak enak, lagian jamu apa yang kamu minum?" tanya Nathan.
"Jamu sehat aja kok, kamu jangan terlalu khawatir. Ini demi kebaikan kamu juga kok," timpal Rahayu, "sudah, ajak istrimu istirhat. Bukannya besok kalian akan pergi?"
"Ya sudah, kita permisi dulu," pamit Nathan. Menuntun sang istri dengan cara menggandengnya.
* * *
"Langsung tidur saja ya, kalau aku mau mandi dulu," kata Nathan.
"Iya, tubuhku juga pegal-pegal," jawabnya.
__ADS_1
"Nanti aku pijit, sekarang aku mandi dulu."
Beberapa menit kemudian, Nathan pun sudah selesai dengan aktivitasnya. Ia kembali ke kamar dengan celana boxer atasan kaos oblong. Lalu menyisir rambut, dan memakai parfum.
Duduk di tepi ranjang sambil melihat wajah teduh istrinya yang sudah terlelap. "Cepat sekali kamu tidur, pasti capek ya setiap malam harus begadang? Malam ini libur, aku tidak akan mengganggumu," bisiknya. Tapi ia teringat janjinya yang akan memijatnya. Berhubung istrinya sudah tidur, ia mengurungkan niat
Ikut bergelung ke dalam selimut, Dewi yang merasakan kehadiran suaminya langsung mendekapnya dan mencium aroma parfumnya yang selalu membuatnya merasa nyaman dengan baunya.
"Suamiku wangi sekali," ucapnya pelan.
"Kamu belum tidur, hmm?" Nathan sedikit mendongakkan wajah untuk melihat wajah istrinya. Tapi matanya terpejam.
"Jangan aneh-aneh, biarkan malam ini aku tidur. Aku ngantuk sekali," bisik Dewi.
"Iya, kita tidur. Tapi liat besok, aku tidak akan membiarkanmu tidur nyenyak sebelum kita ..."
Dewi mencubit pinggang suaminya sehingga pria itu mengaduh. Dan di luar kamar, tak sengaja Dewa melintas. Pekikkan sang kakak terdengar jelas, sehingga pria itu langsung bergidik dan segera pergi dari sana.
"Dewi brutal juga ya, sadis. Dia apakan kakak-ku sampai mengaduh seperti itu? Apa setelah menikah akan bernasib seperti kak Nathan?" Dewa menggelengkan kepala seraya kembali bergidik.
__ADS_1