
Rahayu terus membangunkan Hanum, tapi tak kunjung bangun. Suara jeritannya membuat bidan kembali menemui pasiennya yang baru saja melahirkan.
"Ada apa, Bu?" tanya bidan itu.
"Hanum, Hanum tidak bangun-bangun. Coba tolong periksa," titahnya pada bidan itu. Dan bidan pun langsung memeriksanya, denyut nadinya pun terhenti. Napasnya sudah tidak dirasakan saat tangan bidan itu di dekatkan di lubang hidung Hanum.
Bidan menggelengkan kepalanya, ia sudah tidak bisa menolongnya karena ini sudah kehendak Tuhan yang maha kuasa. "Maaf, Bu. Hanum meninggal," ucap bidan dengan lirih.
Rahayu langsung menangis histeris, ia sudah menganggap Hanum sebagai anaknya. Sudah banyak yang ia lalui bersama Hanum, keluh kesah Hanum tertumpah padanya. Rahayu memeluk jasad itu, setalahnya melirik ke arah bayi yang sangat cantik. Sungguh malang nasib bayi itu.
"Yah, Hanum, Yah ..." Rahayu memeluk suaminya sambil menangis.
"Yang sabar, ini sudah takdir. Hanum akan bahagia di sisinya." Halim mengusap lembut punggung istrinya, "sebaiknya kita siapkan pemakaman, Ayah akan menyuruh pak Tohir tetangga kita yang biasa menggali kuburan." Halim melepaskan pelukkannya dan langsung mengambil benda pipih-nya untuk menghubungi pak Tohir.
Setelah itu, ia bersiap-siap untuk membawa Hanum pulang untuk dimandikan dan dimakamkan. Biaya persalinan sudah ia urus, tinggal menunggu ambulan datang untuk membawa jasad Hanum. Rahayu meraih tubuh kecil yang tengah tidur, bayi itu sangat nyenyak dari tidurnya.
Tak lama dari situ, sang bayi menangis. Rahayu pun ikut menangis karena tak tega, bayi mungil itu ditinggalkan oleh ibunya untuk selama-lamanya. Ambulan datang langsung membawa tubuh Hanum yang sudah terbujur kaku. Setibanya di rumah, para tetangga yang kepo langsung berkerubun di rumah Halim. Ada yang nyinyir ada juga yang ikut bersedih.
Ucapan para warga berbeda saat terdengar oleh Halim juga Rahayu. Sudah meninggal pun tetangganya begitu tega seakan bahagia melihat Hanum meninggal. Gosip tentang Hanum sebagai wanita hina terus beredar.
Rahayu dan Halim tak mengedahkan ucapan warga yang selalu menjelekkan Hanum. Tidak ada waktu untul meladeni mulut ember mereka. Saat jasad Hanum sudah dimandikan, dan dishalatkan, tak lama dari situ langsung dibawa ke TPU yang lokasinya tak jauh dari rumah Halim.
Rahayu terus menangis sambil menggendong bayi mungil itu. Nisa dan Panji pun sangat terpukul atas kepergian Hanum yang sudah mereka anggap kakaknya sendiri. Kabar duka sudah terdengar dipendengaran Andra, tapi sayangnya ia tak bisa kesana untuk mengantar jasad Hanum keperistirahatannya yang terakhir. Ia harus menemani istrinya yang tengah menjalani operasi.
Andra hanya menyuruh Roy datang sebagai perwakilannya. Dan Adam tak bisa ikut karena selama istrinya hamil besar ia tak pernah lagi pergi keluar kota ia harus siap siaga demi mengantisipasi kejadian yang tak diinginkan.
Pemakaman selesai, tinggal keluarga Halim yang tersisia. Di sini, yang lebih kehilangan adalah Rahayu. Ia sangat terpukul, bahkan kata-kata Hanum yang terakhir selalu terngiang-ngiang dalam ingatannya. Bahwa, setelah melahirkan nanti ia tak akan merepotkannya. Mungkin ini yang dikatakan Hanum. Tidak akan merepotkan karena ia akan pergi untuk selama-lamanya.
__ADS_1
"Bu," panggil Nisa, "kita pulang yuk?" ajaknya kemudian.
"Iya, Bu. Langit sudah gelap, kasihan dede bayi," timpal Panji.
Rahayu menyeka air yang keluar dari hidungnya, jika tak ingat akan bayi Hanum, rasanya enggan untuk meninggalkan Hanum sendirian dilubang sempit dan gelap itu.
"Ayok, Bu." Halim meraih tubuh Hanum yang sedang berjongkok sambil menggendong bayi Hanum. Rahayu pun beranjak, ia terus melirik kearah makam Hanum saat langkahnya mulai melangkah pergi. Menoleh dan terus menoleh hingga ia mulai jauh dari pemakaman.
Hujan pun turun, beruntung mereka sudah sampai di rumah. Rahayu tak melepaskan bayi itu sedetik pun. Sampai Nisa ingin menggendongnya pun tak memberikannya.
"Bu, Ibu pasti pegal. Biar aku gantikan ya, Bu?" pinta Nisa. Gadis yang mulai ABG itu tentu bisa menggendong bayi mungil itu.
"Tidak, biar Ibu saja," tolak Rahayu.
"Tapi Ibu belum makan," kata Nisa lagi.
"Kalau begitu, Ibu istirahat. Kasihan bayi-nya, Bu. Mungkin dia juga pegal karena digendong terus." Nisa terus membujuk ibunya agar mau melepaskan bayi itu di kasur.
Rahayu pun pergi ke kamarnya dan mulai merebahkan tubuh mungil itu bersamanya. Rahayu tidur dalam keadaan memeluk bayi Hanum. Hingga akhirnya ia lelap dari tidurnya.
Sedangkan Halim, ia langsung menyiapkan pengajian untuk kepergian Hanum. Para warga yang masih peduli pun membantunya, hari semakin sore dan harus menggelar pengajian rutin sampai tujuh hari kedepan.
Dan acara tahlilan mulai dilakukan, Roy pun ikut serta dalam pengajian itu. Hingga selesai pengajian, Roy baru izin pulang. Ia tak mungkin meninggalkan keluarganya di rumah.
"Bu, Pak, saya pamit." Kata Roy sambil mencium punggung tangan kedua mertua bos-nya.
"Iya, hati-hati di jalan," pesan Halim. Roy pun mengangguk, lalu pergi.
__ADS_1
* * *
Rahayu tengah menggantikan popok bayi Hanum, ia berada di kamar wanita itu. Lama berada di sana sampai ia melihat kotak berwarna hitam dan itu menjadi pusat perhatiannya. Rahayu mengambil kotak berwarna hitam itu dan membukanya.
Banyak kertas-kertas di sana, ada banyak tulisan yang bisa dibilang itu adalah sebuah surat. Surat yang sengaja Hanum tulis untuk anaknya kelak. Ada poto Doni di sana, itu sepertinya memang pesan untuk anaknya.
Hanum menulis semua kisah hidup di diary yang ia tulis. Rahayu membacanya sampai ia menangis, setelah itu melirik ke arah sang bayi. Lagi-lagi Rahayu menteskan air matanya. Ia pun melanjutkan membaca diary itu, hingga ada sebuah nama di sana. Hanum menulis semua itu seolah tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya.
Dewi, nama itu tertulis. Rahayu sampai berpikir, apa mungkin ini nama untuknya? Hanum berdiri dan menghampiri bayi itu. Bayi itu terbangun, sepertinya haus. Ia pun menggendong sang bayi dan tak lupa merapikan kotak berwarna hitam itu.
Ia akan memberikannya nanti pada bayi itu bila sudah besar. Kamar itu dibiarkan kosong, Rahayu pun mengunci pintu itu rapat-rapat. Tidak ada yang boleh masuk ke sana selain anak Hanum ketika besar nanti.
"Bu, biar Ayah menggendongnya," pinta Halim.
Rahayu pun memberikan bayi itu pada suaminya.
"Ibu sudah siapkan nama untuknya?" tanya Halim.
"Sudah," jawab Rahayu.
"Siapa namanya, Bu?" Halim penasaran
"Dewi." Jawab istrinya sambil membuatkan susu formula.
"Dewi? Nama yang bagus, Ibu sudah siapkan nama itu jauh-jauh hari ya sama Hanum?" duga Halim.
"Tidak, itu Hanum sendiri yang memberikan nama untuk anaknya." Lagi-lagi Rahayu tak bisa menahan air matanya, "sebaiknya tidak usah membahasnya," kata Rahayu lagi.
__ADS_1
Halim yang mengerti pun tak memepermasalahkannya lagi. Membahas Hanum memang seperti luka yang kembali teriris.