
Nana tengah membersihkan darah yang mulai mengering di sudut bibir suaminya. Meski diam, ia tak tega jika melihat suaminya kesakitan seperti itu.
"Aww ..." Adam mengaduh saat Nana menyentuh sudut bibir menggunakan kain, hingga akhirnya, Adam mencekal lengan Nana. Dan tatapan mereka kembali bertemu. Meski mengaduh, Nana masih enggan untuk bicara pada suaminya.
"Apa kamu semarah ini padaku? Mau sampai kapan mendiamkanku?" tanya Adam tanpa memalingkkan wajahnya, ia tetap menatap wajah Nana, "aku harus bagaimana untuk menebus kesalahanku?"
"Kamu tidak salah, dan aku juga tidak marah padamu." Akhirnya, Nana membuka mulut untuk bercakap.
"Lalu kenapa kamu mendiamkanku terus? Salah, jika aku tidak melepasmu? Kamu itu istriku, dan itu sah dalam agama."
"Iya, aku tahu itu. Dan aku tidak egois sepertimu, Mas. Mbak Aileen istri pertamamu dan kamu rela melepaskannya demi aku."
"Itu jalan yang terbaik, Nana. Papa Aileen tidak pernah merestui aku jadi menantunya, dan kamu lihat apa yang dilakukannya kepada putrinya sendiri? Morano tega melukai Aileen, dan itu dia lakukan agar kami berpisah. Pisah jalan yang terbaik, aku harap kamu mengerti. Sudah cukup bagiku kehilangan orang yang aku sayang, dan aku tidak mau kehilanganmu juga Akhsa."
Bukan cuma Aileen yang tersakiti, ia pun sama tersakiti oleh Morano. Jika mereka berpisah, tentu Morano tidak akan lagi mengganggu hidupnya.
"Aku harap kamu bisa mengerti ini, Na. Aku sayang kamu juga dengan Akhsa. Jika aku mempertahankan Aileen, mungkin saja kamu yang ada dalam bahaya."
Nana terdiam sejenak, apa suaminya masih mencintai istri pertamanya? Dan itu ia lakukan untuk melindunginya? Pikiran Nana mulai berkelena, ia kira suaminya itu egois dan sudah tidak mencintai istri pertamanya, ternyata dugaannya salah. Ia melakukan itu karena semata-mata ingin melindungi wanita itu dari ayahnya sendiri. Ayah yang tega melumpuhkan ingatan putri kandungnya.
"Aku harap kamu tidak lagi berpikir kalau aku lelaki yang tak punya hati, setelah aku kehilangannya aku tidak ingin kehilanganmu."
Karena Nana sudah diperbolehkan pulang, Adam pun mengajak istrinya untuk pulang. Karena Andra dan Nindya sudah kembali ke rumah orang tuanya juga dengan Roy, ia putuskan untuk bermalam di hotel. Ia tak mungkin kembali ke rumah Nana, karena menurutnya rumah itu sudah tua, dan kayu sudah mengeropos dimakan waktu. Takut sewaktu-waktu rubuh.
__ADS_1
Dan akhirnya, setelah sedikit drama dan meyakin Nana, Adam bisa meluluhkan istrinya dan diajak pulang ke hotel. Akhsa sudah tidur sejak tadi, karena bocah itu kelelahan. Mau tak mau Adam menggendong anaknya, dan Nana didorong oleh suster dengan kursi roda.
* * *
Aileen sudah selesai mandi juga memakai baju, kini ia tengah menunggu dokter Zack untuk menjemputnya. Saking lamanya, Aileen terus menguap. Ia jadi mengantuk, akhirnya ia tertidur di sofa.
Setelah selesai dengan urusannya, dokter Zack langsung pergi ke apartemen milik Aileen. Tadinya ia tidak menyetujui saran Marsya yang ingin ditemani oleh wanita itu. Zack tidak mau merepotkan wanita itu, apa lagi ia tahu bahwa Aileen belum resmi bercerai dengan suaminya.
Tak ada yang ditutupi oleh Aileen kepada dokter Zack. Semua Aileen curahkan kepada lelaki itu, karena hanya dokter Zack dan Marsya yang dekat dengannya saat ini.
Zack terus melajukan kendaraannya, ia merasa dikejar waktu. Keberangkatannya ke luar kota tepat jam 10 malam, dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul setengah 9. Membutuhkan waktu 30 menit sampai apartemen, hingga akhirnya, Zack menambah kecepatan mobilnya. Sampailah ia di apartemen. Setibanya di sana, ia langsung menghubungi Aileen agar wanita itu yang menemuinya.
Panggilan tersambung, tapi tak kunjung ada jawaban. Kesal menunggu, Zack terpaksa menemui Aileen. Ia tak ingin terlambat dengan keberangkatannya, karena ia yang menjadi perwakilan dari rumah sakit.
Aileen begitu pulas, bahkan bel berbunyi beberapa kali pun tak terdengar olehnya. Zack sampai menggedor-gedor pintu, dan Aileen pun terbangun seketika. Kepalanya terasa pusing saat itu juga, bangun dari tidurnya ia langsung menghampiri pintu lalu membukanya.
Tidak ada waktu lagi, Zack langsung saja menggendong Aileen dan membawa wanita itu pergi. Tak lupa ia menutup pintu terlebih dulu. Ini bukan sebuah ajakan, melainkan seperti penculikan. Aileen meronta, ia mau diturunkan saat itu juga. Tapi sayang, Zack benar-benar tidak ada waktu.
"Zack, lepaskan." Aileen terus saja menggerakan kakinya. Sampailah mereka di mobil.
"Jangan merutukku, aku tidak ada banyak waktu. Kalau ingin mengomel nanti saja," cela Zack saat Aileen tengah merutuknya dengan kesal. Betapa malunya ia saat tadi, banyak pasang mata yang melihatnya saat berada di gendongan Zack.
"Apa kamu sudah gila? Kurangi kecepatanmu!" teriak Aileen. Aileen dan Zack sudah tidak canggung-canggung, mereka terlihat dekat. Namun hanya sebagai seorang teman. Karena mereka berdua sering bertukar cerita, Zack sendiri tahu kalau Aileen masih mencintai suaminya.
__ADS_1
Begitu juga Aileen, ia tahu betul tidak ada yang bisa menggantikan mendiang istrinya. Nama sang istri begitu tertanam dalam, dalam hatinya. Setelah menempuh perjalan yang sangat mengerikan, mereka pun sampai di mansion dokter Zack. Rumah itu nampak seperti istana, tapi terasa sunyi seperti rumah tidak berpenghuni.
"Ini rumah apa kuburan?" tanya Aileen. Ia menatap rumah itu tanpa berkedip, saking terkejutnya karena ini pertama kali ia datang. Rumah Zack mengalahkan rumah milik orang tuanya.
"Bisa cepat sedikit? Aku tidak punya banyak waktu lagi," cetus Zack.
Aileen baru tahu kalau Zack orangnya pemarah, lebih tepatnya belum tahu karakter dokter Zack. Bukan marah, Zack takut telat dan dianggap tidak profesional oleh dokter yang lain.
"Koperku," ucap Aileen.
"Koper? Aku tidak membawa kopermu, aku sibuk menggendongmu. Lebih baik kamu masuk, aku akan segera pergi. Anggap saja rumah sendiri, Marsya juga kayaknya sudah tidur."
"Lalu bagaimana baju-bajuku?"
"Kamu bisa memakai baju istriku, kalau tidak, kamu bangunkan Marsya untuk mengantarmu ke tempat di mana baju istriku tersimpan. Aku harus pergi sekarang." Zack melirik jam di tangan, waktu semakin mepet, ia langsung pergi sebelum Aileen masuk ke dalam.
"Pak, gerbang ditutup saja. Mungkin saya tidak pulang dalam beberapa hari, titip Marsya juga Nona itu." Zack menunjuk ke arah Aileen. Dan security itu mengangguk mengerti.
* * *
Aileen pun masuk, ia melihat seisi rumah dengan tatapan takjub. Dokter Zack bukan orang sembarangan, dia sangat kaya raya. Tapi sayang, rumah sebesar ini tidak ada penghuninya, dan itu membuatnya sedikit takut.
Ia tidak tahu di mana letak kamar Marsya, hingga sebuah suara mengejutkannya.
__ADS_1
"Aunty?"
Aileen menyentuh dada-nya karena terkejut. "Marsya."