
Seusai makan, semua berkumpul di taman belakang. Duduk santai di gazebo, Halim kembali ke kantor. Tapi tidak dengan Roy, Andra menyandra anak buahnya itu karena sudah mendapatkan perhatian dari istri tercintanya. Ia sangat tidak rela dengan hal itu.
"Sudah bosan kerja denganku?" tanya Andra menyidang Roy.
"Apa maksud, Tuan?" Roy tidak mengerti karena ia tak berpikir untuk berhenti.
"Kenapa tadi menerima suapan dari istriku, hah?" tanya Andra lagi. Dan kini Roy mengerti, kalau ternyata pria itu tengah cemburu.
"Tuan cemburu?" tanya Roy.
"Tidak!" eleknya berbohong.
"Jangan bohong, bilang saja kalau cemburu. Tidak usah gengsi begitu, malah menyudutkanku dengan pertanyaan yang tidak masuk akal. Mana mungkin bosan bekerja, kalau pun mau berhenti aku harus pikir-pikir dulu. Mau nyari kerja di mana? Istri dan anakku makan apa kalau aku berhenti, Tuan?"
"Ya makanya, kamu jangan begitu. Saya tidak suka kamu mendapatkan perhatian dari Nindya." Andra dan Roy bicara berdua, mereka sedikit berjauhan dengan yang lain. Ia tak ingin istrinya mendengar tentang hal ini. Nindya sedang berbaik hati pada Roy, sedangkan padanya malah sebaliknya.
"Situasiku sedang tidak aman, jadi kamu jangan dekat-dekat dengan istriku!"
"Tuh 'kan, Tuan itu cemburu. Aku punya Elena yang menurutku dia jauh lebih cantik."
"Maksudmu istriku tidak cantik begitu, hah?"
Roy salah lagi, bela istri salah. Kalau dia bilang istrinya lebih cantik, Andra semakin marah. Lalu ia harus bagaimana? Jadi serba salah begini. Karena masalah ini tidak akan kelar karena Andra terlalu cemburu, jadi Roy lebih memilih menyusul Halim ke perusahaan.
"Aku tidak mau jadi kambing hitam, lebih baik aku ke kantor. Lebih baik cape fisik dari pada cape hati dan pikiran." Setelah itu, Roy pun pergi. Tapi langkahnya terhenti saat Nindya memanggilnya.
Sontak, Andra pun langsung memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia melihat istrinya memberikan sesuatu pada sekretarisnya itu, apa yang diberikannya? pikirnya. Karena penasaran, ia pun menghampiri.
"Apa itu?" tanya Andra sambil melihat bungkusan di tangan Roy.
"Itu cemilan, buat Mas Roy di kantor," jawab Nindya.
"Perhatian sekali kamu padanya, apa aku sudah tidak menarik sampai kamu berpaling dariku?" Andra tak lagi bisa menahan rasa cemburunya.
__ADS_1
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Jangan ngaur kalau bicara, kamu cemburu sama karyawanmu?" tanya Nindya. Roy yang mendengar, langsung melipir begitu saja tanpa pamit. Ia takut kena amukan sang bos, apa lagi dengan ancamannya tadi, ia takut dipecat karena hanya masalah cemburu buta.
"Abisnya kamu anggurin aku dan malah perhatian pada Roy. Dia disayang, sedangkan aku tidak. Sebenarnya suamimu itu aku apa dia?" Ia harap istrinya akan mengerti dengan isi hatinya, eh Nindya malah semakin tidak menyukainya karena merasa tersudutkan dengan perhatian yang ia berikan pada Roy. Padahal, Nindya merasa biasa saja. Sikapnya tidak berlebihan, hanya memberikan kue untuk Roy, dan itu juga ia berikan untuk ayahnya biar dimakan sama-sama.
Akan tetapi, Nindya melupakan suapan untuk Roy tadi. Karena ia tak menyadari bahwa itu berawal suaminya kesal pada Roy. "Kamu menuduhku suka sama karyawanmu? Tega sekali punya pemikiran buruk tentangku!" Nindya balik marah pada suaminya, dia juga langsung pergi meniggalkan Andra seorang diri berdiri di ambang pintu keluar.
"Kenapa jadi dia yang marah? Yang salah itu sebenarnya siapa? Aku apa istriku?" Andra mematung sambil melihat kepergian istrinya.
Bumil itu pergi dengan kesal, bahkan berpapasan dengan ibunya pun berlalu begitu saja. Sampai Rahayu bingung melihatnya, lantas ia menghampiri menantunya dan menanyakan soal sikap Nindya.
"Istrimu kenapa?" tanya Rahayu.
"Entahlah, Bu. Sepertinya aku selalu salah, apa itu bawaan ngidam?" tanya Andra, "sering marah-marah tidak jelas, terus kalau dia salah dia yang marah, Bu. 'Kan aneh," Andra curhat.
"Sabar saja, mungkin itu memang bawaan hamil. Nanti juga gak, kamu ngalah saja. Mnungkin Nindya butuh perhatian lebih darimu," tutur Rahayu.
Andra menghela napas, sepertinya apa yang diucapkan ibu mertuanya ada benarnya juga. Dan ia mau coba itu, semoga saja setelah memberikan perhatian lebih kepada istrinya, Nindya tidak lagi bersikap seperti itu.
"Iya, sudah sana, kamu susul istrimu. Biar anak-anak Ibu yang jaga."
Baru saja Andra melangkah, anak gadisnya memanggilnya. "Daddy, sini." Pinta Nala sambil melambaikan tangan.
"Iya, sini, Kak. Kita main monopoli, kita kurang oarng nih," timpal Nisa.
"Ajak Nathan saja atau gak om-mu, Panji, Daddy tidak bisa. Daddy mau temui Mommy dulu," tolak Andra pada putrinya.
"Ah, Daddy. Mommy terus yang diperhatiin, Nathan tidak ada, dia pergi sama Om Panji." Nala mengerucutkan bibirnya karena kesal, perhatian di rumah ini semua tertuju pada sang mommy, termasuk Roy.
"Sudah, pergi saja. Selamatkan rumah tanggamu," kata Rahayu meledek. Jantungnya rumah tangga itu memang ada diistri, jika istri merajuk maka rumah akan terasa sepi.
Andra mengangguk dan ia pilih menemui istrinya. "Maafkan Daddy, nanti Daddy menemuimu setelah mommy."
* * *
__ADS_1
Di kamar.
Nindya tengah meringkuk, seharian mengeluarkan emosi pada suaminya membuatnya sedikit lemas. Ia juga cape dengan sikapnya yang tak karuan, marah, kesal, bawaannya selalu emosi. Ia memejamkan mata, mungkin dengan mengistirahatlan tubuhnya akan mengurangi kekesalannya.
Baru saja, Nindya akan tidur. Pintu kamar terbuka sehingga Nindya menengok ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang. Karena suaminya yang datang, ia pun tak jadi tidur. Ia malah duduk di sandaran ranjang.
Andra menghampiri dan ikut duduk di samping kaki istrinya karena posisi Nindya terduduk dengan kaki berselonjor. Andra berinisiatif untuk memijak kaki istrinya, ia lakukan itu agar istrinya tak lagi merajuk padanya.
Ini cara melulihkan sang istri. Memijat kakinya secara perlahan. Dan itu membuat Nindya rilex.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Nindya.
"Apanya?" tanynnya balik.
"Pijat kakiku."
"Tidak suka?" tanya Andra.
"Aneh saja, tumben kamu mau pijat kakiku?"
Padahal Andra sering memijatnya, terus dengan entengnya Nindya bilang tumben. Andra sampai mengusap dada, jangan sampai ia kepancing.
Butuh rayuan maut untuk bumil, agar Andra dapat kembali mendapatkan perhatian dari istrinya.
Andra tak mengidahkan omongan istrinya, terus memijat kaki istrinya sampai Nindya tertidur karena menikmati yang ia anggap terapi pijatan khas suami. Dengkuran halus mulai terdengar. Karena posisi Nindya tidur dalam keadaan duduk bersandar, ia pun membenarkan tidurnya. Perlahan ia merebahkan tubuh berbadan dua itu ke tengah kasur. Memposisikan bantal untuk menyangga kepalanya. Mengecup keningnya dengan panjang, meski sering membuatnya kesal ia tetap meyanginya.
Nindya belahan jiwanya, menatap wajahnya tanpa bosan. Mengelus pipinya dengan lembut. Nindya merasakan sentuhan itu, ia langsung menangka tangan suaminya. Menariknya lalu menciumnya.
Dan Andra malah ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri tercinta, rupanya rayuan mautnya ampuh. Nindya tak lagi marah padanya, ia malah memeluk suaminya dengan saat erat. Seolah tak ingin ditinggalkan saat ia tengah tertidur. Alhasil, mereka tidur siang bersama.
...----------------...
Hai reader, masih ingat dengan hadiah yang mau aku kasih? Berupa pulsa ya, ditunggu dukungannya sampai besok malam, ok. Ayo dukung sebanyak-banyaknya. Lumayan dapat pulsa, bisa ditukar kuota.
__ADS_1