Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episode 186 Menilai Kestiaan


__ADS_3

Perlahan, bumi mulai terang. Nathan mengendari mobilnya dengan kecepatan sedang, lambat, tapi pasti. Mobilnya kini sudah terparkir di depan rumah yang bercat putih dengan pagar yang tinggi. Merogok ponsel yang terletak di dashboar. Lalu mengetik sesuatu.


'Aku sudah ada di depan, cepatlah turun.'


Sebuah pesan sudah tercentang dua, tak lama centang itu berubah menjadi biru. Si penermia pesan tengah mengetik. Tak lama, muncul sebuah notif masuk ke dalam chat tersebut.


'Tunggu sebentar.'


Nathan tersenyum. Ia takut mengganggu karena bertamu terlalu pagi, sampai pada pukul jm 05.45. Bumi memang sudah terang, tapi ia tak yakin jika penghuni di rumah Dewi sudah terbangun. Terlebih pada calon mertuanya. Beberapa menit kemudian, pintu pagar terbuka. Security membukanya disertai Dewi yang ikut menyusul keluar.


"Masuk saja, papaku juga sudah bangun," ucap Dewi mengajak kekasihnya.


Dugaannya ternyata salah besar, Nathan jadi tak enak akan prasangkanya. Meski Doni terlihat lelaki hidung belang karena sudah menikah 3 kalo, tapi itu hanya orang yang memandangnya jelek. Pada kenyataannya cintanya hanya tertuju pada Hanum. Setelah ayahnya meninggal, Doni melepaskan istri-istrinya karena ia memang tak pernah memberinya nafkah batin.


Doni setia pada mendiang Hanum sampai sekarang. Ia memilih untuk sendiri, berharap, kelak ia akan dipertemukan bersama Hanum di alam sana. Pria itu tengah menyeruput kopi di pagi ini, dengan setelan jas yang memang sudah siap pergi ke kantor karena hari ini dirinya akan pergi ke luar kota. Ia senang jika Dewi sudah ada keluarga yang menjaganya, tak khawatir jika ia pergi jauh dalam beberapa hari ke depan.


"Pagi, Om," sapa Nathan sedikit membukkan tubuhnya pada Doni.


"Hmm, pagi juga. Silahkan duduk, Om mau bicara." Tanpa berbasa-basi Doni mempersilakan calon menantunya itu duduk di hadapannya, "sambil sarapan saja, ayo, jangan sungkan-sungkan," tawar Doni kemudian.

__ADS_1


"Iya, Om." Nathan tersenyum tipis karena masih merasa canggung. Di sebrang meja, Dewi mengambilkan sarapan semacan nasi goreng dan menyodorkannya pada Nathan. "Terima kasih," ucap Nathan.


Dewi hanya tersenyum sambil mengangguk, dan ia pun mengambil sarapan untuknya. Ia hanya mendengarkan apa yang diucapkan Doni pada Nathan.


"Om titip Dewi padamu, jaga dan bahagiankan dia. Om mau pergi jauh," terang Doni.


"Pergi jauh?" Nathan mengulang ucapan Doni.


"Maksud Papa, dia mau ke luar kota untuk beberapa hari ke depan," jelas Dewi.


"Oh ... Kirain, pergi jauh kemana?" Nathan merasa itu titipan seperti pesan terakhir. Semoga itu hanya pikirannya, semoga perjalanan lancar dan selamat sampai tujuan. "Iya, Om. Tentu, aku akan membahgiakan Dewi sebisaku. Om tidak perlu khawatir itu," terang Nathan.


"Papa hati-hati ya, beri kabar jika sudah sampai." Dewi memeluk papanya, dan pelukkan itu seolah memberi kehangatan yang berbeda. Entah kenapa merasa enggan untuk dilepaskan, ini pertama kali ia mendapatkan pelukkan dari Doni selama ini.


* * *


Seusai mengantar Doni ke depan rumah, Dewi pun langsung bersiap untuk pergi ke kampus bersama calon tunangannya.


"Pastikan hanya ada aku dalam hatimu," ujar Nathan setibanya di depan kampus, "aku dengan kamu primadona siswa baru di sini."

__ADS_1


Dewi mengernyit, dari mana pria itu tahu julukannya di kampus. "Jangan menatapku heran," kata Nathan saat melihat Dewi menatapnya dengan tatapan aneh, "mudah bagiku mendapatkan info tentangmu di sini."


Dewi tak bisa menganggap remeh tentang Nathan, ia percaya. Apa pun yang diinginkannya, pria itu pasti mendapatkannya.


"Iya, aku mengerti itu. Dan Kakak juga taukan kalau aku bukan wanita gampangan yang bisa didekati pria mana pun. Aku rasa, aku cukup setia selama ini. Menyukaimu bukan beberapa hari, terhitung sejak Kakak pergi kuliah ke luar negri dan aku masih tetap sendiri sampai sekarang. Kakak bisa menilai kesetiaanku, bukan?"


Mendengar penuturan gadis itu ada rasa kepuasan tersendiri. Ternyata gadis itu sangan mencintainya, ia mengakui bahwa Dewi sangat cantik. Banyak pria yang mencoba mendekatinya, dan ia merasa menjadi laki-laki yang paling spesial di mata gadis itu.


"Aku akan menjemputmu, beritau aku jika kamu sudah selesai kuliah." Nathan meraih tangan gadis itu lalu mengecupnya. Dan gadis itu tersenyum dengan wajah bersemu merah.


"Dah ...." Dewi melambaikan tangan ke arah mobil dan sedikit membungkukkan tubuh untuk melihat ke dalam si pengemudi yang siap melaju.


...----------------...


Aku hadir lagi, semoga tidak bosan ya. Untuk hari ini aku bawakan rekomendasi karya teman, silakan mampir.


Judul : Masa lalu sang presdir.


__ADS_1


__ADS_2