
Beberapa saat kemudian, lebih tepatnya setelah usai percintaan mereka. Elena meringis, merasakan sakit di bagian inti-nya.
"Aw ...," Elena memekik.
"Kenapa? Apa sakit sekali?" tanya Roy khawatir.
"Hemm." Jawab Elena sambil mengangguk.
"Maafkan aku," sesal Roy.
"Tidak perlu minta maaf, itu sudah kewajibanku memberimu hak atas diriku."
Mendengar penuturan itu, Roy mendaratkan sebuah kecupan di kening Elena. Elena mengaduh karena ia merubahkan posisinya, ia merasa tak nyaman dengan rasa sakit yang tinggal oleh suaminya. Melihat tubuh istrinya yang masih polos, Roy mengambil jubah handuk yang terletak di atas meja lalu memakaikannya.
Ia baru sadar bahwa di atas meja itu ada beberapa cemilan, seingatnya tak ada makanan sebelum ia ke kolam.
"Kapan ada makanan di sini?" tanyanya sendiri.
Elena pun terkejut ketika mendengarnya, karena memang ia yang menyuruh bi Asih untuk mengantarkannya. Kalau begitu, wanita itu pasti melihat adegannya dengan suaminya. Bagaimana ini? Elena jadi malu.
"Bi Asih pasti melihat kita." Ucap Elena sambil mencubit pinggang suaminya.
"Kok nyubit sih? Kalau bi Asih yang melihat kenapa marah padaku?"
"Semua ini karenamu, kalau kamu gak ada di sini kita tidak akan-."
"Akan apa? Hmm?" pungkas Roy.
__ADS_1
Ia kira setelah kejadian barusan membuat istrinya akan selalu hangat padanya. Nyatanya tidak, Elena tetap saja galak padanya. Apa dia akan baik saat sedang bercinta saja dengannya? Pikir Roy.
"Tidak usah membahas itu, jangan berpikir yang tidak-tidak terhadapku. Aku hanya menjalani tugasku sebagai istri." Elena belum bisa mengakui akan perasaannya. Ia masih sok jual mahal, padahal sudah jelas, bahwa ia merasa mulai nyaman ketika bersama suaminya.
"Jadi, kamu melakukan ini tanpa cinta?" Wajah Roy cemberut, ia kira istrinya mulai jatuh cinta padanya. Padahal, baru saja ia akan menyatakan cinta pada istrinya itu. Tahu begini, Roy tidak jadi mengungkapkan perasaannya karena takut wanita itu menolak perasaannya.
*Bodoh sekali Roy ini, masa harus ditanya soal perasaan. Sudah jelas Elena mau melakukannya denganmu kenapa pula harus bertanya soal cinta? Haha othor ikut gereget sama pria ini, polos atau apa sih kamu ini, Roy. Yuk lanjut*
Elena tak menjawab, ia sendiri malah kesal. Apa ia harus menjabarkan semua soal perasaannya? Malu, itulah yang dirasakan Elena saat ini.
"Kenapa diam? Apa perlu kita melakukannya lagi?" Roy belum puas jika tidak mendengar kata cinta dari pasangannya. Karena Elena masih tak bersuara, ia langsung saja meraih tubuh istrinya. Ia membawanya ke kamar, ia akan menghukum istrinya dengan caranya sendiri.
* * *
"Ma-mau apa?" Elena takut, suaminya itu menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kalau kamu tidak cinta, katakan tidak cinta padaku?" batin Roy sambil mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya. Selama ia tak mendengar kata itu, Roy akan terus melanjutkan aksinya. Ia akan memulai season kedua malam ini. Malam yang tak akan bisa dilupakan oleh istrinya selama hidupnya.
Perlahan, Roy membuka tali jubah handuk yang dikenakan oleh istrinya. Hingga terlepaslah sudah, tubuh mungil itu sedikit bergetar. Hawa dingin mulai menjalar di tubuhnya. Tahu kondisi istrinya seperti itu, Roy menarik selimut sampai menutupi tubuh polos mereka. Roy mulai bermain di dalam selimut itu, memainkan tubuh istrinya dengan caranya.
"Ah ..." Desah Elena menggema di pendengaran Roy.
Roy semakin gencar, ia menutut lebih dari kejadian di kolam renang tadi. Meski sakit, Elena menikmatinya. Rasa sakit itu mulai berubah menjadi nikmat. Padahal, Roy belum memasukkan rudalnya. Ia masih bermain dengan gunung kembar milik istrinya dan tangannya mulai bermain di bawah sana.
Elena menjambak rambut Roy. Pria itu semakin dikuasai oleh gelora cintanya. Rasa cintanya mulai melambung tinggi. Setelah puas bermain, Roy mulai dengan aksinya. Perlahan-lahan ia menyatukan tubuhnya, pinggulnya mulai maju mundur. Sedangkan Elena, ia tak sadar bahwa ia memberikan tanda di punggung suaminya. Sebuah cakaran akibat menahan rasa sakit dan nikmat menjadi satu.
Elena semakin sendesah, dan Roy semakin bersemangat. "Katakan kata cinta padaku Elena?" Ucap Roy yang masih memompa. "Cepat katakan!" Roy mempercepat pergerakannya karena sedikit geram pada istrinya itu.
__ADS_1
"Ah, Roy ..." Elena tak kuasa, jangankan untuk berucap, bernapas saja ia tersengal karena Roy begitu membabi buta dengan gerakannya.
Roy terus berselancar, ia tak akan menghentikan aksinya sebelum Elena mengatakan kata cinta padanya, Roy sudah gila! Gila dari sebuah kata cinta dari pasangannya.
"Aku cinta, Roy. Aku cinta!" teriak Elena.
Roy terseyum, tapi ia belum puas dengan ucapan itu.
"Yakinkan aku dengan pengakuanmu, sayang."
"Aku cinta padamu, Roy. Aku sudah tidak kuat, aahhhhhh ....."
Roy sedikit mempercepat pergerakkannya lagi. Ia mulai di batas puncak, tak lama dari situ Roy mengerang hebat. Tubuhnya ambruk di atas tubuh istrinya. Ia mencium wajah Elena bertubi-tubi.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih atas pengakuanmu." Roy membenamkan sebuah kecupan panjang di kening Elena.
Wanita itu sudah lemas, ia hanya bisa memejamkan kelopak matanya.
...----------------...
Pagi All ...
Othor : Seneng dong pasti aku sudah up pagi iniπ€£π€£
Readers : Biasa aja tuh π π
Othor : Ketawa karena ngenes, emang ada gitu yang seneng kamu up? tanyanya sendiri. Nasib-nasib π€£π€£
__ADS_1