
Wajah Elena nampak memerah karena sudah terciduk oleh karyawan baru di perusahaan suaminya bekerja. Menurutnya, wanita itu memang tidak sopan. Bagaimana tidak? Karyawan baru kok main nyelonong saja, pikirnya.
"Dokter cantik sudah mau pulang?" tanya Adam sambil menggoda.
"Apaan sih, cantik-cantik. Geli dengernya juga!" cetus Elena. Adam sudah tahu bagaimana Elena, dokter galak yang pernah ia kenal.
"Becanda kok," ujar Adam, "jangan marah." Adam melihat wajah Elena bersemu merah karena ia berpikir wanita itu tengah kesal padanya.
"Ada apa? Tumben sekali menyapa, pasti ada maunya!" Elena tahu dari Roy tentang permasalahan yang ia hadapi. Berbagai macam cara sudah Adam lakukan untuk menemui Aileen, namun tak kunjung berhasil karena Morano menjaga ketat rumah yang di tempati oleh Aileen.
"Tahu aja, Dok," ucap Adam lagi.
"Oh, dia dokter," gumam Laura yang menguping pembicaraan Adam dan Elena. Ia bersembunyi di balik dinding.
Elena menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu menghampiri Adam lebih dekat.
"Siapa nama karyawan baru tadi?" tanya Elena sambil berbisik pada Adam.
"Laura," jawab Adam.
"Sutttt ... Jangan-jangan keras-keras, nanti dia denger." Elena meletakan jari telunjuk di bibirnya.
"Iya-iya, ada apa emangnya? Jangan cemburu padanya, Roy jutek banget sama dia," jelas Adam. Pria itu seolah tahu apa yang dirasakan Elena.
"Aku titip suamiku, sepertinya ada gelagat pelakor di sini. Kamu 'kan tahu bagaimana tampannya suamiku." Ucap Elena sambil tergelak, "katakan, apa yang inginkan dariku, hah?" tanyanya lagi pada Adam.
Adam memutar bola mata karena jengah saat mendengar pengakuan Elena yang mengatakan Roy itu tampan, ia juga 'kan tampan, apa bedanya coba? Pikirnya.
"Cepat katakan, aku harus kembali ke rumah sakit!"
"Santai dong, Dok. Jangan galak-galak, bantuin aku bertemu dengan Aileen. Kamu 'kan Dokter, kamu pasti bisa masuk ke rumah Aileen dan mengajakku ke sana."
"Bagaimana caranya? Tampang penjahat sepertimu pasti dikenali oleh anak buah papanya Aileen."
"Tampan begini, jahat dari mananya?" Adam dan Elena malah saling mencela dan berakhir candaan.
"Ya, ya ... Aku akan membantumu, tapi kamu harus mau melakukan apa yang aku suruh, ok?"
"Hmm, baiklah." Adam pasrah, apa pun akan ia lakukan agar bisa bertemu dengan Aileen.
"Nanti malam ke rumahku, ok?" kata Elena, "aku balik ke rumah sakit dulu, ingat pesanku, ok?"
"Iya, aku akan menjaga suami jelek-mu." Ujar Adam sambil tertawa.
__ADS_1
"Tampan, Adam ... SUAMIKU TAMPAN," Elena menakan kata tampan.
"Iya deh, TAMPAN!"
* * *
Tak terasa, jam kantor telah usai. Adam masuk ke ruangan Roy, mereka masih berkutat di meja kerjanya. Padahal jam kantor sudah selesai beberapa menit yang lalu.
"Roy, pulang, ayok?" ajak Adam
"Duluan saja," jawab Roy.
Adam mendudukkan tubuhnya di kursi meja kerja Roy. "Kamu gak suruh dia pulang?" tanya Adam soal Laura.
Gadis itu masih kerja, bahkan nampak serius.
Roy melirik ke arah Laura sekilas, sejak kejadian tadi siang, mereka sama sekali tak bersuara.
"Jangan dingin seperti itu, Roy. Dia bekerja untukmu, tuan Wiliam bisa marah kalau dia tahu cara kerjamu memperlakukannya," kata Adam.
Roy mengerutkan keningnya, ia merasa biasa saja dengan sikapnya. Lagian, harus seperti apa memperlakukan wanita itu? Pikirnya.
"Ayolah, Roy. Tidak usah sekaku itu pada wanita, jangan mentang-mentang sudah beristri kamu bisa bersikap dingin padanya," cerocos Adam lagi.
"Aku mau pulang bersamamu, aku ada perlu dengan istrimu," tutur Adam.
Roy mendelik, ada perlu apa dengan istrinya? Apa mereka sedekat itu?
Sementara di sebrang meja sana, Laura nampak mendengarkan percakapan mereka. Ia begitu ingin tahu apa yang sedang dibicarakan oleh mereka? Terlebih tentang pernikahan Roy dengan gadis itu, sejak kapan mereka menikah? Setahunya, Roy begitu mencintainya. Bahkan ia masih ingat akan janji Roy padanya. Ia akan menunggu sampai ia kembali.
Dan kini, ia sudah kembali ke tanah air. Tapi, kenyataan tak sesuai ekspektasi. Roy yang ia anggap akan setia menunggunya ternyata sudah menikah. Ini semua memang salahnya, ia memutuskan hubungan secara sepihak. Ia lebih rela meninggalkan Roy demi cita-citanya.
Aku yang salah, Roy. Aku memang menyuruhmu melupakanku. Tapi kenapa hatiku tidak rela jika kamu sudah menjadi milik orang lain? Apa kamu benar-benar sudah melupakanku? Laura melamun sampai-sampai ia tak tahu bahwa Roy dan Adam sudah menghilang dari ruangannya.
* * *
"Kamu itu kenapa sih, Roy? Sepertinya tidak suka sekali pada Laura, kasian 'kan dia ditinggalkan sendirian di sana," kata Adam yang sudah berada di dalam mobil milik Roy.
"Jangan cerewet! Kalau tidak, aku tidak akan mengizinkanmu ikut bersamaku!" ancam Roy.
"Bukan cerewet, kamu begini pasti ada alasan. Laura baik, Roy."
"Baik menurutmu, bagiku tidak!"
__ADS_1
"Apa kalian sudah saling mengenal?" duga Adam.
"Iya, dia mantanku. Jadi jangan lagi membahasnya!" Akhirnya, Roy pun jujur pada Adam. Karena ia tak ingin merahasiakan ini, perlahan, ia pun akan jujur pada istrinya.
"Elena tahu?" tanya Adam.
"Tidak, lebih tepatnya belum. Aku akan mengatakan padanya supaya tidak salah paham, aku mencoba saling terbuka. Dia juga terbuka padaku soal Alan, kami tidak ingin bertengkar karena masalah masa lalu," jelas Roy.
Adam hanya manggut-manggut, kini ia mengerti apa maksud dari sikap Roy yang dingin pada Laura. Mungkin Roy tidak ingin masa lalunya menjadi malapetaka bagi hubungannya dengan istrinya, pikirnya.
"Nah, kalau jujur 'kan enak. Aku tidak akan membahas lagi masalah ini, jaga jarak saja dengan Laura. Takutnya perasaanmu nanti tumbuh lagi padanya," celetuk Adam.
"Jangan asal bicara!" Roy tak suka dikira akan melabuhkan hatinya kembali pada mantannya itu, menurutnya, masalalu perlu dikubur dalam-dalam.
Tak berlama lagi, Roy melajukan mobilnya. Ia akan menjemput istrinya. Setibanya di sana, Elena sudah menunggu kedatangan suaminya. Ia berdiri di pinggir jalan, dan tak lama, mobil suaminya sudah terlihat. Elena tersenyum manis saat tahu mobil suaminya sudah datang.
"Hai, Dokter," sapa Adam.
"Jangan genit-genit pada istriku!" cetus Roy.
"Siapa yang genit? 'Kan hanya menayapa, apa salahnya?" Adam tak kalah sengit.
Elena hanya geleng-geleng kepala saat melihat kedua pria itu yang bersikap seperti anak kecil.
"Dia hanya menyapa, tidak usah marah," ucap Elena.
"Bela saja! Sejak kapan kamu berada dipihaknya?" tanya Roy.
"Kamu itu kenapa sih? Uring-uringan terus?" curiga Elena.
"Lagi dapet kali," timpal Adam yang duduk di jok belakang.
"Mau aku turunkan, hah?" kata Roy.
"Sorry-sorry ... Jangan marah-marah terus, nanti cepet tua loh," ledek Adam.
Sejak kehadiran Laura, rasanya Roy ingin memarahinya. Marah karena kecewa pada wanita itu, hingga menit berikutnya, ia sadar bahwa tak seharusnya ia melampiaskan pada orang terdekatnya. Akhirnya, Roy melajukan mobilnya untuk segera pulang.
...----------------...
Kita lupakan dulu soal Andra dan Nindya. Mereka sedang asyik berlibur, ok, readers😁😁
Kita bahas Roy Elena juga Adam, yes?
__ADS_1