
Sebentar lagi akad akan segera dimulai. Ini semua terasa mimpi bagi Elena juga Roy. Elena begitu gelisah, dan kini ia sedang berada di kamar bersama tante-nya. Bagaimana ini semua bisa terjadi padanya? Wajahnya semakin pucat, dan kepalanya serasa mau pecah.
"El, kok tegang gitu, santai aja. Rilex, El. Ini hari bahagiamu," kata tante-nya. "Pakai lipstik yang warna ini, biar tidak terlihat pucat." Tante-nya kembali berucap sambil menyodorkan lipstik berwarna merah.
Sementara Andra, pria itu mondar-mandir tidak jelas. Ibu Rahma menyuruhnya untuk menghapal ijab qobul, tapi sepertinya Roy tidak peduli. Ia pun sama seperti Elena, memikirkan pernikahan mereka yang mendadak. Ditambah lagi mereka belum saling mengenal lebih.
"Roy, diam lah. Ibu pusing melihatmu mondar-mandir tidak jelas seperti itu," kata Rahma.
"Bu, batalkan saja pernikahan ini. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dokter Elena, semua ini salah paham, Bu." Roy mencoba sekali lagi untuk membatalkan pernikahannya.
"Ngaur kalau ngomong, penghulu sebentar lagi sampai. Tuan Andra juga sudah di jalan," tutur Rahma. "Pokoknya kamu harus menikahinya, Ibu setuju kamu menikah dengannya. Sepertinya dia gadis baik-baik."
"Roy," panggil om Elena. "Ayo kemari, Pak Penghulu sudah sampai. Mereka ingin mengenalmu sebagai calon pengantinnya."
"I-iya, Om." Roy pun ikut bersama om-nya Elena yang bernama om Bagas itu.
Setibanya di ruang tamu, disaat itu juga Andra dan Nindya datang. Mereka terkejut saat mendengar kabar ini. Roy yang melihat langsung menghampiri tuannya yang masih berada di ambang pintu.
"Tuan, tolong aku, Tuan. Tolong bantu aku untuk membatalkan pernikahan ini, Tuan 'kan tahu kalau aku dan dokter Elena tidak ada hubungan apa-apa." Roy memelas, ia begitu memohon pada bosnya untuk menolongnya.
"Apa kamu sudah gila? Mana mungkin dibatalkan, kamu tidak lihat, meja untukmu mengucapkan ijab qobul saja sudah siap. Bagaimana dengan ibumu kalau pernikahan ini batal? Kamu jangan egois! Pikirkan tentang ibumu juga, dia pasti malu dan kecewa, Roy."
Roy pun berpikir, mungkin ini sudah takdir yang sudah digariskan dari Tuhan untuknya. Tapi masalahnya, bagaimana dengan gadis itu?
Beberapa menit kemudian, dan Roy pun akhirnya sudah duduk dan berkenalan dengan pak penghulu. Kini mereka tengah menunggu calon pengantin wanita. Tak berselang lama, Elena dan tante-nya yang bernama Ingga itu datang. Elena mengenakan kebaya seadanya.
__ADS_1
Roy pun melihat gadis itu, bahkan sampai tidak berkedip. Gadis itu terlihat cantik dengan pakaian yang dikenakannya. Kebaya berwarna putih serta make up yang tidak terlalu tebal hasil riasan tante Ingga.
Pengantin wanita itu kini duduk di samping sang pengantin Pria. Elena tertunduk, ia tak berani melihat ke arah Roy. Bahkan air matanya sudah menggenang karena harus menikah dari kesalahpahaman yang tak berujung.
"Tuan Roy?" panggil penghulu.
"I-iya, Pak," jawab Roy.
"Bisa kita mulai sekarang?" kata penghulu.
Roy menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Lalu ia meganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Tuan Bagas, kita mulai sekarang," kata penghulu itu pada om-nya Elena. Karena Bagas yang akan menjadi wali pengantin wanitanya. "Saksi sudah siap," sambung pak penghulu pada Andra sebagai saksi.
"Siap, Pak," jawab Andra.
"Saudara, Roy. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan keponakan saya yang bernama Elena Putri dengan mas kawin sejumlah uang 5 juta dibayar tunai." Bagas kembali menguncangkan tangannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Elena Putri binti Perwira dengan mas kawin sejumlah uang tersebut dibayar tunai," ucap Roy dengan lantang.
"Bagaimana, saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah," jawab Andra dan yang lainnya.
Ibu Rahma nampak sumringah setelah melihat putranya bisa menikah, ia takut kalau anaknya itu akan menjadi bujang lapuk.
__ADS_1
"Alhamdulilah." Pak Penghulu membacakan doa setelah ijab qobul selesai.
Karena semua sudah selesai, kini Elena mencium punggung tangan Roy yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Tangannya begitu dingin, Roy menyadari akan hal itu.
"Maafkan aku, Elena," batin Roy.
Penghulu dan pak rt pun pamit dari sana. Tinggal Andra dan Nindya yang masih berada di sana. Saat Elena hendak berdiri, tubuhnya terasa limbung. Ia tak lagi bisa menahan beban tubuhnya, saat itu juga ia tak sadarkan diri.
Semua panik karena Elena jatuh pingsan, Roy begitu sangat khawatir. Bagaiman pun, kini wanita itu sudah menjadi istrinya. Elena sudah menjadi tanggung jawabnya.
Dengan segera, Roy membopong tubuh langsing itu.
"Bawa ke kamar saja, Roy," kata Bagas. Pria itu memberi arah letak kamar Elena.
Roy merebahkan tubuh istrinya di tempat tidur dengan secara perlahan.
"Tidak panggil dokter saja, Om?" tanya Roy.
"Tunggu sadar saja dulu, kalau masih begini kita panggil dokter," jawab Bagas.
Setelah itu, Andra menghampiri Roy. "Sabar ya, Roy. Dokter Elena hanya kelelahan."
"Semoga saja," ucap Roy.
Karena tidak ingin mengganggu, Andra dan istrinya pamit. Karena mereka akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Nindya yang semakin hari semakin terlihat bentuk perutnya.
__ADS_1
"Roy, aku dan istriku pamit dulu," kata Andra.
"Iya, Tuan."