Gelora Cinta Sang Majikan

Gelora Cinta Sang Majikan
Episide 47


__ADS_3

Adam kembali masuk ke dalam mobilnya, ia siap untuk menjadi sebagai pembalap lihai lagi. Ia tak ingin kehilangan kekasihnya itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ini karena Morano yang berniat memisahkannya? pikir Adam.


* * *


Sebelum kepergian Aileen.


"Aileen, Papa sudah siapkan tiket untuk kita berangkat ke Swiss," kata Morano.


"Swiss? Kenapa mendadak? Perceraianku saja belum mulai, kenapa kita pergi ke Eropa tiba-tiba?"


"Ini soal pekerjaan Papa di sana, bukankah kamu akan ikut ke luar negri bersama Papa?"


"Ta-tapi-."


"Untuk urusan sidang kamu tidak perlu khawatir, itu bisa diurus oleh pengacara bukan? Siap-siap saja, perutmu sudah agak baikan 'kan?" tanyanya kemudian. "Jangan membantah, ini juga demi kebaikanmu. Namamu sudah jelek di sini, kalau tidak ikut dengan Papa kamu mau sama siapa di sini? Kamu tidak bisa mengandalkan pria itu, untuk hidupnya saja dia susah."


Aileen tidak bisa membantah apa kata sang ayah, benar apa kata Morano. Namanya sudah jelek di sini, ia sudah mempermalukan dirinya juga orang tuanya.


"Aku bantu siapkan barang-barang yang akan dibawa," ucap Lidia.


Aileen tak menjawab, ia hanya duduk menunggu Lidia sampai selesai membereskan barang-barangnya. Tak lama kemudian, ibu tirinya sudah selesai dengan aktivitasnya.


Morano membantu anaknya berjalan menuruni anak tangga, meski luka jahitan itu sudah mengering, tapi masih menyisakan sakit di sana.


"Maafkan aku, Adam. Aku harus pergi, carilah kebahagiaanmu," batin Aileen seraya melihat rumah orang tuanya, banyak kenangannya di sana bersama Adam. Meski orang tuanya tak menyetujui hubungannya dengan Adam, tapi pria itu sering datang ke rumahnya karena Aileen sering sendirian di sana.


Morano sering pergi ke luar negri soal urusan bisnisnya, dan mungkin sekarang akan menetap di sana pasca pernikahannya yang hanya sebulan saja. Dan mereka pun akhirnya pergi ke Bandara.


* * *


Adam tak bisa mencari keberadaan Aileen sendirian, ia putuskan untuk meminta bantuan pada Roy. Karena ia pikir Roy bisa membantunya.


"Roy, aku minta bantuanmu. Bisakah kamu suruh anak buahmu untuk mencari Aileen, dia pergi, Roy. Aku tidak tahu kemana mereka pergi, yang jelas mereka pergi ke luar negri," ucap Adam panjang lebar lewat sambungan telepon.


"Ok, aku akan membantumu," jawab Roy.


"Ada apa, Roy?" tanya Andra yang penasaran.


"Aileen pergi, katanya ke luar negri. Adam tidak tahu kemana mereka pergi," jawab Roy. "Apa Tuan tahu kemana mereka pergi? Atau tempat yang sering mereka kunjungi."


"Swiss, Morano punya bisnis di sana."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menyuruh beberapa anak buahku untuk mencegah kepergian mereka."


"Iya, Roy. Kasihan Adam, dia memang butuh bantuan."


Karena hari semakin siang, Andra putuskan untuk keluar dari kantor. Ia akan pergi kepersidangan untuk mengurus perceraiannya.


Di Bandara.


Adam sudah sampai di sana, tapi kemana ia harus mencari? Penerbangan apa yang diambil Aileen dan orang tuanya.


"Sial," rutuk Adam yang tak berhasil melihat keberadaan mereka. Lalu, ia kembali menghubungi Roy. Apa anak buahnya sudah sampai di Bandara apa belum?


"Roy, apa anak buahmu sudah sampai?"


"Sudah, aku sudah mengerahkan mereka ke Bandara. Kamu pergi kepenerbangan Swiss, mereka pergi ke sana. Bahkan aku sudah mengecek daftar-daftar nama penumpang, cepatlah! Penerbangannya setengah jam lagi."


"Terima kasih, Roy." Adam mengakhiri panggilannya, ia langsung menuju gerbang tujuan Swiss.


Sedangkan Aileen, ia tengah duduk di dekat lokcet. Ada pengumuman bahwa penerbangan ditunda satu jam lagi, karena cuaca yang tidak memungkinkan. Cuaca hari ini memang sedikit buruk, awan mendung seperti akan turun hujan lebat.


"Ai, Papa ke toilet sebentar. Kamu tunggu saja dulu di sini," pamit Morano.


"Aku juga ke toilet 'lah kalau begitu," kata Lidia.


Morano dan Lidia pergi ke toilet, sedangkan Aileen, ia berjalan sendirian menuju ke dalam. Saat ia sedang berjalan, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat itu juga. Ia membalikkan tubuhnya, terus mengarahkan pandangannya kesekitar. Tapi ia tak melihat orang yang dikenalnya, banyaknya orang berlalu lalang membuatnya tak tahu siapa yang memanggilnya. Tapi jika didengar, suara itu merasa tak asing dipendengaran. Namun, ia menepis itu. Tidak mungkin Adam yang datang, bahkan pria itu tak tahu akan kepergiannya.


Namun saat itu juga, Aileen menghilang dipandangan Adam. Padahal, Aileen sudah di depan mata. Tapi kemana wanita itu pergi? Adam terus mengedarkan pandangannya ke setiap arah, tapi hasilnya nihil.


Aileen benar-benar menghilang, Adam mencoba masuk ke dalam. Ia yakin kalau wanita itu sudah masuk ke dalam sana. Tapi Adam tidak bisa masuk karena tak memiliki pasford.


"Maaf, Tuan. Anda tidak bisa masuk," cegah security.


"Tapi saya harus masuk, Pak. Saya harus mencegah kepergiannya."


"Maaf, Tuan. Sebaiknya Anda pergi, atau saya akan mengusir Anda dengan cara paksa!"


Mau tak mau, Adam pun mengalah karena ia tak ingin membuat keributan. Ia berjalan dengan gontai, kini ia benar-benar kehilangan wanitanya.


"Ya, Tuhan ... Aku memang tak berguna!"


* * *

__ADS_1


"Bos, saya sudah berhasil membawanya. Bawa kemana wanita ini?" tanya orang itu pada bos yang sudah menyuruhnya lewat telepon.


"Bawa saja ke rumah, tempat tinggalnya dulu," jawab orang itu.


Panggilan pun berakhir.


Adam kembali ke kantor, ia merasa menjadi manusia paling bodoh. Mencegah kepergiannya saja ia tak bisa.


"Kamu kenapa, Dam?" tanya Roy. "Gimana? Apa kamu berhasil menemukannya?"


"Dia sudah pergi, Roy. Aku benar-benar kehilangannya sekarang, bukan hanya dia yang pergi dari hidupku. Aku kehilangan anakku juga, Roy." Adam tak bisa lagi membendung air matanya.


Bagaimana ia hidup tanpa orang yang di cintainya, ia berjuang pun untuk apa? Rasanya semua ini sia-sia.


"Eh, mau kemana?" tanya Roy saat melihat Adam membalikkan tubuhnya sambil berjalan menuju luar kantor.


"Aku pulang saja, Roy."


"Segitu doang perjuanganmu mencari wanitamu, terus, kamu mau berhenti dari pekerjaanmu begitu?"


"Tidak ada yang bisa aku lakukan kalau dia tidak ada, Roy."


"Cemen! Kalau dia tidak ada kamu harus tetap bekerja. Ayok antar aku ke rumah tuan Andra yang dulu."


"Mau apa ke sana?"


"Disuruh ambil file."


Karena sudah terikat kontrak, Adam pun akhirnya pergi bersama Roy. Di perjalanan, Adam seperti mayat hidup. Ditanya Roy pun kadang nyahut kadang tidak. Roy memaklumi itu.


"Cinta memang membutakan semuanya, makanya aku sudi jatuh cinta," celetuk Roy.


"Suatu saat kamu pasti merasakan kehilangan, Roy," timpal Adam.


"Aku pernah merasakan itu, makanya sampai sekarang aku tidak mau kenal yang namanya cinta. Cinta bikin sakit."


Obrolan terus berlanjut meski jadi tak karuan arah obrolan mereka, Roy sengaja untuk menghibur Adam. Dan akhirnya mereka pun sampai di rumah lama Andra.


"Kamu saja yang ambil file itu, file-nya ada di kamar atas," suruh Roy.


Adam pun akhirnya pergi ke kamar utama Andra di sana.

__ADS_1


Deg


__ADS_2