
Anye memukul pundak Andra dengan gemas, gereget rasanya ingin mencubitnya.
"Sakit, Mom," keluh Andra.
"Mommy yang lebih sakit, kamu tega menyembunyikan ini semua dari Mommy, hmm." Ucapnya sambil mencubit pipinya. Bagi Anye, Andra adalah anak kecilnya yang sangat nakal.
"Mommy tidak marah?" tanyanya sedikit ragu.
"Tidak marah katamu? Mommy kecewa karena Mommy tidak bisa melihat dihari bahagiamu."
"Maafkan aku, Mom. Bukankah Mommy yang mengajarkanku untuk menjadi pria bertanggung jawab," jelas Andra.
Sedangkan Nindya hanya bisa menjadi pendengar setia di belakang Anye.
"Oh ya, kenapa tidak mengakui anak yang dikandung Aileen kalau kamu pria yang bertanggung jawab?" tanya Anye seraya meledek anaknya itu.
"Ish, Mommy. Apa Mommy ingin memiliki cucu yang bukan darah dagingku?"
Nindya yang mendengar pun terkejut dengan mata membulat akan kehamilan Aileen.
"Jangan menatapku seperti itu, itu bukan anakku," kata Andra pada Nindya karena wanita itu melihat padanya karena tak percaya bahwa istri pertamanya tengah hamil.
"Kamu mencintainya?" tanya Anye. "Sejak kapan memiliki perasaan padanya?" sambungnya lagi soal cinta putranya pada Nindya.
"Sejak pertama kali bertemu," jawab Andra. Andra pun mendekat ke arah Nindya dan meraih tangannya untuk di genggam, lalu mengecupnya.
Nindya sangat malu karena itu, bahkan wajahnya nampak memerah. Dan Andra melihat piring yang masih utuh dengan makanannya.
"Kamu pasti belum makan, iya 'kan?" tanya Andra, lalu menatap istrinya.
"Dia menunggumu datang, dan baru mau makan jika kamu ada," celetuk Anye sambil meledek menantunya.
"Apa itu benar?" tanya Andra.
"Si-siapa bilang? Mana mungkin aku begitu, aku hanya tak berselara," kilah Nindya.
Tak lama dari situ, Andra menghubungi salah satu anak buahnya. Ia meminta makanan untuk diantarkan ke apartemen, tentu ia bukan menyuruh Roy karena lelaki itu sedang mendapat tugas darinya. Yakni, mengurus Aileen juga Adam.
"Ndra, Mommy pulang ya? Jaga istrimu, Mommy takut Aileen berbuat nekat pada istrimu. Mommy akan membantumu untuk membicarakan masalah ini dengan orang tua Aileen, semoga mereka bisa menerima kalau anaknya yang salah."
"Terima kasih, Mom. Mommy memang wanita terhebatku." Andra memeluk wanita paruh baya itu dengan erat.
__ADS_1
"Bahagiamu, bahagia Mommy juga." Anye mengusap lembut punggung putranya sambil melihat ke arah menantunya yang tersenyum padanya. "Baiklah, Mommy pergi kalau begitu. Nindya, kamu baik-baik di sini. Jangan keluar tanpa sepengetahuan kami," pesan Anye pada menantunya.
"Iya, Mom," jawab Nindya.
Dan akhirnya, Anye meninggalkan apartemen dan meninggalkan pasutri itu. Setelah kepergian Anye, kerinduan yang tak tertahan antara Andra dan Nindya pun berakhir dengan sebuah pelukan yang hangat.
"Bagaimana ceritanya bisa sampai di sini?" tanya Andra pada istrinya.
"Aku kira aku diculik, lihatlah." Tunjuknya pada ponsel jadulnya yang berserakan di lantai.
"Apa itu?"
"Ponsel tidak berguna," jawabnya sambil tersenyum kecut. "Dia tidak mau aku menghubungi, ponsel itu mati," jelas Nindya.
"Karena tak berguna lalu kamu membantingnya? Lucu sekali."
"Apanya yang lucu?" tanyanya dengan cemberut. "Apa kamu meledek ponsel jadulku, hah?"
Andra semakin tertawa dibuatnya, baru kali ini ia melihat istrinya begitu kesal.
"Aku akan mengganti ponselmu lebih bagus dari itu," bujuk Andra agar Nindya tak lagi kesal.
"Lalu?"
"Laper, mau makan," rengek Nindya.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Nah, itu pasti makanan sudah datang. Tunggu di sini biar aku yang menemuinya." Andra beranjak dan menemui orang yang datang. Dan benar saja, orang suruhannyalah yang datang untuk memberikan pesanan makanannya.
Andra menutup pintu kembali sambil membawa beberapa paper bag di tangan.
"Sini, biar aku yang menyiapkan semuanya." Nindya hendak mengambil paper bag itu, namun Andra tak memberikannya.
"Biar aku yang menyiapkan semuanya, kamu tunggu dan duduk manis saja di sini." Sebelum Andra menyiapkan semuanya ia mengecup bibir istrinya sekilas.
Terkejut, Nindya hanya membulatkan matanya karena masih tak percaya bahwa kini ia tengah bersama suaminya. Sementara Andra, pria itu langsung pergi ke dapur untuk melakukan tugasnya. Dan Nindya menunggu dengan setia.
"Tara ... Makanan sudah siap." Ucap Andra sambil meletakan piring di atas meja. "Makan ya?" kata Andra. "Aku suapi."
Bahagianya Nindya saat ini, ini semua seakan mimpi baginya. Dengan lahap ia memakan makanan itu, sampai beberapa saat ia menjeda tangan suaminya. "Aku sudah kenyang," tolaknya.
__ADS_1
Karena sudah terlanjur, Andra pun memasukkan sendok itu ke dalam mulutnya sendiri. Malam ini malam yang penuh bahagia untuk mereka, meski masalah belum selesai, tapi mereka yakin kalau kalau cinta mereka bisa bersatu.
Makan pun telah usai. Andra mengajak istrinya mengobrol beberapa saat. Mereka meyakinkan akan pernikahannya itu, tak ada yang tidak mungkin. Semua akan indah pada waktunya.
"Bagaimana dengan Daddy dan Nona Aileen?" tanya Nindya yang masih belum yakin dengan mereka. Nindya tahu siapa Wiliam, apa pria itu akan menerimanya sebagai menantunya? Jika dibandingkan dengan Aileen ia jauh kalah dari segi mana pun.
"Yakinlah, Mommy pasti meluluhkan hati Daddy. Cepatlah mengandung anakku agar Daddy bisa menerima pernikahan ini, dia pasti menerimamu jika sudah memberikannya cucu."
Wiliam begitu mendambakan hadirnya pewaris di keluarganya, sampai ia di butakan oleh Aileen akan kehamilannya.
Hingga malam semakin larut, kedekatan mereka menciptakan sesuatu yang bergelora dalam diri Andra. Rasa cinta yang begitu besar membuatnya ingin selalu bersama Nindya, apa pun yang terjadi mereka akan selalu tetap bersama. Ia siap menghadang ketika badai datang menerpanya.
Dekat dan semakin dekat hingga mereka menautkan bibir dan memberikan sensasi liar di bawah sana. Andra langsung saja membopong tubuh istrinya ala bridal style tanpa melepaskan tautan bibirnya. Hingga terjadilah malam yang begitu bergelora di antara mereka.
Hingga keduanya mencapai pada puncaknya, sampai mereka terlelap bersama dengan rasa nikmat yang baru saja telah usai.
* * *
Sedangkan Roy, pria itu langsung menuju rumah yang di tempati Aileen setelah mendapatkan tugas dari bosnya. Sesampainya di sana kebetulan pria yang dicari berada di sana.
Adam memang berniat menemui Aileen. Setelah tahu wanita itu hamil ia ingin bertemu dan ingin tahu akan kehamilannya. Ingin memastikan bahwa anak yang dikandungnya adalah anaknya.
"Tuan Adam?" panggil Roy.
Adam pun menoleh.
"Roy," ucap Adam.
"Kebetulan sekali bertemu di sini, bantu saya membawa Nona Aileen ke rumah sakit."
"Ada apa dengannya, Roy?"
"Nona Aileen pingsan," jawab Roy.
Setibanya di dalam, Roy dan Adam membopong tubuh Aileen dan dilarikan ke rumah sakit.
* * *
"Sus, suster?" teriak Adam. Adam begitu nampak khawatir akan Aileen, bagaimana pun wanita itu sudah menjadi bagian dalam hidupnya.
Aileen segera ditangani oleh dokter spesialis kandungan. Adam meminta kejelasan akan kehamilan Aileen dengan usia kandungannya, semoga dengan begini Aileen tak lagi bisa mengelak akan anak siapa yang dikandungnya.
__ADS_1